Mohon tunggu...
Said Kelana
Said Kelana Mohon Tunggu... Lelaki Biasa

Pengajar-Guru; Penikmat Kopi dan Pisang Goreng; Fans MU

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Islam dan Kemajuan

25 Mei 2019   04:33 Diperbarui: 25 Mei 2019   04:52 431 3 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Islam dan Kemajuan
Calon Ilmuwan Wanita

Teknologi zaman dahulu, mengantarkan sampai ke 'langit'. Apakah teknologi saat ini sudah lebih maju? Begitu teman menyampaikan.   Saya menjawab: saat itu; teknologi diyakini dengan iman, dan bukanlah mengantarkan manusia.  Saat ini, tidak bisa disangkal, teknologi telah bermanfaat bagi manusia.  Jutaan manusia diantarkan pesawat ke tanah suci, berkhidmat menunaikan ibadah. Hemat saya teknologi saat ini lebih nyata

Secara hukum progresif, maka saat ini lebih baik dari masa lalu.  Ilmu pengetahuan juga dibangun berdasarkan 'building block' diletakkan pada landasan lama, kemudian disempurnakan.  Tanpa menafikan keberadaan bangunan sejarah yang menakjubkan, sesungguhnya situasi saat ini tentunya terasa menakjubkan juga bagi 'orang dulu' jika ia hidup saat ini.  Karena prinsip inilah, maka Islam harus berkontribusi bagi kemajuan ke masa depan, dengan spirit ajaran agamanya.

Banyak hal yang sudah ditunjukkan ajaran Islam (baca Quran) utamanya tentang langit dan bumi.  Sebagai contoh, Islam menyampaikan bahwa kelak di hari kiamat tulang belulang akan 'dikumpulkan'.  Orang yang progresif, menterjemahkannya saat ini dengan penemuan 'sidik jari' dimana sidik jari tersebut ternyata  dapat membedakan 'setiap orang' sehingga orang dapat dikumpulkan tanpa tertukar.  Dengan berfikir maju, tidak menjadikan sebagai 'jampi' dan 'terpesona' maka kemajuan muslim dan kontribusi Islam dalam peradaban akan semakin kuat.  Islam mengajarkan untuk minum sambil duduk; dimana saat ini dapat dibuktikan secara medis hal itu baik untuk kesehatan lambung.  Pembuktian ilmiah inilah yang diperlukan partisipasi umat muslim agar memantabkan Islam sebagai rahmatan lil alamin

Ada juga beberapa muslim yang 'membanggakan' prestasi Islam di masa lalu.  Menurut doktrin hidup zaman now, dan juga doktrin Islam, sebaiknya melihat masa depan, bukan masa lalu.  Bahkan orang yang membanggakan masa lalu, adalah cenderung sebagai kelompok pecundang.  Hal ini jangan diartikan tidak menghargai masa lalu, apalagi kalau diterjemahkan melecehkan ulama bahkan meniadakan peran nabi.  Tidak sama sekali!.  Maksudnya adalah, muslim perlu mengambil ibrah dari seluruh ajaran agama; untuk diterapkan dengan cara berpartisipasi pada masa depan, setidaknya untuk dirinya, dan sebisa mungkin bermanfaat bagi kemanusiaan.  Bukankah nabi bersabda pentingnya sedekah dan amalan jariah sampai di surge? Hal ini harusnya mendorong muslim untuk berpartisipasi pada masa depan?.  Bukankah memelihara hidup seorang manusia, seolah-olah memelihara seluruh manusia?.  Bukankah kebersihan sebagai bagian dari iman?.  Mengapa muslim tidak mengambil inisiatif sebagai pelopor kebersihan?, sehingga setiap muslim sebagai rahmatan lil alamin, atau juga Islam sebagai way of life.  Jangan tanya atau ragukan soal ajaran Islamnya, Insya Allah perfect, hanya saja kita perlu menyertakannya dalam peradaban (keseharian).  Kata Al quran; 'akui' kami sebagai muslim; yang bermakna sebagai eksistensi.  Eksislah dengan penuh amal kebajikan

Hidup juga singkat, kita semua akan mati, dan tak ada yang dibawa.  Karena itu hiduplah berbahagia di dunia ini.  Setelah itu hiduplah yang membahagiakan bagi sesama; pepatah jawa: urip sing urup; hidup yang hidup.  Lalu, teruslah memandang ke depan, berkarya dan berkemajuan bagi manusia.  Berniatlah dengan tulus: karena dihadapan Tuhan, niat inilah yang dinilaiNya.    Semoga setiap muslim, mencerminkan spirit agama Islam: menjadi mata air (rahmat) bagi sesamanya.

19 ramadhan 1440H/ 24 Mei 2019 pk 21.00

VIDEO PILIHAN