Mohon tunggu...
Nasha UJ
Nasha UJ Mohon Tunggu... Penulis - Full-Time Learner

Lulusan MSDM. Mantan Kreatif. Memproses Sustainable Motherhood. Menulis jg di salamnasha.com

Selanjutnya

Tutup

Love Pilihan

Rayakan Hari Ibu untuk Seluruh Perempuan Indonesia

22 Desember 2022   14:26 Diperbarui: 22 Desember 2022   18:13 238
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Jika kita memperingati hari ini sebagai hari ibu, yang bermula dari kesadaran atas peran ibu dalam lingkup keluarga sebagai perempuan yang melahirkan saja, maka pemikiran itu tidaklah benar. Karena ternyata hari ibu yang kita peringati secara nasional setiap tanggal 22 Desember ini, bermula dari Kongres Perempuan Indonesia pertama yang diadakan pada tanggal 22-25 Desember 1928. Gerakan itu bertujuan untuk menyatukan perkumpulan perempuan Indonesia, salah satu upaya yang dianggap penting sebagai langkah merebut kemerdekaan Indonesia.

Kongres itu terus berlanjut dan menghasilkan kesepakatan-kesepakatan penting berkaitan dengan kedudukan perempuan dalam masyarakat Indonesia, hingga setiap 22 Desember dikukuhkan sebagai Hari Ibu dalam Keputusan Presiden pada 1959. Hal ini dilakukan untuk mengenang perjuangan perempuan dalam kemerdekaan Indonesia.

Dalam KBBI sendiri, ibu memiliki banyak makna antara lain wanita yang melahirkan, sapaan umum perempuan sudah bersuami ataupun belum, hingga bagian yang pokok. Kata "ibu" memiliki makna yang luas, sehingga hari ibu sepatutnya dilihat dengan lebih luas. Hari untuk memperingati perjuangan perempuan dalam kebangkitan suatu bangsa.


Merayakan Hari Ibu

Setelah memahami sejarah Hari Ibu adalah tentang perjuangan perempuan sejak sebelum kemerdekaan, maka hari ini bisa kita rayakan dengan mendukung perjuangan tersebut. Karena perjuangan itu masih belum selesai, salah satunya untuk menggeser pandangan masyarakat agar perempuan bisa berdaya dan mendapatkan kesempatan yang sama untuk berperan dalam masyarakat luas.

sumber gambar Pexels
sumber gambar Pexels


Raden Ajeng Kartini dan Raden Dewi Sartika memang sudah sejak lama memperjuangkan kesetaraan pendidikan bagi perempuan, namun sekarang ini masih saja ada pandangan perempuan tidak perlu bersekolah tinggi. Jika belum menikah dianggap akan mendorong mundur laki-laki, jika sudah menikah dianggap sia-sia apalagi jika hanya mengurus anak di rumah. Padahal, anggapan laki-laki harus memiliki pendidikan lebih tinggi dari perempuan adalah anggapan keliru. Faktanya hanya laki-laki yang rendah diri yang akan mundur terhadap perempuan berpendidikan tinggi.

Selain itu, opini bahwa pendidikan tinggi akan sia-sia untuk mengurus anak juga adalah pendapat yang merendahkan. Sebab, pengasuhan adalah tentang mendidik penerus. Pendidikan ibu akan berpengaruh pada pola pendidikan dalam praktik pengasuhan anaknya. Perlu pendidikan, keterampilan, dan kecerdasan untuk bisa membentuk generasi berkualitas masa depan.

Disamping perkara pendidikan, Martha Christina Tijahahu juga sudah meneladankan bahwa perempuan bisa turut berperan sejak usia belia. Ia sudah ikut bertempur meski saat itu masih remaja. Juga ada Maria Walanda Maramis dan H.R. Rasuna Said yang mendobrak kebiasaan-kebiasaan lama daerah mereka agar sesuai dengan semangat kesetaraan perempuan.

Dari para pejuang itu, kita bisa belajar untuk merayakan hari ini dengan beralih pada pola pikir yang lebih ramah pada seluruh perempuan. Bahwa setiap perempuan berhak memilih dan bisa berdaya dari mana saja. Tidak akan sia-sia karena di rumah juga tetap berdaya. Juga bisa bersaing di luar, tanpa perlu diragukan kemampuannya, tanpa perlu dipertanyakan status pengasuhannya di rumah. Perempuan dan laki-laki sama-sama bisa berkarya hebat di luar sana dan tetap bertanggung jawab bersama pada keluarga. Atau perempuan boleh saja mengejar impiannya tanpa repot mempertimbangkan bagaimana pasangannya nanti.

Terima Kasih Para Ibu

Dokumen Pribadi, Edited by Canva
Dokumen Pribadi, Edited by Canva

Berangkat dari pemahaman itu, tidak lupa hari ini kita menghaturkan terima kasih pada seorang perempuan yang melalui tubuhnya kita bisa hadir di dunia ini. Serta pada perempuan yang membantu persalinan itu. Juga pada perempuan yang menyediakan waktu dan tenaganya untuk turut serta mengasuh kita, berbagi ilmu dan pengalamannya agar kita bisa lebih nyaman.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Love Selengkapnya
Lihat Love Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun