Mohon tunggu...
Sam Sirken
Sam Sirken Mohon Tunggu... Jurnalis - Veritas Lux Mea

I'm a journalist for about 10 years experience. I'm working in harian PAPUA BARAT NEWS and www.papuabaratnews.co. You can contact me at semisirken@gmail.com. Thank you

Selanjutnya

Tutup

Inovasi Pilihan

Nobel Perdamaian untuk Jurnalisme

9 Oktober 2021   07:57 Diperbarui: 9 Oktober 2021   10:11 272
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Komite Nobel Norwegia pada tahun ini memutuskan memberikan hadiah Nobel Perdamaian kepada dua jurnalis: Maria Ressa dari Filipina dan Dmitry A. Muratov dari Russia. Keduanya adalah pemimpin redaksi dan pendiri media independen di negaranya masing-masing.

Kedua jurnalis ini dianugerahi nobel perdamaian karena "keberanian untuk memperjuangan kebebasan berekspresi, yang merupakan prasyarat bagi demokrasi dan perdamaian abadi."

"Mereka adalah perwakilan dari semua jurnalis yang membela cita-cita ini di dunia di mana demokrasi dan kebebasan pers menghadapi kondisi yang semakin buruk," kata komite itu dalam sebuah pernyataan yang dirilis setelah pengumuman di Oslo, Jumat (8/10/2021).

Maria Ressa di kantor redaksi Rappler di Pasig city, Metro Manila, pada tahun 2018. [Jes Aznar for The New York Times]
Maria Ressa di kantor redaksi Rappler di Pasig city, Metro Manila, pada tahun 2018. [Jes Aznar for The New York Times]

Maria Ressa adalah Pendiri dan Pemimpin Redaksi Rappler. Dulu media ini punya edisi bahasa Indonesia dan sempat meramaikan jagat media di sini. Ressa juga dinobatkan sebagai Person of the Year majalah Time pada tahun 2018 atas kerja kerasnya melawan disinformasi -- yang telah menjadi duri di pemerintahan Presiden Rodrigo Duterte. Sayangnya, ijin Rappler kemudian dicabut pada awal 2018.

Penyebabnya tidak lain adalah karena Rappler dengan berani mengungkap korupsi di pemerintahan dan kempemilikan modal serta potensi konflik kepentingan sejumlah tokoh politik terkemuka di negara itu. Dia juga membuka kebobrokan "perang melawan narkoba" yang dilancarkan oleh Presiden Duterte. Perang ini memakan kira-kira 30,000 nyawa dan korban-korbannya adalah rakyat kecil yang tidak bisa membela diri.

"Jumlah kematian sangat tinggi sehingga kampanye itu menyerupai perang yang dilancarkan terhadap penduduk negara itu sendiri," kata komite itu.

"Maria Ressa dan Rappler juga telah mendokumentasikan bagaimana media sosial digunakan untuk menyebarkan berita palsu, memfitnah lawan politik, dan memanipulasi opini publik."

Maria Ressa adalah wanita ke-18 yang memenangkan anugerah Nobel Perdamaian dalam 120 tahun sejarahnya. Berbicara di platform Facebook Live Rappler, Ressa mengatakan dia berharap penghargaan itu adalah "pengakuan betapa sulitnya menjadi jurnalis saat ini."

"Ini untukmu, Rappler," katanya. Ia menambahkan bahwa dia berharap "ini jadi energi bagi kita semua untuk melanjutkan pertempuran demi fakta."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Inovasi Selengkapnya
Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun