Mohon tunggu...
Elang Salamina
Elang Salamina Mohon Tunggu... Serabutan

Ikuti kata hati..itu aja...!!!

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Risma Sujud, Layakkah Jadi Presiden?

30 Juni 2020   17:32 Diperbarui: 30 Juni 2020   23:14 87 10 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Risma Sujud, Layakkah Jadi Presiden?
Tempo.co

WALIKOTA Surabaya, Tri Rismaharini atau akrab disapa Risma digadang-gadang sebagai sosok pemimpin daerah yang layak diusung pada pemilihan presiden (Pilpres) 2024.

Asumsi ini semakin kuat, saat perempuan kelahiran 20 November 1961 ini selalu masuk dalam radar lembaga-lembaga survey nasional. Meskipun hasil rating elektabitasnya masih kalah oleh pimpinan daerah lainnya, seperti Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan; Gubernur Jawa Tengah Ganjar, Pranowo; maupun Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil.

Meski demikian, tetap saja masuknya Risma dalam radar kepemimpinan nasional patut diapresiasi. Ingat, Kapasitas Risma ini hanyalah sebagai pimpinan setingkat kabupaten/kota yang skup wilayahnya lebih kecil dibanding dengan provinsi.

Masuknya Risma dalam setiap lembaga survey para kandidat pada Pilpres 2024 tentu bukan semata-mata popularitas. Melainkan kinerja dan gaya kepemimpinannya selama menjadi Walikota Surabaya dianggap berhasil membawa perbaikan.

Risma dan Prestasi

Nama Tri Rismaharini, perempuan pertama yang menjabat sebagai Wali Kota Surabaya ini memang sudah tak asing lagi. Dia sebagai salah satu kepala daerah yang kerap mencuri perhatian publik

Sebut saja, dia ini tak segan marah-marah saat taman kota dirusak para pengunjung, mengatur padatnya lalu lintas hingga mencak-mencak pada jajaran di bawahnya jika dianggap tidak mampu menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik. Tak heran, jika banyak pihak menyebut, Risma adalah pemimpin tegas.

Ketegasan serta keseriusan dalam menjalankan amanahnya sebagai pemimpin ini pula yang mengantarkan Risma meraih banyak prestasi. Misal mampu membawa Kota Pahlawan menjadikan kota dengan taman yang indah.

Bukan hanya itu, Risma juga mampu menutup gang Dolly, sebuah tempat lokalisasi atau kawasan prostitusi di Surabaya.

Hal di atas hanyalah sebagian kecil dari prestasi yang pernah diraih oleh seorang perempuan bernama, Tri Rismaharini.

Masih banyak prestasi-prestasi lain yang jauh lebih membanggakan sekaligus membuktikan bahwa dia memang seorang pemimpin yang bekerja dengan penuh dedikasi.

Sebut saja, Risma pernah sukses membawa Kota Surabaya mendapatkan penghargaan Piala Adipura tujuh tahun berturut-turut, dari 2011 hingga 2017 dalam kategori Kota Metropolitan.

Risma juga pernah mendapatkan penghargaan Bung Hatta Anti Corruption Award 2015. Sebagai bentuk penghargaan terhadap sosok yang dinilai tegas dan bekerja keras dalam memerangi tindakan korupsi, yang sepertinya telah menjadi penyakit akut di tanah air.

Bahkan seperti dikutip dari Tribunnews.com, Risma juga pernah masuk dalam 10 wanita paling inspiratif pada 2013 hingga mendapat Ideal Mother Awards. Setahun kemudian, Risma juga menyabet penghargaan Mayor of The Month sebagai Wali Kota Terbaik.

Risma Sujud

Terlepas dengan segudang prestasinya, baik untuk kota yang dipimpin atau pribadi. Risma bukanlah sosok pemimpin super yang selalu mampu menyelesaikan masalah.

Sebagai contoh, dalam penanganan pandemi virus corona atau covid-19, Risma nyatanya belum mampu mengatasi dengan baik. Kota Surabaya belakangan menjadi sorotan tajam karena kasus pisitif oleh virus asal Wuhan, China ini sangat tinggi.

Sudah pasti, dengan kasus positif yang tinggi ini, sebagai Wali Kota, dia banyak dipersalahkan.

Bahkan karena terus merasa dipersalahkan itu, Risma sampai menangis dan bersujud dua kali di hadapan rombongan Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Seperti dikutip Kompas.com, peristiwa itu terjadi pada saat menggelar rapat audensi dengan IDI Surabaya dalam rangka membahas penanganan pandemi covid-19, di Balai Kota Surabaya, Senin (29/06/20).

Risma saat itu merasa disalahkan terus soal tingginya angka positif corona di Surabaya dan membuat Rumah Sakit Umum dr Soetomo overload.

Tak hanya itu, dokter tersebut merasa prihatin dengan kondisi warga Surabaya yang tidak disiplin ikuti protokol kesehatan di tempat umum.

"Tolonglah, kami jangan disalahkan terus. Apa saya rela warga saya mati? Kita masih ngurus pukul 03.00 pagi orang meninggal yang warga bukan Surabaya, kami masih urus itu," kata Risma.

"Kalau bapak nyalahkan kami (karena RSUD dr Soetomo penuh), kami enggak terima. Kami tidak bisa masuk ke sana," kata Risma.

Apa yang dilakukan oleh Risma pada kegiatan audensi kemari, Senin (29/06/20) menurut hemat penulis rasanya berlebihan.

Sebagai pemimpin yang dikenal tegas, mestinya dia sudah sangat siap secara mental jika memang ada pihak-pihak yang menyalahkan atau mengkritisi kebijakannya. Jangan malah menangis, apalagi sampai bersujud segala.

Penulis masih ingat, Risma pun sempat ingin mengundurkan diri dari jabatannya karena ditenggarai tidak tahan dengan tekanan politik yang menyerangnya.

Dari dua kejadian ini, penulis berpikir bahwa dibalik ketegasan dan sederet prestasinya, mental Risma boleh jadi belum sekuat pemimpin-pemimpin lain. Meski dikritik habis-habisan tetap saja cuek bebek. 

Boleh jadi pemimpin ini mentalnya memang sudah kuat dan tebal atau mungkin juga mukanya yang tebal. Entahlah.

Layak Dicalonkan Presiden?

Menangis dan bersujudnya Risma di depan IDI menjadi topik yang cukup ramai dibicarakan, baik di media massa maupun media sosial.

Tidak ada yang salah dengan menangis ataupun bersujud. Tapi jika alasannya karena tidak kuat terus dipersalahkan karena kekurang mampuannya mengatasi masalah yang ada, dalam hal ini terkait pandemi covid-19. Penulis jadi berpikir, Risma bukanlah sosok politisi yang bermental baja.

Ketika dia memang merasa terus dipersalahkan karena dianggap tidak atau belum mampu mengatasi masalah. Semestinya tidak usah menangis dan bersujud. Terima segala bentuk kritik tersebut, kemudian analisa dan perbaiki kesalahan. Itu baru seorang pemimpin yang kuat.

Jika, mental Risma masih rapuh serta tidak tahan dengan segala kritik, penulis merasa bahwa Wali Kota Surabaya ini tidak cukup pantas untuk diusung menjadi salah seorang kandidat pada Pilpres 2024.

Tentu saja bukan perkara dedikasi, ketegasan dan jiwa kepemimpinannya yang bekerja untuk rakyat. Untuk hal ini, Risma sudah tak perlu diragukan lagi.

Tapi perlu diingat, sebagai seorang presiden sudah bisa dipastikan bahwa tekanan politik, kritikan atau permasalahannya bakal jauh lebih besar dibanding hanya sebagai Wali Kota. Dengan begitu secara otomatis dibutuhkan mental yang juga jauh lebih besar.

Dan, penulis tidak melihat bahwa aspek kekuatan mental itu pada diri Tri Rismaharini.

Jadi, menurut pembaca, masih layakah Risma di calonkan menjadi presiden? Tentu saja para pembaca di luar sana memiliki opini dan jawaban masing-masing.

Salam



 

VIDEO PILIHAN