Mohon tunggu...
Salma Sakhira Zahra
Salma Sakhira Zahra Mohon Tunggu... Lahir di Jakarta, 28 Februari 2002. Alumni TK Putra III (2007/2008), SDSN Bendungan Hilir 05 Pagi (2013/2014), dan SMPN 40 Jakarta (2016/2017). Kini bersekolah di SMAN 35 Jakarta.

Nama : Salma Sakhira Zahra TTL : Jakarta, 28 Februari 2002 Agama : Islam Jenis Kelamin : Perempuan

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Tiga Bersaudara

1 April 2020   00:39 Diperbarui: 1 April 2020   00:41 31 3 0 Mohon Tunggu...

Angkasa, dia sedang berbicara pada yang memandangnya. Seolah angkasa tahu bahwa yang memandangnya mampu memahami maksud apa yang ia pandang. Ia tersentuh dan berjalan meninggalkan tempat ia memahami maksud angkasa.

Sebuah keluarga kaya raya yang memiliki anggota lima orang. Keseluruhan dikenal warga rumah adalah orang bersih dan gaul. Seorang ayah berpostur tinggi dan mahir bermain piano. Kegemarannya membuat cerita tentang berdagang hingga menjadi wirausahawan. Seorang ibu rupawan yang sudah memasuki kepala 4 namun tetap semangat menulis cerita lucu hingga senyumnya seperti bunga bermekaran karena profesi beliau sebagai penulis.

Kenalkan, dua malaikat yang sangat disayang anak-anak memiliki tiga anak yang tumbuh dengan kesamaan yang membuat warga dan mungkin sahabatnya melongo. Kesamaan mereka adalah melucu sampai membuat orang tertawa tanpa mengenal apakah menit itu masih bersamanya.

"Wake up!!!!" tawa hingga air liur keluar dari bibir seorang perempuan berambut panjang terurai yang bangun dari tidurnya. Suara kakak yang pandai bersuara lucu hingga tingkat 9 mungkin? Hahaha.

"Bangun, sudah pukul berapa Dik!" perempuan itu lanjut membangunkan adiknya yang lucu terpopulernya adalah menunjukkan rupa berbeda. Ya... walau kamar terbuka dan suasana biasa, perempuan itu tak tahan melihat keadaan adik yang tertutup selimut.

"Pukul... hei, pukul 6 pagi!"

"Sudah harum sandwich!"

"Terus?"

"Oh ya, kalian ingin jalan-jalan setelah sarapan?"

"Kemana Kak?" tanya adik yang setengah ceria.

"Hm... jalan-jalan keluar dari komplek saja!"

"Eh, Anti mana?"

Anti, perempuan yang kini memendam bakat namun tak tahu kapan ia akan mengeluarkannya. Ia sudah siap dengan pakaian olahraga dan duduk pertama kali di meja makan disusul ayah yang membaca buku tentang bisnis.

"Ti, kamu dengar percakapan Kakak dan Maliq bukan?" tanya Kak Difan kemudian meminum susu coklat hangat. Ia menatap Anti dengan sayang.

Anti menggeleng.

"Padahal aku mendengar!" batin Anti.

Tak lama suara ibu menahan tawa karena tahu karakter melucu Anti seperti apa.

Setelah sarapan, mereka bersiap keluar dengan sepeda dan berkeliling. Anti, ia menyukai pemandangan. Ya... pemandangan apapun. Tak peduli pemandangan berupa seperti surga atau neraka.

Maliq, daritadi memandang sepeda yang ia kemudikan. Rupa yang tadi terpoles bedak bayi sedikit luntur. Kak Difan, ia berusaha mengalihkan pandangan Anti.

"Kak, kenapa kita baru tahu ada taman disana?" tanya Maliq melihat sebuah taman yang sudah dibuka. Baru beberapa orang disana.

Kak Difan langsung mengarahkan Anti dan Maliq untuk memasuki taman dan duduk di kursi panjang. Mereka terdiam.

Maliq, ia yang tadi diam karena memandang sepeda sudah 2 menit menuliskan sesuatu di buku kecilnya. Kak Difan dan Anti masih diam memandang apa yang mereka lihat. Udara sejuk, tentu mendukung keingintahuan mereka.

"Hm... seru juga sepertinya!" Kak Difan, tiba-tiba berbicara. Anti, ia langsung berpikir untuk melakukan sesuatu yang tak ia duga akan menjadi kenyataan. Teringat buku hariannya yang harusnya diisi dengan sebuah akal atau perasaan, atau keduanya, malah diisi hal yang...

"Kau tahu..."

"Itu dirimu!" batin Anti yang tadi bernyanyi putus dengan kata tersebut.

Mereka mulai sibuk dengan alamnya. Iya masih dunia nyata kok. Maliq, masih terus menulis; Kak Difan, yang berputar mengelilingi bangku panjang hingga kini putaran keempat; dan Anti masih berpikir tentang isi buku hariannya.

---

"Mal!" panggil ayah tiba-tiba. Maliq menghampiri ayah yang sibuk memainkan piano.

"Kau baca buku di kamar ayah ya!" Maliq mengangguk. Ia memasuki kamar ayah dan melihat tumpukkan buku tentang dunia perdagangan. Ia membaca sebuah langkah awal untuk memulai perdagangan.

"Kau Mau Jadi Bagian dalam Dunia Dagang Kami?"

Iya, itu judul buku yang ada di tangan Maliq.

Maliq, ia memang gemar membaca sampai belum sadar kini pukul berapa. Ia sudah menyimpan banyak informasi dan ia mengucap banyak syukur karena diberi kemudahan dalam menggapai harapannya.

"Seorang yang ingin mencari dengan cara membahagiakan harus mengetahui kondisi dirinya dan pribadi ketika keluar dari dunia yang bukan miliknya..."

"Sang dagang harus tahu tentang apa yang ada di hadapannya. Tahu apa yang akan dipelajari dan berani melihat apa yang akan diraihnya..."

"Mal!" ayah masuk memegang lembaran kertas yang ia pandang dan duduk di tempat tidur.

"Yah, terimakasih banyak!" ucap Maliq tersenyum. Ayah membalas senyumnya. Rupa pria yang muda tersebut masih memandang ayahnya yang bersuara sangat kecil saat memandang lembaran kertas tersebut.

"Minta tolong masukkan lembaran kertas ke binder Ayah!" pinta ayah.

---

"Wih, kertas kosong banyak. Cocok nih buka percetakan foto copy!" canda Kak Difan masuk kamar setelah membersihkan keringat dan terlintas di benak untuk mengeluarkan semua bakat dan pengetahuan.

Dua kertas kosong diambil dan ia mengeluarkan alat yang dari dulu ia simpan. Mungkin saat ini tepat untuk menuangkan.

"Wa'alaikumussalam!" Kak Difan mengeraskan suara karena ia menyalakan pengeras suara pada ponsel pintar.

"Pasti buat komik?" tebak orang yang sangat dikenal Kak Difan.

"Tempe saja!"

"Tahu!!!" teriak orang tersebut.

"Eh, ada perusahaan komik baru buka. Mereka menerima komikus lepas. Siapa tahu itu kesempatan buatmu Fan!" Kak Difan tetap mengurat pada kertas kosong tersebut. Percakapan terus berlanjut hingga pukul 13 menit 12, hubungan terputus.

"Lima bagian selesai!" senang Kak Difan.

---

"Oh, novel itu bisa lebih dari 100 halaman!" ucap Anti melihat akhir halaman novel yang pertama kali ia baca saat mengenal novel di umur belianya yang keenam.

Kertas kosong telah berisi salinan gabungan buku harian Anti dan kini sudah sampai bagian sepuluh. Anti, masih berpikir apakah karyanya mampu seperti novel yang ia lihat?

Ibu, Anti teringat sosok tersebut. Ia pernah melihat deretan piala karena memenangkan perlombaan menulis walau sudah berstatus ibu yang memiliki 3 anak. Anti, ia kagum, namun kekagumannya kini melebihi seorang Anti. Anti, ia ingin membanggakan dirinya dan mungkin, sebuah hal yang sangat kecil akan ia gapai.

Ia membaca dahulu karya tulisnya yang sudah selesai 10 bagian dan meyakinkan diri untuk lanjut ke bagian berikutnya. 10 bagian, baik, masih bisa dilanjutkan.

"Keluarga Pak Atthariq sudah lama tak terlihat!" seru warga yang lewat di depan rumah bertingkat dua dengan cat rumah berwarna oranye.

"Iya, biasanya mereka keluar untuk ikut ibadah Shalat Isya!"

"Oh ya, kabar sahabat Anti bagaimana? Kok seperti memikirkan Anti?"

"Satu lagi, sahabatnya biasanya menghafal satu surah pendek dahulu sebelum keluar dari masjid!"

Warga yang keluar dari masjid tadi terus memikirkan keluarga Pak Atthariq, ya, keluarga tiga bersaudara tersebut.

"Eh, maaf, aku belum ikut Shalat Isya di masjid. Alhamdulillah sudah shalat di rumah!"

"Iya Ti, tak apa. Semangat!"

"Iya terimakasih!"

"Oh ya, suaramu seperti kucing minta makan!" tak lama sahabatnya tertawa karena melucu seorang Anti.

