Mohon tunggu...
Salma Mutiana
Salma Mutiana Mohon Tunggu... Anak sekolahan biasa

Lagi pengin belajar realistis saja

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan

Anies Vs Ahok, Indahnya Mempolitisasi Banjir

9 Januari 2020   06:00 Diperbarui: 9 Januari 2020   08:40 229 7 1 Mohon Tunggu...
Anies Vs Ahok, Indahnya Mempolitisasi Banjir
Gambar olahan pribadi

Alhamdulillah terima kasih ya Allah, banjir surut.

Yang belum surut adalah politisasi banjir, jadi ngehits malah.
Hashtag "banjir" jadi trending topik. Ngepop dan bergizi politik tinggi. So Renyah n Crispy gitu.

Anies dan Ahok, dua jagoan yang yang dianggap mewakili dua kubu politik berbeda di dapuk naik ring.

Anies gagal? Mungkin saja.

Ahok lebih baik ? mungkin pula.
Dua duanya gagal atau dua duanya sukses ? mungkin juga. Yang jelas mereka berdua memang belum pernah bertarung pada situasi yang sama.
Legenda Mike Tyson tak pernah bertarung dengan Muhammad Ali pada ring yang sama. Kita tak pernah tahu mana yang lebih baik.

Ahok pasti kurang beruntung karena faktor kultural saat itu. Anies juga kurang beruntung dari sisi dukungan politik saat ini. Tapi tetap saja perbandingan kinerja Ahok VS Anies jadi El Clasico yang mengalahkan panasnya Real Madrid VS Barcelona. Naturalisasi VS Normalisasi begitulah bunyinya.

Jika mau sedikit obyektif memang berdasarkan data BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) bahwa curah hujan jelang tahun baru 2020 adalah yang terekstrem sejak 1866. Berikut catatan curah hujan dari BMKG

1866: 185,1 mm/hari
1918: 125,2 mm/hari
1979: 198 mm/hari
1996: 216 mm/hari
2002: 168 mm/hari
2007: 340 mm/hari
2008: 250 mm/hari
2013: > 100m m/hari
2015: 277 mm/hari
2016: 100-150 mm/hari
2020: 377 mm/hari : Ini adalah curah hujan tertinggi

Apes nian...  maka jadilah Anies terseok citra, kambing hitam, biang kerok banjir.

Sampai ada yang mewacanakan impeachment segala, bahkan yang lebih serius adalah adanya tuntutan hukum terhadap gubernur terhadap kegagalan penanganan banjir. Banjir di kota - kota lain tak diperhitungkan lagi. Jakarta terus saja yang dihajar kritik. Lha bagaimana lagi ? wong ya namanya juga politik, sah sah sajalah.

Tua muda, miskin kaya, keren norak semuanya menjelma menjadi pakar lingkungan dadakan. Belum lagi nyinyiran Netizen +62, the king of 4.0.
Ironisnya pendapat para pakar jadi - jadian inilah yang justru bikin rakyat jelata macam saya ini sanggup terpukau berjam -- jam di depan youtube atau TV,  Tanpa perduli lagi kalau paketan internet sudah siaga 1.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN