Mohon tunggu...
Wahyuni Susilowati
Wahyuni Susilowati Mohon Tunggu... Penulis, Jurnalis Independen

pengembaraan raga, penjelajahan jiwa, perjuangan menggali makna melalui rangkaian kata .... https://web.facebook.com/wahyuni.susilowati

Selanjutnya

Tutup

Bisnis

Transformasi Lippo Group Paska Kasus Suap Meikarta

12 Desember 2019   09:13 Diperbarui: 12 Desember 2019   09:27 278 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Transformasi Lippo Group Paska Kasus Suap Meikarta
John Ryadi, generasi ketiga pemegang kepimimpinan Lippo Group dan latar pembangunan mangkrak Meikarta (doc.Kompas,Kontan/ed.Wahyuni)

Hari ini (12/12) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah mengagendakan pemeriksaan terhadap CEO Lippo Group, James Riady, sebagai saksi terkait kasus dugaan suap pengurusan perizinan proyek pembangunan Meikarta di Bekasi milik Lippo Group (medcom.id, 12 Desember 2019).

Kasus Meikarta memang merupakan pukulan telak bagi perkembangan kelompok bisnis ikonik tersebut, lantas bagaimana kondisi Lippo Group saat ini ?

Perombakan radikal harus dilakukan justru pada saat salah satu konglomerasi terbesar di Asia itu harus bersiap-siap untuk menghadapi masa sulit yang mereka yakini sebagai periode pertumbuhan ekonomi yang lambat. Atau sebagaimana John Riady (34), pewaris kelompok itu, menyebutnya sebagai 'akhir dari salah satu siklus kredit terbesar dalam sejarah ekonomi modern' (Nikkei Asian Review, 10 Desember 2019).

Pada sebuah kesempatan wawancara dengan Wataru Suzuki dan Jun Suzuki dari Nikkei Asian Review  di Tokyo, John yang merupakan cucu dari miliarder pendiri Lippo Mochtar Riadi tersebut memaparkan bahwa "Hari ini ketika tingkat pertumbuhan mulai melambat, strategi kami juga harus digeser (disesuaikan)."Tuturnya seraya menambahkan,"Kita harus lebih fokus pada keunggulan operasional. Ini tentang intensifikasi dan menjadi operator terbaik."

Pergeseran ini menandai babak baru bagi konglomerat ikonik yang dikendalikan keluarga Riady, yang pada bulan Maret menyatakan John Riady sebagai pewaris sekaligus CEO bagi primadona mereka, yaitu perusahaan developer properti Lippo Karawaci. Perusahaan yang terdaftar di Indonesia itu merupakan pengembang utama properti perumahan dan komersial di dalam maupun sekitar Jakarta yang memiliki catatan penjualan lebih dari 10 triliun rupiah per tahun.

"Di masa lalu, kami mengorganisir diri di 13 sektor bisnis. Hari ini, kami telah membaginya ... menjadi dua kelompok besar," Kata John "Yang pertama adalah sektor strategis utama kami dan bisnis yang kami inginkan untuk (berkembang pada periode) 10 hingga 15 tahun ke depan. Grup kedua adalah untuk yang lainnya."

John, yang telah menetapkan transparansi dan tata kelola sebagai dua faktor utama manajemennya, mengatakan bahwa sektor bisnis inti yang terdiri atas real estate dan layanan kesehatan akan dioperasikan oleh Lippo Karawaci. Seorang eksekutif senior mengemukakan bahwa divisi bisnis di luar grup inti harus 'kami jual semuanya'.Perusahaan dalam kategori terakhir ini termasuk Ovo dan Grab dimana Lippo memutuskan untuk menjual saham mereka yang ditanamkan pada operator pengelola dua layanan tersebut.

Transformasi Lippo terjadi justru pada saat tingkat pertumbuhan Indonesia terkunci di di 5%, poin persentase di bawah rata-rata regional, menurut perkiraan International Monetary Fund (IMF), dan merupakan tanda penurunan ekonomi yang nampaknya memang tengah melanda Asia. Mengantisipasi perlambatan itu, Lippo Karawaci mengumpulkan USD 788 juta dalam penawaran umum terbatas pada bulan Juli dan menjual sahamnya di perusahaan patungan Myanmar sebesar USD 20 juta, dengan demikian dana terkumpul untuk digunakan membeli aset murah di saat krisis.

John berkeinginan menumbuhkan properti yang dikelola oleh badan perwalian (trusts) investasi real estate dari sekitar USD 8 miliar menjadi setidaknya USD 100 miliar dalam 10 tahun ke depan, hal itu akan membuat Lippo mampu menyamai skala perusahaan sejenis seperti CapitaLand yang terdaftar di Singapura.

Sementara itu meski, menurut John, Lippo Karawaci memiliki rasio hutang terhadap modal bersih perusahaan sebesar 21% atau sekarang termasuk yang terendah di kalangan industri; nampaknya mereka masih harus berjuang keras untuk mendapat penilaian bagus dari lembaga perkreditan. Keluarga besar Riady memang harus mengupayakan yang terbaik untuk bisa membangun kembali kepercayaan investor setelah tuduhan penyuapan terkait Meikarta menodai reputasi bisnis mereka.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x