"Hm... Dew, menurutmu, aku melucu seperti itu sudah membuatmu bahagia?" Dewi, sahabat Anti dari kecil termangu.

"Kau kan memang lucu Ti!"

Kak Difan, sosok pengertian itu muncul di hadapan adik-adiknya membawa koran komik.

"Komik Kakak diterima!"

"Alhamdulillah!" syukur Anti dan Maliq.

Anti, ia tersenyum sambil berpikir tentang nasib karya tulisnya. Maliq, penampilannya sudah sedikit berubah bukan seperti usianya.

"Dapat apa Kak?"

"Dapat yang didapatkan Ayah dan Mama!" Maliq bertepuk tangan. Dua malaikat itu sudah tahu tentang kabar gembira anak yang sering membangunkan adiknya dengan suara lucu.

---

Anti, kini ia menjadi remaja SMA yang digandrungi remaja sebaya karena kelihaiannya menggabungkan sebuah hal yang membuat orang tertawa dengan pengetahuan yang dipandang orang sangat tegar menghadapinya.

"Kau Shaliha Anti Rahman?" tanya pria seusianya yang jauh dari kata tampan. Ia, dalam pandangan wanita seusia Anti, ia pria imut.

Anti mengangguk sambil tersenyum dan itu membuat pria yang di hadapannya tertawa.

"Anti lucu seperti novelnya!" Anti tersenyum, ia bersyukur novel ke sepuluhnya telah terbit. Kedua orangtuanya belum tahu bahwa saldo di rekeningnya bukan seperti yang pria berpostur tinggi itu masukkan. Anti, ia harus terus berhadapan dengan banyak remaja SMA.

"Oh ya, boleh minta tanda tangan?" Anti mengangguk dan menggores tanda tangan di halaman depan novelnya. Pria itu langsung lari. Anti kembali masuk sekolah dan istimewa, setelah bel masuk sekolah berbunyi.

"Hah, seriuskah? Kau jual buku tentang teknologi?"

"Tak berisi teknologi, bila ada yang ingin berwirausaha dengan cara ini, pasti bisa!" terang Maliq percaya diri. Rupa itu masih belum berubah walau sudah berseragam putih-biru.

Maliq, ia memang penulis dan pewirausaha. Selain berwirausaha menjual buku hasil karyanya, ia juga menjual makanan yang digandrungi remaja saat ini mulai makanan umum hingga kreasi seorang Maliq.

Maliq sama dengan Anti, kedua orangtuanya belum tahu tentang perkembangan Maliq. Ya, mereka tergolong sibuk dengan pekerjaan ditambah sang ayah adalah pianis dan komponis yang selalu sibuk dengan penggemarnya.

"Anti!" panggil ibunya dalam telepon.

"Iya Ma?" Anti kini masih di sekolah, menunggu kedatangan seorang sahabat kecilnya yang kini satu sekolah dengannya.

"Kenapa kamu tidak memberitahu Mama kalau kamu sudah berprestasi?" Anti terdiam.

"Novel kamu di tangan mama lho. Tadi mama ada kesempatan ke toko buku dan lihat nama kamu di sebuah buku. Apalagi bukunya masuk ke rak best seller!" Anti tersenyum. Ia berharap bahwa harapan dahulunya berbuah seperti buah yang enak bila dimakan.

"Anti, mama bangga. Terus semangat dan berkarya Sayang!" Anti mengangguk dan mama menutup telepon.

---

"Assalamu'alaikum!" belum ada jawaban, hanya suara terbahak dari sang ayah yang kini suaranya sedikit menjadi bapak.

"Anak kita buat novel komedi dan terbit. Ayah harus tahu, mama tiap melihat kata demi kata Anti ingin terta..."

Ayah masih tak berhenti tertawa apalagi koleganya iseng menekan tuts piano untuk menyadarkan seorang ayah yang di hadapan kolega tersebut sangat berkarisma.

"Ya Allah, Ayah baru baca satu bab dari novel Anti sudah tertawa, tambah komik pendek Kak Difan baru terbit semakin terbahak!" tak lama tuts piano sang kolega berbunyi berharap sang yang ia kagumi sadar.

Anti terdiam, empat orang yang sangat ia sayangi tertawa di hadapannya. Waktu itu ia berharap apa ya?

"Aku berharap keluargaku terbahak setelah apa yang ku inginkan tercapai!"

"Novel komediku, itu yang ku mau, aku mau keluargaku tertawa dan sangat senang sampai terbahak bila itu karena perjuanganku!"

Anti, ia sadar itu karyanya, ikut terbahak. Tak sangka apa yang ia suka menjadikan ia seorang di antara profesi terkenal di kalangan umum.

SELESAI

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x