Mohon tunggu...
Mas Damar
Mas Damar Mohon Tunggu... -

Tulisanku adalah keberulangan ritme ketimbang sebuah prosa.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Kenyataan di Balik Embel-embel "Gus"

26 Juni 2013   14:17 Diperbarui: 24 Juni 2015   11:24 1002 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Dalam dunia Pesantren Jawa, biasanya anak Kiyai yang laki-laki dipanggil "GUS" sedangkan untuk yang perempuan dipanggil "NING" atau "NENK".

Panggilan "GUS" tidak hanya berlaku untuk anak Kiyai. Biasanya santri-santri yang mempunyai ilmu dan pemahaman yang lebih tinggi juga dipanggil "GUS", dan tidak berarti semua anak Kiyai yang dipanggil "GUS" itu mempunyai ilmu dan pemahaman agama yang lebih tinggi. Bahkan banyak di antara "Kang-kang Santri" lebih pintar dari seorang anak Kiyai yang dipanggil "GUS" tersebut. Sebagian "GUS" ada yang belajar dengan "Kang Santri" tanpa gengsi, juga ada yang tak mau belajar dikarenakan ego yang tinggi.

Seorang guru "Keren" yang beliau juga seorang "GUS" dari salah seorang Kiyai pernah berkata, kalau status "GUS" itu ada tiga tingkatan di dunia ini.
Pertama "Gus Nasab", kedua "Gus Nasib", dan ketiga "Gus Nusub". Dilihat dari tingkatan tersebut, jelas tampak perbedaan yang mencolok.

Pertama "Gus Nasab", ialah orang yang memang secara urutan nasab mengarah pada bapaknya yang Kiyai. Mungkin juga kakek dan buyutnya juga seorang Kiyai, tetapi tidak menutup kemungkinan ia mendapatkan nasab "GUS" itu dari ayahnya saja.

Kedua "Gus Nasib", ialah orang yang entah secara keberuntungan atau karena jerih payah mencari ilmu agama di pesantren, ia dipanggil dengan sebutan "GUS". Biasanya orang ini disegani karena keilmuannya yang tinggi. Gus Nasib yang beruntung, biasanya mereka dijodohkan sang Kiyai dengan anak perempuannya, atau biasa disebut dengan "NING/NENK". Inilah yang dinamakan "Gus Nasib" atau nasib yang memilihnya menjadi "GUS".

Ketiga adalah "Gus Nusub". Mereka yang masuk dalam kriteria tingkatan ini adalah orang-orang yang berambisi besar. Entah saking terobsesinya ingin menjadi "GUS" atau niatan lain, mereka sengaja "nusub-nusub" (mencari celah untuk masuk) dengan mencari hati di hati para "NING/NENK".

Mereka yang berada di tingkatan "Gus Nusub", terkadang juga mencari perhatian di mata sang Kiyai dengan cara apapun, berharap mereka dijodohkan dengan anak perempuannya.

Sedikit sekali orang yang bisa masuk ke 'maqam' "Gus Nusub". Tak sembarangan orang bisa 'nusub-nusub' mendapatkan hati sang Kiyai untuk dijodohkan pada putrinya. Dari berbagai kisah yang ada, kebanyakan orang yang sampai pada 'maqam' "Gus Nusub" mereka dicoba dengan banyak penyakit hati, adapun penyakit hati tersebut antara lain: sombong, ujub, kemaki, sikak, luwak, dan lain sebagainya.

Pada kenyataannya, jarang sekali mereka yang berada pada 'maqam' "Gus Nusub" bisa melewati cobaan tersebut. Dan bagi mereka yang lulus dari cobaan, mereka cenderung untuk masuk pada sikap "ngoco ing njero" (instropeksi). Begitu ketat dan berat bagi mereka yang ingin mencapai 'maqam' "Gus Nusub".

Jelas sudah perbedaan 'maqam' antara "Gus Nasab, Gus Nasib, dan Gus Nusub". Apapun perbedaannya tetap saja mereka adalah orang yang dipanggil dengan sebutan "GUS". Tidak peduli anak seorang Kiyai, tidak menutup kemungkinan dia orang pintar agama, atau tidak menutup kemungkinan dia orang yang terobsesi dan mempunyai 'GHIRAH' yang tinggi, bahkan tidak menutup kemungkinan dia seorang pecandu dan pemabuk.

Setiap orang bisa saja dipanggil "GUS". Berbahagialah mereka yang mempunyai gelar "GUS". Keterangan di atas pun berlaku juga untuk mereka yang mempunyai gelar "NENK/NING".
Insya Allah Kiamat Masih Lama.
Amiiin...

Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan