Humaniora Pilihan

Ode buat Guru, Kisah Guru Zaman "Old"

14 Februari 2018   16:21 Diperbarui: 14 Februari 2018   16:26 819 0 0
Ode buat Guru, Kisah Guru Zaman "Old"
https://mamakantoran.wordpress.com

"Puji dan penghargaan terhadap para guru yang telah berjuang untuk mencerdaskan anak bangsa. Dengan kesederhanaannya dan segala kelemahan, kekurangan, ketakberdayaannya di tengah-tengah karut marutnya pendidikan di Indonesia dengan keluguannya tetap ikhlas mengabdi mengantarkan para muridnya ke gerbang pencapain cita-cita masa depan"

Demikianlah, prolog sebuah film saya, tentang pengabdian seorang guru berjudul "Ode buat Guru" Sebuah video clip berkisah seorang guru sekaligus kepala sekolah di sekolah gurem.Bisa dilihat dengan klik Saeran Samsidi di Youtub.

Tulisan ini masih menyangkut dengan kisah tragis guru di SMAN 1 Torjun Kabupaten Sampang Madura, Jawa Timur, Ahmad Budi Cahyono yang tewas di tangan muridnya. Jadi guru di "zaman  now" lebih rumit dan riskan dibanding guru "zaman old".  Walau guru pada jaman ini fasilitas dan sarananya canggih serta kesejahteraannya berlebih rasanya lebih nyaman, nikmat dan romantis guru pada jaman baheula.

Tahun 60-an ketika saya SR (Sekolah Rakyat) kini SD, guru-gurunya lugu, sederhana dan sangat dihormati oleh murid-muridnya. Ketika pagi guru datang ke sekolah memasuki pintu gerbang, para murid berebutan untuk menuntun sepedanya untuk diletakkan ke garasi. Yang pakai bronfit (sepeda motor) merk Ducati, dikejar-kejar murid untuk mendapatkan tasnya untuk diletakan di meja guru di kelas. Kebetulan dari TK sampai SMA saya bersekolah di sebuah sekolah swasta Katholik, sehingga fasilitasnya lumayan.

Di kelas tiga SD,  guru saya bernama Pak Trisno, setiap akhir pelajaran menjelang pulang pasti mendongeng dan dongengnya pasti to be continued.Maka anak-anak esok harinya bergairah masuk sekolah menanti Pak Trisno melanjutkan dongengannya. Saat SR bagi saya menyenangkan dan agak punya prestasi akademik.

Ketika tamat SR, teman-teman yang pandai masuk ke SMP negeri, saya memilih masuk ke SMP yang satu kompleks dengan SR. Di SMP inilah prestasi sekolah saya kacau dan amburadul. Sambil sekolah saya dagang di setasiun kereta api dekat rumah saya karena orang tua saya tinggal ibu yang kurang mampu. Nah, sikap guru dan perilaku guru di SMP ini yang menghancurkan prestasi saya.

Guru bahasa Inggris saya serem banget. Kalau mengajar sambil merokok sampai bibirnya ndower dan jari-jarinya kekuningan. Yang mengerikan bila siswa tak bisa menjawab soal atau pertanyaan guru, rokoknya diselomotkan ke telapak tangan saya. Maka bahasa Inggris saya jeblog parah sampai tua hari ini. Dulu kalau ulangan ada soal multiple choice or not saya memilih or. Parah bukan ?

Pelajaran eksata jeblog juga. Guru aljabar saya kalau siswa mbeling di kelas atau tidak bisa menjawab soal termasuk saya, maka dijambaklah rambut saya lalu kepala diputar-putar   terus didorong ke belakang. Ujian SMP untuk pelajaran aljabar, ilmu ukur nilainya 4, hanya limu alam mending 5. Ilmu eksak sampai perguruan tinggi saya ogah.

Tetapi ilmu bumi, sejarah Indonesia, sejarah dunia tertulis 10 di ijasah. Ditambah masa itu negeri kita tengah dilanda prahara G30S, tahun pelajaran diperpanjang molor. Lengkaplah kacaunya saya bersekolah.

Di SMA saya menjumpai guru bahasa Inggris yang ikut menambah andil kegoblogan saya dalam bahasa Inggris. Karena akrab dengan saya,  saya sering disuruh-suruh Pak Guru untuk yang ini, yang itu, ke rumah beliau untuk ambil ini, tengok rumah, beli ini beli itu dll. Tentu saja saya senang karena saya jadi sering bisa meninggalkan kelas tidak ikut pelajaran. Soal nilai dapat 6 atau 7 cukuplah bagi saya.

 Nah, itulah pengalaman saya sebagai murid yang diajar oleh guru "zaman old". Tapi hebatnya sekolah itu tidak pernah ada gugatan, aduan atau keberatan mengenai cara guru memperlakukan muridnya. Anak-anak peserta didik masih menaruh segan, hormat dan mungkin takut kepada gurunya. Begitu pula para orang tua murid masih percaya dan hormat  kepada "Ndoro Guru" sebuah profesi yang mulia penuh pengabdian.

Padahal jaman itu, nasib guru masih memprihatinkan, jarang anak muda ingin jadi guru, kecuali anak desa yang ingin cepat kerja. Ketika saya dulu masuk IKIP, saya diejek teman-teman, karena IKIP adalah perguruan tinggi kw 2. Hanya siswa-siswa berprestasi rendah yang masuk ke sana. Sekarang, oooo ... berjubel mahasiswa di program ilmu pendidikan, lebih-lebih di PGSD. Yah, sekarang berkat sertifikasi banyak guru yang bermobil. Dulu, guru punya sepeda saja sudah mewah.

Akhirnya kisah guru "zaman old" ini sedikit demi sedikit mulai bersinar ketika Pak Sartono guru seni musik di sebuah sekolah swasta di Madium menciptakan lagu Hymne Guru pada tahun 80-an. Pada bait terakhir  inilah yang membawa nuansa pilu seorang guru : 

Engkau sebagai pelita dalam kegelapan, engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan, engkau patriot pahlawan tanpa jasa. Kata pahlawan tanpa jasa ini kemudian pada tahun 2007 diganti dengan engkau patriot pahlawan bangsa, pembangun insan cendekia.

Dalam lingkaran seni bagaimana kondisi dan keprihatinan seorang guru bisa kita dengarkan lagunya Iwan Fals "Oemar Bakrie" dan filmnya yang dibintangi S. Bagyo serta puisinya Hartoyo Andangjaya atau lebih pilu  "Kapan Sekolah Kami Lebih Baik dari Kandang Ayam" karya Prof. Dr.  Winarno Surakhmad. Mari kita simak puisi Hartoyo Andangjaya di bawah ini :

DARI SEORANG GURU KEPADA MURID-MURIDNYA

Karya : Hartoyo Andangjaya

 

Apakah yang kupunya, anak-anakku

selain buku-buku dan sedikit ilmu

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2