Mohon tunggu...
Sahat Marihot Tua Silaen
Sahat Marihot Tua Silaen Mohon Tunggu... Full Time Blogger - _

_

Selanjutnya

Tutup

Ruang Kelas Pilihan

So, Tahu Gak Yah? Saya Pengalaman Karena Beda Vegan dan Vegetarian, Jadi Jangan Asal Tempel!

27 Januari 2021   16:22 Diperbarui: 29 Januari 2021   12:01 378
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kompasiana.com Pengganti Daging dan Telur

Bagimanapun biar Kompasianer/ Kompasiana tahu mengapa saya tiba tiba merasa muak saat makan makanan berdaging dan telur, meskipun kedua duanya jenis gaya makanan berkalori ini kurang baik untuk saya konsumsi dan bahkan ketika gaya hidup sehat saya berubah menjadi seorang vegan. Semuanya berjenis sama sebagai bagian dari gaya hidup sehat khusus untuk makan dari tumbuhan. 

Beda dengan daging atau telur, kedua bagian dari jenis ini adalah bagian dari makanan berkalori tinggi, tinggi kalori, penyebab saya saat beraktivitas menjadi sering kantuk, membuat saya sembelit, sehingga membuat kulit saya menjadi bergelombang dan membuat pertumbuhan rambut pada tubuh saya menjadi banyak. Apakah gaya makan sehat saya menjadi orang kebarat baratan? Kompasianer berharap saya berspekulasi tinggi yah. 

Bahkan anda masih baru tahu saya merupakan orang blasteran. Kalau Kompasianer tahu saya orang blasteran, yang dimaksud blasteran adalah keturunan dari dua jenis persilangan yang berbeda. keturunan dari orang Indonesia dengan Eropa misalnya. Sekarang saya di Indonesia. Saya dulu lahir di zamannya masa krisis moneter dan sekarang bertumbuh dewasa saat masa pandemi dari covid 19. 

Selain itu menurut informasi yang saya dapatkan dari World Healty Organization (WHO) bahwa hindari makanan daging merah untuk mencegah masuknya virus dalam tubuh, bahkan dari berita otoritas seperti China juga menyarankan agar mengurangi mengkonsumsi daging merah pada kemasan tertentu dikarenakan bahwa beberapa sampel makanan telah tercemar atau terkontaminasi oleh pandemi tersebut. 

Jauh dari covid 19 tersebut, saya juga saat itu sering diberi makanan sejenis lacto vegetarian oleh tetangga saya yang pekerjaannya di Kebun, makanan tersebut sejenis dengan tumbuh tubuhan misal seperti perkedel, batagor, tahu, tempe, popcorn, susu, keju bahkan juga kacang kacangan sering mereka yang membelikan atau bahkan memberikan ke saya saat saya pulang dari luar kota. 

Makanan ini jarang dibeli bahkan juga kadang dibuatkan olehnya. Ibu saya dulu sering memasak makanan ini untuk menjadi hidangan makanan saya kadang selain dari tahu yang dimasak kadang juga makanan seperti batagor, popcorn atau kacang kacangan. 

Dari mulai kecil saya tidak di izinkan untuk makan makanan berbau daging merah atau telur oleh dokter, saya selain bertubuh gemuk, juga kulit saya agak terlihat kasar selain itu kulit saya jadi iritasi, mual, bersin dan batuk dikarenakan saya mengidap penyakit alergi sehingga saya tidak diizinkan oleh dokter untuk mengkonsumsi daging. 

Tidak hanya itu saya juga menderita asam urat sehingga saya tidak dapat mengkonsumsi daging tersebut. Karena jika saya mengkonsumsi makanan tersebut membuat saya semakin muak dan menjadi jadi misal seperti kaki saya bengkak disebabkan oleh asam urat tersebut. Penyakit asam urat menjadi pemicu untuk peradangan pada sendi sendi yang terdapat pada tubuh saya.  

Perasaan saya lebih lega pada saat itu dikarenakan tetangga saya telah memberikan kepada saya makan makanan sejenis vegetarian seperti kacang kacangan, tahu yang dibuatkan oleh tetangga saya sendiri dikarenakan tidak usah dibelikan dipasar sendiri karena kedelai sendiri tidak perlu diimpor dari luar negeri. Karena disini petani kedelai sudang banyak, selain dari petani kedelai juga sudah banyak yang membuat tahu sendiri untuk dapat dikonsumsi oleh warga sendiri. 

Selain itu untuk makanan  Saya orangnya vegetarian, bahkan jika mau membelikan makanan kemasan di pasar juga selalu berbau tumbuhan. Misal saya mau makan makanan harus membeli roti gandum juga.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ruang Kelas Selengkapnya
Lihat Ruang Kelas Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun