Mohon tunggu...
Wahyuni Susilowati
Wahyuni Susilowati Mohon Tunggu... Penulis, Jurnalis Independen

pengembaraan raga, penjelajahan jiwa, perjuangan menggali makna melalui rangkaian kata .... https://web.facebook.com/wahyuni.susilowati

Selanjutnya

Tutup

Sehat dan Gaya Pilihan

Menolak Tepar Sepanjang Sisa Ramadan

20 April 2021   09:39 Diperbarui: 20 April 2021   09:52 436 7 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Menolak Tepar Sepanjang Sisa Ramadan
Nutrisi berbahan herbal alami yang berkualitas sangat diperlukan untuk menjaga stamina selama menjalankan puasa Ramadan (dok. Bonny, Deltomed, Healthline, honey.com/ed.WS)

Rencana saya untuk mengikuti edisi perdana sholat Tarawih berjamaah di masjid awal Ramadan (12/4) lalu nyatanya tidak terealisir karena saya terpaksa harus menundanya.  Apa pasal?

Beberapa hari sebelumnya saya kelewat asyik berkegiatan ekstra sana-sini dan, akibat terlalu menikmati sejumlah aktifitas itu namun lalai memastikan asupan nutrisi berimbang , rupanya tanpa sadar tabungan energi tubuh untuk menjaga kondisi stamina dasar ikut terkuras. Singkat kata saya menjadi sangat kelelahan alias tepar justru di momen yang sangat dinantikan. Sesuatu yang berlebihan memang tidak baik.

Begitulah, akhirnya Tarawih jilid pertama harus saya dirikan secara munfarid di mushola. Lamat-lamat bacaan surah-surah para imam yang tengah memimpin sholat berjamaah di masjid-masjid di wilayah sekitar basecamp mengalun dari pengeras suara menyentuh hati, menuntun saya berintrospeksi seputar faktor utama yang menyebabkan energi tubuh begitu terkuras.

Saat duduk di mushola selepas sholat, saya lepaskan pikiran untuk bergerak melacak berbagai hal yang mungkin menjadi penyebab anjloknya stamina saya. Berkelebat dalam benak  prinsip dasar kesemaptaan jasmani yang terlupakan.

Salah satu senior saya di Resimen Mahasiswa Mahawarman yang juga penggerak Search and Rescue (SAR) dan kegiatan kebencanaan di Jawa Barat, mendiang Kang Herry Macan ( Al Fatihah untuk beliau), pernah mengajarkan bahwa saat kita super sibuk sampai harus memotong kuota waktu tidur optimal, maka pastikan tubuh mendapat asupan bergizi sebagai kompensasi agar stamina dan kesehatan kita tidak anjlok.  

Saya langsung sadar bahwa selama beberapa malam sebelumnya sudah melalaikan rutinitas minum sesendok madu plus segelas air putih sebelum tidur. Keteledoran yang harus dibayar mahal dengan mengorbankan momen Tarawih pertama Ramadan tahun ini yang sangat berharga.

Madu yang saya konsumsi saat ini merupakan hasil peternakan lebah non komersial di Lombok. Beberapa waktu lalu salah seorang yunior saya kondangan ke pernikahan sobatnya di sana dan membawakan sejeriken kecil madu sebagai oleh-oleh. Dia tidak bisa mendapat lebih banyak karena  madu yang dihasilkan oleh peternakan lebah tersebut hanya ditujukan untuk konsumsi keluarga pemiliknya dan kuantitas panennya pun terbatas, sehingga mereka tidak menjualnya ke pasaran bebas. Masalahnya, persediaan madu saya sudah menipis.

Saya pun mulai mencari-cari produk pengganti  berkhasiat setara atau malah lebih dengan kriteria utama, yaitu harus bersertifikat halal Majelis Ulama Indonesia (MUI), dibuat dengan bahan-bahan sealami mungkin, dan mudah diperoleh di pasaran.

Setelah berselancar lintas situs akhirnya saya menemukan KOJIMA yang merupakan madu dengan 3 kebaikan yaitu korma, jinten (habbatussauda), dan madu. Akronim nama KOJIMA memang diambil dari ketiga bahan utama yang digunakan untuk membuat produk nutrisi tersebut.

Kriteria pertama saya telah terpenuhi karena, sebagaimana dirilis dkm.or.id, KOJIMA telah didaftarkan oleh produsennya PT Deltomed  Laboratories ke  Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika (LPPOM) MUI sebagai produk dalam kategori Jamu (Herbal). Kini produk yang aman dikonsumsi oleh balita sampai lansia tersebut telah memiliki sertifikat halal dengan nomor 00130013631000 yang berlaku sampai dengan 7 Juli 2022.

Pada sebuah webinar bertema 'Cara Baru Mama Ungkapkan Cinta' yang diselenggarakan pada 16 Februari 2021 lalu, sebagaimana dirilis popmama.com; salah seorang narasumber yang juga pengurus Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradsional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI) Dr. Muthoharrah, M.Si, mengungkapkan bahwa di tengah kecamuk pandemi saat ini, kekebalan (imunitas) tubuh terhadap serangan penyakit harus sangat dijaga dengan cara, salah satunya, mengkonsumsi makanan herbal alami alias living food berkualitas.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN