Mohon tunggu...
Salman Gafur
Salman Gafur Mohon Tunggu... pekerja cahaya

300 tahun kita dibodohi penjajah, saatnya kita merdeka dalam berpikir

Selanjutnya

Tutup

Politik

Air Susu Dibalas Tuba, "Pembangkangan" Marzuki Alie Berlanjut di Kongres V Demokrat?

13 Maret 2020   18:25 Diperbarui: 13 Maret 2020   18:23 138 3 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Air Susu Dibalas Tuba, "Pembangkangan" Marzuki Alie Berlanjut di Kongres V Demokrat?
Ketua DPR RI Periode 2009-2014 Marzuki Alie

Partai Demokrat dikabarkan akan menggelar Kongres ke-V pada 14-16 Maret 2020. Beberapa pihak menganggap pemilihan tanggal dan bulan penyelenggaraan kongres Demokrat kali ini adalah pilihan yang tepat. Hal ini menimbang proses Pilkada Serentak 2020 yang sudah di depan mata. Jadi perlu dilakukan percepatan untuk memperkuat konsilidasi di tingkat bawah.

Dalam sebuah organisasi 'riak-riak' merupakan hal yang biasa terjadi. Hal itu merupakan dinamika yang lumrah sebagai tahap pendewasaan kehidupan berpolitik. Akan tetapi selama struktur berjenjang (DPD dan DPC) mempunyai visi yang sama dalam membesarkan organisasi, biasanya riak-riak itu akan hilang dengan sendirinya.

Menjelang perhelatan kongres Demokrat, riak muncul dari mantan Ketua DPR RI 2009-2014, Marzuki Alie. Pria kelahiran Palembang, 6 November 1955 ini mengkritik penyelenggaraan kongres yang dianggapnya mendadak. Menarik sebenarnya menyigi motif Marzuki 'menyinyiri' partai yang membesarkan namanya.

Jika merunut perjalanan karir Marzuki, pada 2004-2009 dirinya merupakan salah nama penting di Demokrat. Dia adalah Sekjen Demokrat 2004-2009, masa di mana Partai Demokrat tengah giat-giatnya membangun partai. Barangkali, salah satu keberhasilannya (meskipun tidak semata-mata hanya karena Marzuki seorang) adalah ikut mengantarkan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi presiden pada Pilpres 2009.

Sebagai orang Jawa yang taat tradisi, SBY paham betul bagaimana cara mengungkapkan cara berterimakasih. Begitu juga pengalaman SBY sebagai seorang militer, tentunya meninggalkan kawan seperjuangan bukanlah tipe seorang patriot. Oleh karena itu, Marzuki diganjar oleh SBY sebagai Ketua DPR RI periode 2009-2014.

Selintingan kabar burung, ketika SBY menunjuk Marzuki sebagai Ketua DPR, putra Pacitan ini memintanya agar tidak maju dalam pemilihan ketua umum Demokrat pada 2010. Terlepas dari benar tidaknya kabar tersebut, tapi jika kita membaca pikiran negarawan seorang SBY, hal itu harusnya mau tidak mau dijalankan Marzuki. Alasannya sederhana, agar Marzuki bisa memberikan political education tentang bagaimana seorang pejabat negara dalam menjaga amanah dan integritasnya.

Namun sayangnya Marzuki kala itu tidak menangkap gagasan besar SBY tersebut. Marzuki tetap ngotot ke gelanggang, bertarung dengan kontestan lainnya. Pada akhirnya, Marzuki yang 'melawan' SBY dan 'ambisius' ingin menjadi ketum akhirnya dipermalukan oleh egonya sendiri, karena kalah dari junior sesama organisasi ekternal kampus dimasa kuliah, yakni Anas Urbaningrum.

Ternyata ambisi "Belanda minta tanah" Marzuki tidak luntur begitu saja setelah dikalahkan juniornya di HMI, Anas Urbaningrum, pada pemilihan Ketum Demokrat 2010. Marzuki melihat celah ketika Anas harus berusan dengan lembaga anti rasuah dan Demokrat melaksanakan KLB pada 2013. Di tengah dorongan kuat kader Demokrat di seluruh Indonesia yang menginginkan SBY kembali memegang jabatan Ketum Demokrat, Marzuki 'merongrong' kehendak pemegang mandat partai yakni DPD dan DPC. Tapi, visi besar untuk menyelamatkan Demokrat di Pemilu 2014 membuat suara Marzuki diabaikan oleh DPD dan DPC. Lagi-lagi Marzuki dipermalukan dengan ambisinya.

Kini, ketika Partai Demokrat hendak melangsungkan hajatannya, Marzuki kembali menunjukkan "pembangkangannya". Dia menuding kongres terlalu terburu-buru dan menghilangkan kesempatan bagi kandidat yang hendak maju. Jika Marzuki hendak menjadi ketum, tentu sah-sah saja baginya untuk mendaftarkan diri sebagai calon ketua umum di Kongres V Demokrat. Apabila Marzuki mempunyai investasi sosial yang kuat, tentu tidak tertutup kemungkinan dirinya akan terpilih menjadi ketua umum.

Akan tetapi, apabila maksud Marzuki dengan "menghilangkan kesempatan bagi kandidat yang hendak maju" itu berkaitan dengan persiapan money politics membeli suara pemegang mandat, tentu Marzuki terlambat dan telah kehilangan jati diri sebagai seorang demokrat.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x