Saeran Samsidi
Saeran Samsidi

Saeran Samsidi alias Pak Banjir wong Banyumas sing coag, cablaka tur semblothongan!

Selanjutnya

Tutup

Politik

Copas 212 Urung pada Pilkada 2018 Banyumas

12 Januari 2018   07:38 Diperbarui: 12 Januari 2018   08:37 918 0 1
Copas 212 Urung pada Pilkada 2018 Banyumas
detik

Alhamdulillah, "efek Ahok' tidak jadi melanda Pilkada 2018 Banyumas dan copy paste 212 urung dilaksanakan di Tlatah Penginyongan. Dua pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Banyumas mendaftar ke KPU. Dua pasangan ini adalah Achmad Husain dan Sadewo Tri Lastiono dan pasangan Mardjoko dan Ifan Haryanto. Demikian koran-koran lokal di Purwokerto mengabarkan.

Dokter Budhi Setiawan Ketua DPC PDIP Banyumas mengantarkan  pasangan Achmad  Husein yang bupati petahana dan Sadewo Tri Lastiono Ketua Umum DKKB (Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas) mendaftarkan diri ke KPU Banyumas. Dokter Budhi sendiri yang petahana wakil bupati mengundurkan diri dari pencalonannya dan rekomendasi dari DPP PDIP diberikan kepada Husain-Dewo, Kiye Bae Lanjutkan, Pas Nggo Banyumas begitulah slogannya berdua.

Lawannya adalah pasangan Mardjoko -- Ifan Haryanto yang diusung oleh Gerindra, PKS, PAN, Golkar, PKB. Sedangkan Husein -- Dewo diajukan oleh PDIP, Nasdem dan Demokrat. Dua kubu koalisi yang selalu bertarung berhadap-hadapan  di berbagai daerah pada Pilkada 2018 ini. Apakah pertarungan dua kubu ini khususnya PDIP dan koalisinya di pemerintahan dengan oposisi lawannya  yang dikomandani Gerindra akan berlangsung seru sengit dan dramatis di Pilkada Banyumas?

Copas 212

Seandainya  Budhi Setiawan yang direkomendasi DPP PDIP  untuk maju jadi calon bupati maka mak nyuuuuussss ... jan ampuh banget copy paste 212 diterapkan. Amunisi SARA yang diberondongkan ke Ahok -- Djarot pada Pilkada 2017 DKI yang meluluhlantakan pasangan petahana ini bahkan menjebloskan Ahok ke bui bisa saja meledak di Banyumas. Identitas Budhi Setiawan sama dengan Ahok (klik di sini) maka efek Ahok mungkin bisa memakan korban di Banyumas.

Apa lagi Sekjen Forum Umat Islam (FUI) Al-Khaththath yang  ikut hadir saat La Nyalla Mattalitti menggelar jumpa pers yang berisi pengakuan dimintai duit oleh Ketum Gerindra Prabowo Subianto secara terang-terangan sudah   mengungkapkan kekecewaanya "Pesan Habib Rizieq ketika saya pergi ke Mekah, meminta kepada tiga pimpinan partai supaya meng-copas (copy-paste) yang ada di Jakarta supaya mendapatkan kemenangan di provinsi-provinsi lain. Nah, tentunya saya nggak tahu apakah ada mispersepsi seolah-olah kita mendukung dengan cek kosong. Mungkin pemahaman mereka seperti itu," tutur Al-Khaththath.


"Kita mendukung munculnya Gubernur Anies-Sandi dengan semangat 212, semangat Al-Maidah 51.Kita berharap hal itu terjadi di tempat-tempat lain" begitulah Al-Khathathath. Demikian dikutip dari berita DetikNews, Kamis, 11 Januari 2018 lalu.

Mungkin dokter Budhi menyadari identitas dirinya. Namun ketika ia bertarung di Pilkada Banyumas tahun 2013 berpasangan dengan Achmad Husain berhadapan dengan Mardjoko-Gempol yang petahana pasangan Husain-Budhi melenggang meraih kemenangan. Waktu itu belum ada ledakan virus SARA yang menjadikan Pilkada 2107 DKI sebagai kontesttasi demokrasi yang paling brutal dalam sejarah perebutan kekuasaan.

 Lain halnya pascaPilkada DKI 2017, copy paste 212 dan semangat Al-Maidah yang akan diterapkan kelompok ini di Pilkada di beberapa daerah seperti diungkapkan Sekjen FUI Al-Khaththah ini mungkin akan  meluluhlantakkan bangunan keberagaman, keterbukaan dan saling menghargai masyarakat Banyumas.

Bersyukurlah, dua pasang yang berhadapan head to head dalam pertarungan Pilkada 2018 Banyumas ini tidak terindikasi adanya unsur SARA untuk diamunisikan. Namun kita harus tetap waspada, sekecil apa pun celah, termasuk politik uang yang masih kerap digunakan harus disterilkan. Jangan sampai politik Machiavelli merasuk membumbui hasrat  berkuasa merusak akal budi dan prinsip-prinsip demokrasi yang kita junjung tinggi. Eh .... sapa ngertikasus Abdullah Azwar Anas nyelonong neng Banyumas!