Mohon tunggu...
Samsul Maarif
Samsul Maarif Mohon Tunggu... Nature and Culture

Nature and Culture

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Dana Filantropi Bisa Atasi Banjir

16 Januari 2020   11:36 Diperbarui: 16 Januari 2020   11:46 11 1 0 Mohon Tunggu...

Banjir awal tahun 2020 menjadi salah satu bencana paling parah yang melanda Jakarta dan wilayah sekitarnya sejak beberapa tahun belakangan. Meskipun pada dasarnya banjir merupakan bencana rutin tahunan yang dihadapi Jakarta, dampak yang ditimbulkan saat ini dirasa paling luas dan paling merusak, menimbulkan korban jiwa paling banyak, dan membawa kerusakan harta benda yang tidak sedikit.

Respon tanggap bencana dan respon kemanusiaan pun mengalir. Bantuan datang dari berbagai pihak mulai dari pemerintah, ormas, lembaga kemanusiaan, dan lembaga-lembaga filantropi yang memiliki program tanggap bencana. Pekerjaan prioritas pada fase tanggap bencana umumnya evakuasi korban dan menyediakan kebutuhan-kebutuhan primer terutama makanan. 

Respon lembaga-lembaga filantropi dalam memberikan pertolongan dan bantuan terhadap korban banjir layak diacungi jempol. Mereka bekerja cepat dan menjangkau tempat-tempat relatif sulit seperti daerah dengan ketinggian air yang parah. 

Beberapa hadir dengan peralatan lumayan lengkap seperti perahu karet hingga mobil doble cabin untuk evakuasi. Ada juga yang mendistribusikan makanan langsung ke rumah-rumah warga yang terendam, ada yang membuka posko dan menyediakan fasilitas kesehatan di lapangan. 

Dari sisi korban terdampak, kehadiran kawan-kawan pegiat filantropi beserta para relawannya mampu menolong dan meringankan penderitaan. Dari sisi pemerintah, ini dapat dianggap sebagai sumbangan positif masyarakat sipil membantu pemerintah menangani masalah yang boleh jadi tidak dapat diselesaikan oleh pemerintah sendirian di tengah keterbatasan tenaga, peralatan, maupun anggaran. 

Ada sejumlah faktor mengapa peran dunia filantropi sangat penting dan tak dapat diabaikan dalam penanganan banjir Jakarta. Pertama, potensi penggalangan dana publik itu sendiri yang saat ini sangat besar dan diperkirakan potensinya semakin naik dari tahun ke tahun. Kedua, kemudahan akses dan cara orang menyumbang saat ini semakin mudah. Sudah banyak inovasi yang dikembangkan sehingga memudahkan siapa saja untuk menyumbang. 

Ketiga, budaya menyumbang di kalangan milenial ternyata juga sangat tinggi. Rilis sebuah lembaga filantropi yang pernah penulis hadiri mengungkapkan, dari segi umur, rentang usia para penyumbang ternyata banyak dari kisaran usia antara 25-35 tahun. Artinya, berderma saat ini bukan lagi semata urusan orang tua dan mereka yang secara finansial sudah sangat mapan.    

Di tengah polemik penanganan banjir Jakarta serta untuk lebih mengedepankan sinergi antara pemerintah dan masyarakat sipil, dunia filantropi ke depan bisa menjadi aktor penting yang potensinya harus terus digali dan dimaksimalkan lagi guna penanganan banjir jangka panjang. 

Program-program inovatif bisa terus dikembangkan tidak sebatas kegiatan karitatif/respon jangka pendek, tetapi juga menyentuh strategi penanggulangan dari hulu ke hilir. Dengan semangat gotong royong dan kolaborasi semua pihak tujuan ini Insya Allah bisa kita capai.    

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x