Wahyuni Susilowati
Wahyuni Susilowati Penulis

pengembaraan raga, penjelajahan jiwa, perjuangan menggali makna melalui rangkaian kata ....\r\n( https://twitter.com/zayshello )

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Abuya Ahmad Anshari, Ibarat Bara Api Pembakar Kayu Gaharu

11 Desember 2015   06:40 Diperbarui: 11 Desember 2015   17:42 1126 1 0

[caption caption="Aktifitas KH Ahmad Anshari saat Idul Khotmi lalu (dok WS)"][/caption]

“Kita tidak perlu membenci atau memusuhi mereka.” Tegas KH Ahmad Anshari bin Hasan Basri Al-Banjari (62) saat ditanya bagaimana menyikapi berbagai status provokatif yang memperlihatkan intoleransi antar umat beragama yang marak bertebaran di akun-akun medsos belakangan ini,” Anggap saja mereka (para pembuat status negatif, -pen.) itu bara api yang membakar kayu gaharu.”

Kayu gaharu (Aquilaria malaccensis) adalah jenis kayu termahal di dunia karena kandungan resinnya yang berbau harum dan banyak digunakan dalam industri kosmetika maupun obat-obatan. Di mata Ahmad Anshari, yang merupakan salah seorang dari duabelas khaidim Thoriqoh Tijani di Indonesia, berbagai kampanye hitam yang  bertubi-tubi dilancarkan pada ajaran Islam yang sangat diyakininya tersebut bukanlah sebuah fenomena yang harus membangkitkan kemarahan,”Saat kayu gaharu terbakar, aroma harumnya akan membangkitkan rasa ingin tahu dan selanjutnya mengundang orang untuk datang mengenal lalu mempelajarinya.” Seterusnya tinggal menunggu turunnya hidayah yang merupakan hak veto Rabb Azza wa Jalla.

Selepas kelas satu di madarasah aliyyah, anak sulung dari tujuh bersaudara yang di lingkungan terdekatnya akrab dipanggil Abuya (ayah, -pen.) ini sempat bekerja sebagai pendulang intan sampai tahun 1975, ada yang mengajaknya untuk bekerja di Mekah, Saudi Arabia. Kesempatan mencari nafkah yang lebih baik ditambah peluang untuk memperdalam pengetahuan tentang Islam di tanah kelahiran Rasul Saw membuat Anshari tak membuang waktu untuk menyambut ajakan itu.

Delapan tahun pertama di Tanah Suci dia berganti-ganti pekerjaan kasar yang rupanya sangat menyita waktu dan energi hingga proses belajar formalnya tak berjalan mulus. Dia hanya sempat mengenyam pendidikan formal selama setahun di Madrasah Shaulatiyah dan belajar secara insidentil pada beberapa guru setempat. Lalu perjalanan takdir membawanya pada profesi sebagai penjaga toko arloji yang memberinya waktu luang seusai kerja untuk membaca dan mempelajari secara otodidak kitab-kitab kuning (buku-buku pelajaran berbahasa Arab yang biasa digunakan di pesantren dan dicetak pada kertas berwarna kuning, -pen.).  Dia pun melanjutkan berguru pada beberapa ulama di sana, baik secara tidak langsung melalui kitab-kitab yang mereka tulis (tercatat nama-nama Sayyid Muhammad Al-Maliki, Habib Salim bin Abdurrahman Assegaf yang termasuk dalam kelompok ini), maupun secara langsung pada beberapa ulama Tijani, seperti Syaikh Idris bin Muhammad Abid Al-Iraqi dan Syaikh Hassan Az-Zakani yang menjadi tempat Anshari menuntut ilmu.

[caption caption="Bincang santai yang sarat gizi bagi jiwa dan pikiran (dok WS)"]

[/caption]

Duapuluh tahun lamanya berjibaku memperkaya diri dengan ilmu di Saudi Arabia, Ahmad Anshari menorehkan banyak catatan dalam perjalanannya sebagai ulama, termasuk saat membentuk pengajian khusus bagi para tenaga kerja Indonesia (TKI) di sana,”Banyak saudara-saudara kita yang berlalulalang di sekitar Mesjidil Haram dan tak ada yang menaruh perhatian pada kualitas ilmu ibadah mereka yang terbilang ala kadarnya .”Papar Abuya Anshari yang menindaklanjuti keprihatinannya itu dengan membentuk majelis pengajian khusus untuk para TKI pada tahun 1991.  Empat tahun kemudian, tepatnya pada 17 Agustus 1995, diantar langsung oleh gurunya Syeikh Idris bin Muhammad Abid Al-Iraqi , dia kembali ke Indonesia.Bahkan sang guru mendampinginya sampai ke rumah di Banjarmasin. Syeikh Idris menilai sudah waktunya Ahmad Anshari berkiprah lewat jalur dakwah di Tanah Air.

Momen lain yang tak terlupakan dari masa pengembaraannya sebagaimana yang dituturkan Abuya dalam perbincangan santai pagi (27/11) itu di Zawiyah Darul Fatih , Samarang, Garut; adalah saat Kerajaan Saudi memberinya ijin masuk ke dalam bangunan Ka’bah yang tengah mengalami perbaikan pada tahun 1995,” Di situ saya shalat sunnah empat raka­at, dan merasakan begitu dalam penga­laman ruhani yang sulit diceritakan dengan kata-kata,”

Lelaki yang senantiasa tampil rapi dan berpembawaan tenang ini membangun perusahaan travel keluarga di Banjarmasin, disamping itu Abuya juga mendirikan Yayasan Al-Anshari yang di dalamnya bernaung Ma’had Al-Anshari, yaitu pondok pesan­tren anak-anak balita khusus untuk dididik belajar menghafal Al-Qur’an. Di pondok ini para santri tinggal di asrama dengan beasiswa penuh dari yayasan meliputi biaya makan harian, pakaian, pengi­napan, keperluan sekolah, keperluan sehari-hari, dan perawatan kesehatan.

”Salah satu amal yang kebaikannya mengalir terus sampai seseorang meninggal adalah anak saleh yang mendoakan, di pondok itu saya mengajari anak-anak untuk mendoakan orangtua mereka minimal tujuh kali di pagi dan sore hari.” Tutur Abuya seraya berkisah betapa bahagia para bunda dan ayahanda anak-anak tersebut saat diberitahu soal itu,”Mereka senang sekali.”

Abuya yang membatasi dakwahnya pada pengajian khusus, khutbah Jumat, dan khutbah nikah karena memilih untuk fokus membimbing umat Thoriqoh Tijani di Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Bangka-Belitung, serta Batam ini juga dikenal sebagai penulis yang produktif. Ada sekitar 50 judul buku telah ditulisnya dalam rentang waktu 12 tahun terakhir yang diedarkan untuk kalangan internal Tijani.

“Cuma ada suka kok…” Ujar Abuya sekilas tersenyum saat ditanya suka-dukanya berdakwah,”Laa tahzan, jangan bersedih … yang kita bawa adalah ajaran Allah Swt yang sudah dijamin kebenaran dan kebaikannya, kalau pun butuh waktu panjang itu sama halnya dengan proses petani mengolah tanah, menyemai benih, menanam bibit, dan melakukan pemeliharaan sebaik mungkin untuk mendapatkan hasil panen yang bagus pula.”