Mohon tunggu...
Saepullah
Saepullah Mohon Tunggu... Guru - Aku adalah manusia pembelajar, berusaha belajar dan juga berbagi info yang baik untuk perbaikan diri selaku manusia. Melihat info yang kubagikan bisa melalui: https://www.ceritasae.blogspot.com https://www.kompasiana.com/saepullahabuzaza https://www.twitter.com/543full https://www.instagram.com/543full https://www.youtube.com/channel/UCQ2kugoiBozYdvxVK5-7m3w menghubungi aku bisa via email: saeitu543@yahoo.com

Aku adalah manusia pembelajar, berusaha belajar dan juga berbagi info yang baik untuk perbaikan diri selaku manusia. Melihat info yang kubagikan bisa melalui: https://www.ceritasae.blogspot.com https://www.kompasiana.com/saepullahabuzaza https://www.twitter.com/543full https://www.instagram.com/543full https://www.youtube.com/channel/UCQ2kugoiBozYdvxVK5-7m3w menghubungi aku bisa via email: saeitu543@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Santri Sudah Saatnya untuk Tidak Gagap Teknologi

22 Oktober 2021   10:03 Diperbarui: 22 Oktober 2021   17:33 578
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

            Santri identik dengan seseorang yang pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren. Santri terbagi dalam santriwan (santri putra) dan santriwati (santri wanita). Santriwan biasanya selalu menggunakan kopiah dan sarung dengan menyandang Al-Quran dan tasbih. Santriwati justru dengan mengenakan hijab atau mukena dengan menyandang Al-Qur'an dan juga tasbih.

            Santri dengan sebuah fenomena teknologi justru diperlukan. Jika dilihat fenomena saat di pesantren, biasanya alat komunikasi semisal perangkat telepon pintar atau bahkan laptop tidak diperkenankan memasuki pondok. Namun, dengan kondisi pandemi Covid 19 justru santri harus dan wajib menggunakan smartphone dan/atau laptop saat melaksanakan pembelajaran. Ini sebuah peningkatan yang perlu diapresiasi.

            Teknologi bukan lagi menjadi sandungan bagi para santri. Teknologi pula harus dimiliki dan digaungkan oleh santri. Santri menggunakan teknologi untuk menyebarkan dakwah dan nilai-nilai islami.

            Proses menjadikan santri untuk tidak gagap teknologi memang perlu kegigihan. Beberapa upaya juga harus diusahakan untuk melaksanakan hal tersebut. Pihak-pihak yang mendukung adanya sebuah nilai kesantrian juga perlu dibangkitkan untuk tidak gagap teknologi.

            Diawali sebuah pemahaman kepada pihak/pemangku jabatan dalam kultur pondok untuk paham terhadap teknologi. Dengan adanya pemahaman akan nilai dan pentingnya teknologi menuju era 5.0 saat ini justru lebih baik.

            Para pemangku seperti pak kyai dan juga para musyrif juga paham terhadap adanya teknologi semisal aplikasi komunikasi (Whatsapp, Telegram, Line), aplikasi diskusi atau pertemuan (Zoom Meeting, Webex Meeting, Google Meet), hingga kepada media sosial (FB, Twitter, instagram, tiktok, youtube).

            Pemahaman terhadap aplikasi yang ada saat ini yang sedang populer adalah sebuah kelaikan. Penggunaan ke arah yang lebih baik tentu menjadikan sebuah nilai dakwah yang terhingga pula. Bahkan nilai pahala akan mengalir dengan begitu lancar dari dakwah yang ditebarkan melalui dunia digital. Kok Bisa???

            Tentu saja bisa, ya.. Dengan sebuah penyebaran nilai-nilai agama baik itu dalam bentuk ceramah langsung melalui aplikasi pertemuan hingga siaran langsung di kanal media sosial. Ini salah satu yang bermanfaat untuk bisa dilakukan bagi para santri. Bukan hanya sistem ceramah saja sebenarnya, melalui media flyer atau disain grafis pun sangat bisa dilakukan untuk berdakwah nilai-nilai kebaikan.

            Media sosial semisalnya saja seperti tiktok yang katanya banyak keburukannya. Nah, justru bagi para santri tidak boleh gagap terhadap media sosial tersebut. Para santri wajib dan harus memiliki kanal sendiri di media tersebut. Membuat sebuah video dakwah untuk disebarkan dalam media sosial tiktok tersebut. Akankah itu mubadzir??? Sejujurnya sich tidak ya..

            Jika berhenti untuk tidak mengenali teknologi justru banyak masyarakat yang tidak merasakan indahnya nilai-nilai kebaikan dalam berdakwah. Para santri dengan jiwa milenial bahkan generasi Z bisa dipastikan memiliki daya kreasi yang lebih baik dan di luar dugaan para generasi old (milenium).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun