Mohon tunggu...
Saeran Samsidi
Saeran Samsidi Mohon Tunggu... Guru - Selamat Datang di Profil Saya

Minat dengan karya tulis seperi Puisi, Cerpen, dan karya fiksi lain

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Caroline Kesengsem Ebeg

22 Januari 2021   16:57 Diperbarui: 22 Januari 2021   17:04 265
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

"Cintroooong ... !"

"Apaaaa ...?"

"Cintrooong .. ebeeeeg...!"

                    Bel listrik berbunyi, theeeet ... theeet ... thettt ... tanda sekolah selesai. Para siswa memberesi perkakas belajar. Memasukkan buku dan alat tulis ke dalam tas lalu dipimpin  Pak Guru berdoa. Pelajaran telah usai mereka akan pulang ke rumah masing-masing. Keadaan kompleks sekolah ramai, para siswa keluar kelas ada yang menuju garasi motor, ke gerbang sekolah juga ada yang menunggu jemputan. Ada juga yang nebggunakan hp untuk memesan ojol.

                    Caroline, Adinegoro, Kumar, Albert dan  Sun Yong beriring-iringan berjalan di pelataran sekolah mereka mau pulang ke rumah. Adinegoro membungkuk memberi hormat,   Caroline membalasnya membungkuk, anak-anak yang lainnya mencibir.  Adinegoro segera berjalan bergegas mempercepat langkah sambil menoleh, "Dik Lina, tenan lho, mengko ojo lali. Mas Adi tak ndisiki .. yo!"

Istirahat pertama, selasar depan kelas banyak siswa berseliweran. Ada yang  bergegas menuju kantin mau  nahu kecrot, barangkali lapar tadi pagi tidak sarapan.  Ada yang lari sambil memegangi  reslesting celana segera ke toilet kebelet kencing. Ada juga yang mondar-mandir berjalan di depan kelas sambil membaca buku, karena mau ulangan dan semalam belum belajar.

Caroline gadis   rambon bule, rambut warna coklat agak merah, hidung  mbangir, ceking tapi weweg, kulit resik putih. Anak  pindahan dari London ibukota Inggris, baru mau satu semester sudah jadi kembang lambe anak-anak satu sekolah.  Apa lagi teman sekelas, laaahh rese banget. Katanya  kaya bintang film Hollywood. Ada yang  ngomong kaya Chaterine Wilson, tapi lebih pas kaya Cinta Laura. Pokoknya para playboy piyik, mereka  rebutan kepengin mendekat, salah satunya  Albert,  "Hai ... Caroline ... tunggu. Wait .. a minute. Briefly. Wouu .. I really admire you. Your high artistic taste. We both definitely match. Bener Caroline .. sumpah ...! Lu percaya gue dong ...!

                 Pada suatu hari ketika istirahat, di salah satu meja kantin sekolah   Caroline sedang nyandhing gelas isi dawet ireng lagi menunggu pesanan panganan kesukaannya, mendhoan dan  tahu kecrot lalu didatangi Sun Yong juara baminton  tingkat kabupaten yang sedang  degadhang-gadhang guru olahraga bisa menang di tingkat provinsi. Sun Yong selain  atlet badminton juga kerajingan drakor dan mabuk Korea Pop. Narik kursi depan  mejanya Caroline yang lagi sindirian lalu diduduki,  

"Hallo Caroline, masih suka aku kan? HanGeng? SJ? SuJu? Super Junior?" tangannya lalu merogoh saku celana mengeluarkan permen karet. Ambil satu lalu dicaplok, "Walau aku sudah keluar dari Su Ju tapi kenanganku dengan mereka tak bisa kuhapus. Lu suka SuJu kan? "

            Kepindahan  Caroline ke  sekolah favorite dan  unggulan itu menambah warna-warna para siswa yang sekolah di sana. Sekolah itu jadi bisa dikatakan  sekolah internasional. Padahal sekolah yang letaknya di ibukota kabupaten, bukan ibukota provinsi apa lagi  ibukota negara. Semua  agama ada gurunya,  ada anak Tionghoa yang beragama  Konghucu, ada anak  keturunan India menganut agama Hindu. Yang paling banyak ya muslim, lalu Kristen dan Katolik.Sekolah menyediakna semua  guru agama itu.

            Nah, sekarang tinggal  Kumar. Cucunya yang punya Toko Laris, toko tekstil sebalah barat  alun-alun, juragan tekstil sejak jaman baheula. Kumar melihat  Caroline sedang membaca  buku duduk di bangku taman di bawah rindang daun pohon markisa yang merambat di atasnya. Kumar mendekati Caroline, lalu njoged-joged menggombal,

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun