Mohon tunggu...
S A Hadi
S A Hadi Mohon Tunggu... Sholikhul A Hadi

Happy is the people whitout history

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Batas yang Terlewati

21 Agustus 2019   15:26 Diperbarui: 21 Agustus 2019   15:37 51 2 0 Mohon Tunggu...

Sembari menengadahkan mukanya, Robi menerawang jauh ke cakrawala malam. Warna gelap yang menjadi latar dengan bintang bagaikan pernak-pernik permadani yang tampak bergelantungan, menggusur pelan-pelan kesadarannya. Entah karena obat yang baru saja di telannya atau karena rasa kantuknya yang semakin tidak terkendali.

Bumi tempatnya berpijak terus saja berputar tanpa menghiraukan keberadaannya. Waktupun bergerak lambat, membantunya mengambil kembali kesadaran yang pelan sirna. Dia gapai kuat kesadaran itu dan bangkit. Dia duduk dengan menekuk kedua kakinya menyandarkan punggungnya pada besi-besi konstruksi jembatan yang masih belum terbungkus beton.

Sudah sekitar dua bulan Robi bekerja dalam proyek pembangunan jembatan itu. Bukan sebagai seorang insinyur sebagaimana pendidikan yang pernah ditempuhnya, melainkan menjadi seorang kuli. Dia tidak membawa serta ijazahnya ketika pergi ke tanah cendrawasih. Dia hanya membawa tekat yang telah bulat untuk terus melanjutkan kehidupannya.

Setidaknya, tekat itu masih bertahan sampai sekarang. Ketika semua orang di Jakarta kembali mengingatnya. Beberapa telpon dari teman-temannya tiap hari masuk ke daftar panggilan tidak terjawab. Pesan SMSpun cukup banyak yang masuk. Robi selalau membaca semua pesan itu. Terkadang pesan itu membuatnya tampak bahagia tetapi lebih banyak yang membuatnya marah.

Rona mukanya tampak memerah saat emosi. Tubuhnya terasa lebih ringan. Matanya bergerak ke kanan dan kiri. Seperti halnya yang pernah terjadi beberapa tahun sebelumnya saat seorang temannya yang bernama Riski menyebar kabar yang menyudutkannya.  

Riski yang selalu menyertainya mewartakan tentang kelainan mental yang dideritanya ke seluruh jaringannya. Semacam sebuah pengungkapan yang ditujukan untuk melemahkan posisi Robi diantara jaringannya. Syukur masih ada orang yang setia pada Robi, dia adalah Yesa, yang selanjutnya bergerak untuk membersihkan isu itu.

"Memangnya seorang yang memiliki kelainan tidak patut memimpin jejaring kita? Memangnya di dunia ini ada orang yang sempurna dengan tanpa memiliki kecacatan?" Dua kalimat itulah yang selanjutnya menyebar dengan cara yang tidak pernah dapat dibayangkan oleh Robi. Robi menyadari bahwa dua kalimat tanya dari Yesa itu kemudian membuka kembali pintu hati dari jejaringnya.

"Kamu harus tampil sebagai manusia mas, biar orang dapat menerimamu apa adanya!" Suara Yesa terngiang kembali dalam telinga Robi. Robi membuka Telepon genggamnya dan mencari SMS yang beberapa hari sebelumnya diterimanya. Dibukanya sebuah SMS dari Yesa, "Mas, kamu sekarang dimana?" Segera Robi menekan menu balas pada layar telepon genggamnya dan mengetikkan beberapa kata yang mengisyaratkan lokasinya sekarang. Tetapi Robi mengurungkan niatnya, dia hapus kembali kata-kata yang telah diketiknya.

Dia berjalan menyusuri sungai mengamati teman-teman pekerjanya yang duduk bergerombol di seberang. Mereka melambaikan tangan, memberikan isyarat agar Robi bergabung. Robi menolaknya dengan menggelengkan kepala. Robi menyadari bahwa semua yang dialaminya selalu berawal dari ajakan kecil semacam itu. Dia menduga gerombolan teman pekerjanya itu sedang berpesta Topi Miring atau Ketan Ireng yang baru mereka dapatkan dari pedagang jawa yang berkunjung pada hari sebelumnya.

Robi melanjutkan perjalanannya ke Portacamp Sleeper yang terletak di dekat lapangan penumpukan, sebelum telepon dari Yesa terdengar nyaring di telinganya. "Hei, mas. Apa kabar?" Suara itu terdengar lebih berat dari aslinya. Robi sebenarnya tidak ingin menjawabnya tetapi reflek tangannya yang mengangkat telpon Yesa membuatnya terpaksa harus menjawabnya. "Baik."

"Aku sudah tahu sekarang kamu di mana. Kemungkina dua hari lagi aku sampai sana. Jaga kesehatanmu ya?"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x