Mohon tunggu...
Wahyuni Susilowati
Wahyuni Susilowati Mohon Tunggu... Penulis, Jurnalis Independen

pengembaraan raga, penjelajahan jiwa, perjuangan menggali makna melalui rangkaian kata .... https://web.facebook.com/wahyuni.susilowati

Selanjutnya

Tutup

E-Sport Pilihan

Bocah 18 Tahun Pendiri Liga E-Sports Terbesar di AS

2 Februari 2020   06:31 Diperbarui: 2 Februari 2020   06:32 44 7 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Bocah 18 Tahun Pendiri Liga E-Sports Terbesar di AS
Jordan Zietz (18) pendiri liga esports terbesar di AS (doc.Sun Sentinel/ed.Wahyuni)

Ketika Jordan Zietz ingin membentuk tim e-sport di sekolah menengahnya, dia kecewa mendapati bahwa berpartisipasi dalam liga akan menelan biaya ratusan dolar per tahun. Dia menganggap itu sebagai bentuk ketidak-adilan, sementara siswa dapat bermain sepak bola atau bola basket secara gratis namun tidak demikian halnya dengan e-sports.

Hal di atas mendorong Jordan pada bulan April 2019, saat itu masih berusia 17, merintis berdirinya All-Star eSports sebagai liga bermain gratis dimana para siswa tidak perlu membayar untuk mendaftar atau mendapat tiket musiman sebagai syarat untuk mengambil hadiah (CNBC, 29 Januari 2020).

All-Star eSports kini mengklaim diri sebagai liga e-sports terbesar di Amerika Serikat, dengan 20.357 sekolah menengah terdaftar sebagai peserta plus menawarkan hadiah terbesar dalam sejarah senilai USD 6,6 juta.  Hadiah itu termasuk beasiswa untuk masuk jurusan e-sports di universitas.

Jordan, siswa sekolah bergengsi Pine Crest School di Florida, sebelumnya sudah memiliki pengalaman sebagai pengusaha digital dengan mendirikan perusahaan perangkat lunak virtual reality GameReef pada tahun 2018. Kewirausahaan memang mengalir dalam keluarganya dimana sang ayah Sam Zietz merupakan CEO perusahaan solusi pemrosesan TouchSuite dan kakak perempuannya Rachel Zietz telah mendirikan bisnis peralatan olahraga Gladiator Lacrosse saat masih berusia 13 tahun.

All-Star eSports memperoleh pendanaan melalui kemitraan strategis dengan para sponsor dan universitas serta perputaran dana swasta. Salah satu investornya adalah presiden perusahaan pembuat  game controller PowerA, Eric Bensussen, namun Jordan menolak mengungkap nilai investasinya. Dia mengatakan bahwa pembeda liganya dengan liga esports lain adalah bahwa liga All-Star eSports dibuat 'oleh pemain, untuk pemain' dengan staf pengelola gabungan anak-anak SMA dan orang dewasa.

Universitas pertama yang menawarkan beasiswa esports, menurut situs beasiswa First Point USA, adalah Robert Morris University di Chicago pada tahun 2014. Saat ini, Jordan menambahkan, tidak kurang dari 200 universitas di AS menawarkan beasiswa e-sports dan nilai hibahnya sejak 2014 telah bertumbuh 250% dari tahun ke tahun.

Jordan yang sekarang berusia 18 tahun adalah seorang siswa sekolah menengah atas dan terlepas dari keberhasilan bisnisnya, dia berencana untuk melanjutkan ke perguruan tinggi setelah ia lulus. Dia mengatakan bahwa pentingnya pendidikan adalah sesuatu yang ditanamkan dalam dirinya sejak usia dini.

"Saya rasa itu sebabnya saya sangat bersemangat tentang kumpulan hadiah di liga ini yang banyak berupa beasiswa. Saya tidak ingin melestarikan stereotip seorang atlet e-sports harus putus sekolah untuk menyempurnakan ketrampilan mereka,"Paparnya.

Namun terlepas dari pendekatan disiplin untuk menyeimbangkan antara bermain dan aktifitas akademik, Jordan mengatakan bahwa salah satu kualitas yang dia lihat dari beberapa pemain liga yang sukses adalah kemampuan mereka untuk bersenang-senang.

"Bukankah itu sesuatu yang ingin dilakukan semua orang? Menemukan sesuatu yang menyenangkan dan menjadikannya pekerjaan?" Kata Jordan. 

VIDEO PILIHAN