Mohon tunggu...
Elang Salamina
Elang Salamina Mohon Tunggu... Freelancer - Serabutan

Ikuti kata hati..itu aja...!!!

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Misteri Dalang Malam Durjana dan Lonceng Kematian Soepardjo, Jendral Pendukung G30S

23 September 2020   20:58 Diperbarui: 23 September 2020   21:15 25120
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Lonceng Kematian Soepardjo

Jika sampai saat ini masyarakat masih dibingungkan dengan apa dan siapa di balik peristiwa gerakan 30 September, tidak halnya dengan apa yang terjadi setelah terjadinya peristiwa malam Jumat durjana dimaksud. 

Ya, sejarah mencatat, pasca peristiwa penculikan dan pembunuhan enam jendral dan satu perwira pertama untuk kemudian disebut Pahlawan Revolusi tersebut, petinggi dan kader-kader PKI berikut sayap partainya diburu, ditangkap dan kemudian dibunuh oleh TNI dan kelompok Islam. Setidaknya tercatat dalam sejarah tak kurang dari 500.000 jiwa dibantai. 

Adapun para petinggi-petinggi PKI sebagian ada yang terlebih dahulu ditangkap, untuk kemudian dieksekusi mati setelah dilakukan pengadilan di Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub). Sementara ada juga yang dibunuh tanpa melalui proses peradilan. Contohnya DN Aidit. 

Sementara tokoh-tokoh sentral PKI yang berhasil ditangkap dan diproses peradilan kemudian dieksekusi mati, diantaranya Letnan Kolonel (Letkol) Untung Syamsuri, Syam Kamaruzaman dan Brigadir Jendral Supardjo. Mereka harus meregang nyawa setelah ditembus timah panas oleh pasukan penembak khusus. 

Tapi, ada juga yang dalam proses peradilan diputuskan hukuman mati. Tapi dalam perjalanannya hanya dihukum seumur hidup, dia adalah Soebandrio. 

Nah, dari sekian banyak pentolan PKI yang berhasil ditangkap dan kemudian dieksekusi mati, penulis tertarik untuk sedikit mengulik tentang sosok Brigjend Supardjo. Jabatan dia waktu terjadi peristiwa tersebut adalah Komandan TNI Divisi Kalimantan Barat. 

Sama dengan yang lainnya, pasca peristiwa gerakan 30 September 1965, Soepardjo pun menjadi buronan. Dia terus diburu, hingga akhirnya tertangkap 10 Januari 1967. Kemudian dia pun dihadapkan pada peradilan Mahmilub. Hasilnya adalah dihukum mati. 

Namun, sebelum menjalani hukuman mati dari regu tembak, ada hal menarik dari apa yang dilakukan Soepardjo selama dalam sel tahanan. Dia ternyata seorang Jendral yang sangat bersahaja. 

Dikutip dari Merdeka.com, ditahan di Rumah Tahanan Militer Cimahi. Banyak tahanan lain yang terkesan dengan sikapnya selama di tahanan. Sebagai jenderal, dia tak mau diistimewakan. Kalau dikirimi makanan, selalu dibagi rata untuk tahanan lain. 

Saat keluarganya datang menjenguk untuk terakhir kali, Soepardjo memberikan sepasang sepatu. "Bapak tak bisa memberi apa-apa. Cuma sepasang sepatu ini untuk kenang-kenangan," kata Soepardjo. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun