Politik

Ngarit Cari Rejeki Saat Pilkada

14 Juni 2018   16:00 Diperbarui: 14 Juni 2018   16:08 560 0 0
Ngarit Cari Rejeki Saat Pilkada
maskurmambang.com

Musim ngarit telah tiba, seiring musim bertaburannya baliho, spanduk, banner di jalan-jalan, di perempatan di gang-gang sampai pelosok desa. Ngarit kali ini akan lebih heboh. Musimnya panjang dari tahun 2018 sampai 2019. Ya, para pengarit akan memanfaatkan waktu panjang pada hajatan demokrasi dua tahun berturut-turut.

Tukang ngarit enggak perlu ke lapangan cari rumput atau ke kebun cari dedaunan untuk makanan ternak, tapi lebih simpel dan meluas karena pakai HP android. Cukup berbusa-busa jadi tim hore di dunia maya, khususnya di facebook. Murah, meriah,  tanpa keluar keringat dan jauh dari kontak fisik karena hanya perang status dan ujaran.

 "Eiit ... Wa Rakim. Mau ke mana ini? Sore-sore ko klimis sekali.  Klinthung ke mana, si?" Mbak Bad alok-alok Wa Rakim yang sore itu berbaju batik, pakai sepatu sandal, berpeci, beli rokok di warungnya Mba Bad.

"Biasa, ngarit .... pan musim ngarit telah tiba?" jawab Wa Rakim rada gemagus sambil menyobek bungkus rokok, ngejes, menyalakan rokok, klius pergi dan berpapasan dengan Pak Banjir.

"Eiit, Jangan nabrak orang, ya! Mau ke mana nih, ko kayanya gipyak pisan !" Pak Banjir juga ikut tanya ketika mau pesan mendhoan sama Mba Bad.

"Biasa, ngarit ... pan musim ngarit telah tiba? " jawab Wa Rakim sambil ngeloyor pergi.

"Ngarit ... ngarit ... sebenarnya ngarit itu si apa, ko Wa Rakim semangat banget, Pak Banjir? " tanya Mba Bad.

"Engga tahu, ya. Kalau ngarit rambanan, kayanya Wa Rakim nggak piara kambing atau kerbau. Ngarit ko sore-sore, lagi pula dandan pakai  batik, sepatu sandal" Pak Banjir ikut bingung. "Nah, ini ada Bung Yoko. Kebetulan sekali Bung!" tiba-tiba nongol Bung Yoko, politikus desa yang berkumis putih dan berkaca mata tebal mau beli koyo cabai buat nempel tengkuknya yang cengklungen pegel.

"Ada apa nih, ada apa?" Bung Yoko serius.

"Anu, Bang Yoko. Itu tadi Wa Rakim pergi, ditanya mau ke mana, jawabnya mau ngarit" Mba Bad memanggil Bang pada Bung Yoko.

"Iya, itu. Jawabnya, ngarit. Pan musim ngarit telah tiba?" Pak Banjir memperjelas. Bung Yoko jadi tertawa meringis sambil membetulkan kaca mata tebalnya. Lalu, mulailah pidato soal ngarit.

Menjelang Pilkada, eh, Pilkadal (Pemilihan Kepala Daerah Langsung) menjadi tanda bahwa musim ngarit telah tiba. Ngarit atau repek adalah istilah yang populer di kalangan komunitas politik di Banyumas. Yang melakukan ngarit disebut pula botoh atau gedibal alias calo. Nah, musim ngarit ini yatra sasarannya, biting jualannya.

Fenomena ngarit memang lahir dan terjadi di komunitas partai politik. Siklus suksesi kepimpinan partai, dari ranting hingga DPP menjadi persemaian muyabnya orang ngarit. Musting, Musancab, Konfercab, Konferda sampai Kongres, tidaklah mudah ditembus oleh mereka yang ingin njago ketua partai. Ngarit adalah jualan jasa menggerakkan massa. Untuk nyoblos jago.

"Ngarit ini ada kelas-kelasnya, ada klasifikasinya. Ada yang bermain solo, kaya Wa Rakim. Kepentingannya  rokok, uang transport dan dapur tetap ngebul selama ngarit. Wa Rakim kelas tas kresek. Ada solo yang kelas kakap dan ada juga yang kelompok, mengatasnamakan organisasi. 

Yang ini targetnya APBD, dana abadi atau kebijakan, Perda, proyek pembangunan yang dibuat Cabub kelak kalau jadi " begitulah sampai kumis putihnya Bung Yoko  jentrak-jentrik ketika orasi di warungnya Mba Bad. Lalu si Bung Kumis Putih melanjutkan, "Nah, ini yang lucu dan menarik. Jenis tas kresek seperti Wa Rakim ini di setiap markas jago, pasti ada. Saya selalu bertemu dengan Wa Rakim. Di jago A sedang menata kursi, di jago B jadi glidig, di jago C bahkan sampai menginap berhari-hari sebagai PRT" jelas Bung Yoko, lalu pamit mau pulang, katanya sedang ditunggu tukang pijat, mau pijatan, badanya pegal-pegal.

"Pak Banjir, itu tadi, Bang Yoko kelihatannya juga suka ngarit, ya? Itu berdasarkan pidatonya tadi. Hanya itu, Bang Yoko itu, termasuk kelas apa ya? " Mba Bad tumben cerdas menangkap orasinya Bung Yoko.

"Oooo .. Bung Yoko kelas profesional!"

"Nah, Kalau Pak Banjir bagaimana sikapnya perihal ngarit itu?" Mba Bad menyudutkan Pak Banjir. Pak Banjir pun jadi tertawa ngakak.

"Kritis, rika ya, Bad! Kalau, enyong si enggak  munafik. Manfaatkan momen siklus suksesi lima tahunan. Aja munafik, jangan puritan, aja phobi, jangan alergi politik. Itu semua para guru, para seniman, kompak perjuangkan kepentingannya. Ya itu, pemerintah peduli pada pendidikan dan seni budaya. Kalau ada Cabub yang komit perkara itu, contohnya pendidikan TK-SMA gratis, kesejahteraan guru terjamin dan bisa mewujudkan TBB (Taman Budaya Banyumas)   lalu  bisa mengimplementasikan UU Nomer 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, kena apa enggak didukung ?! "

Pak Banjir masih tertawa ketika minta pamit karena adhan mahrib berkumandang. Sambil nyangking tas kresek isi mendhoan anget, Pak Banjir pulang ke rumah dengan harapan ada Cabub yang sanggup mewujudkan impiannya itu.