Mohon tunggu...
Anak Langit
Anak Langit Mohon Tunggu...

Explore, Dream, Discovery (Mark Twain)

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Refleksi Kecil: Gejolak Anak lulusan SDIT masuk SMP Negeri

19 Maret 2015   14:05 Diperbarui: 17 Juni 2015   09:25 486 1 4 Mohon Tunggu...

Sore kemarin, anak saya no 2 (dua)yang bersekolah di sebuah Sekolah Menengah Negeri ,”curhat “tentang gurudan teman temannya. Ini mungkin keluh kesah yang kesekian dari seorang anak 13 tahun yang sedang menginjak remaja.

Keluh kesah ini sebenarnya berpangkal dari keputusan kami menyekolahkan anak ke sebuah sekolah menengah negeriyang berbeda dengan tempat sekolah dia sebelumnya yaitu sekolah swasta yang berlabel “ Islam Terpadu “ (SDIT). Keputusan ini juga berbeda dengan kakak dan adiknya yang masih menempuh pendidikan di sekolah berlebel “ Islam Terpadu”

Dengan pertimbangan “efesiensi”biaya dan dibumbui pertimbangan ideologis bahwa anak-anak harus mulai belajar pluralisme, kesenjangan dan juga pertimbangankarakter si kakak No-2 yang bertipe teleran, kooperatif dan mudah enjoy, maka kami berani memutuskan si kakak no 2 mengambil sekolah negeri.

Namun, sore kemarin, kami merasa perlu untuk merefleksikan keputusan kami...

Anak kami, secara konsisten selama satu semester lebih, mengeluhkan tentang cara gurunya marah yaitu berteriak, menggunakan istilah “kasar” ( atau “intimidatif”),dan tidak mau mendengar “pembelaan” murid –muridnya. Anak kami juga secara konsisten mengeluhkan adanya rasa takut massal hampir disemua murid terhadap guru : takut bicara, takut diskusi, takut salah,bahkan takut bertemu dst ( saya kira, inilah akar dari mental “jongos dan menjilat” bangsa ini)

Tidak hanya soal etika yang dipermasalahkan anak kami, namun juga teknik pengajaran.Guru menyuruh menulis di papan tulis, lalu gurunyamain HP, atau kisi–kisi ujian diberikan, tapi soal yang keluar berbeda dengan kisi-kisi. Ketika diklarifikasi, guru marah dan berkata “ harusnya belajar semua BAB, bukan hanya kisi-kisi” . Ini pertunjukan “Inkonsitensi “ didepan anak-anak.

Ada juga ekstra kurikuler yang hanya diurus kakak kelas tanpa pengawalan guru, sehingga kegiatan lebih banyak “bullying” kakak kelas pada adik kelas, akibatnya sebagian siswa tidak aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler. Hal hal itu , sangat berbeda dengan yang dia rasakan ketika di SDIT.

Sedangkan dengan teman-temannya, anak kami mengeluhkan tentang teman temannya yang sudah merokok, pacaran, menginap di warnet untuk main game on line tiap sabtu minggu , nongkrong di MALL habis pulang sekolah dan bujuk rayu teman temannya untuk “BOHONG” pada orang tua agar bisa main habis pulang sekolah. Belum lagi pamer gadget, dan kebanggaan akan benda-benda .Duh...

Dalam konteks anak kami, maka transisi dari sekolah yang ‘steril” dan ditemani oleh guru –guru yang memiliki passion dan cinta”, lalu berpindah ke sekolah yang baginya “ membosankan, intimidatif dan kadang menakutkan” menjadi hal yang tidak mudah.Kami sedang mempertaruhkan jiwa dan karakter anak kami..! Protes dia adalah “alarm” bagi kami untuk waspada pada proses pengajaran yang diterima anak kami.

Tidaklah bijak kami membandingkan Sekolah Swasta dan Sekolah Negeri dalam hal apapun, karena ada harga tentu ada rupa. Namun melihat kondisi ini, rasanya tidak berlebihan jika “pendidikan karakter” di sekolah anak kami, yang “kebetulan” sekolah milik negara, belum diwujudkansama sekali. Seberapa mahalkahpendidikan karakter itu , hingga sekolahnegeri tidak mampu mewujudkan seperti sekolah swasta ? Bukannya hanya modal kesabaran, ketulusan dan cinta dari para guru ( ainul yaqin,,ini bukan soaljumlah Gaji Guru) . Bahkan yang terjadi saat ini , dibanyak sekolah negeriadalah “pengkerdilan massal”terhadap siswa-siswa yang sedang tumbuh jati dirinya.

Semoga negara kembali hadir dalam carut marut dan kekawatiran kami ...

VIDEO PILIHAN