Mohon tunggu...
Wahyuni Susilowati
Wahyuni Susilowati Mohon Tunggu... Penulis, Jurnalis Independen

pengembaraan raga, penjelajahan jiwa, perjuangan menggali makna melalui rangkaian kata .... https://web.facebook.com/wahyuni.susilowati

Selanjutnya

Tutup

Fesyen Pilihan

Jeans Denim dan Fenomena Lelaki Metroseksual

23 November 2019   18:03 Diperbarui: 23 November 2019   18:03 0 2 0 Mohon Tunggu...
Jeans Denim dan Fenomena Lelaki Metroseksual
Pria metroseksual punya alokasi khusus untuk perawatan tubuh (doc.academiayog.com.mx/ed.Wahyuni)

Saat menyusuri trotoar di kawasan yang ramai, kita bisa melihat para pria dengan aneka model celana panjang. Dari mulai celana olahraga, atau celana utilitas warna cerah merek ACG keluaran Nike, korduroy bernuansa zaitun dari UniQlo, berbagai model kargo, sampai celana berbahan wol yang mewah.

Pokoknya semua jenis celana, yang merupakan produk perusahaan multi nasional atau vendor busana siap pakai, bisa ditemukan di jalanan.

Namun, menurut pengamat Ryan Bassil sebagaimana dilansir dalam laman Vice.com, kini sudah sangat jarang ditemukan pria berjalan-jalan mengenakan celana jeans denim,baik yang bermodel ketat-ramping atau sebaliknya longgar-lebar.

Tentu saja itu bukan berarti sudah tidak ada sama sekali pria yang memakainya karena seperti halnya kaus putih, mantel wol, jaket kulit, dan celana Calvin Klein yang pas; jeans denim adalah busana yang wajib ada dalam lemari pakaian.

Sayangnya tren busana yang tengah berkembang nampaknya telah menggoyahkan stabilitas jeans denim sebagai celana kasual dalam keseharian hidup para pria saat ini.

Buktinya H&M harus menghentikan produksi jeans denim Cheap Monday mereka tahun ini karena penjualan yang buruk. Rekannya Diesel USA mengajukan kebangkrutan pada tahun 2019. Sementara itu, Levi's bertahan karena sejarah klasiknya,namun pada kuartal ini laba dan saham mereka turun.

Pemandangan di jalan-jalan  kota dan laporan laba perusahaan akhir tahun membuktikan bahwa jeans tak mampu bersaing merebut hati para lelaki modern.

Sebagai barang mode, jeans itu telah melakukan perjalanan panjang dari mulai model boxy dan cuffed (1950-an), melebar di kaki dan bootcut (1960-an), lalu meramping (1970-an) sebelum melebar kembali sampai ke lingkar pinggang 127 cm paska-Y2K (2000-an).  Jeans mengetat kembali di era diskusi gegar budaya gelombang ketiga.

Namun jeans tidak berubah sendirian, gaya hidup pria pun mengalaminya. Mereka mulai serius merawat kulit, menindik hidung, tak lagi menutup-nutupi perasaan, dan selfie sepertinya sudah jadi keharusan dalam keseharian.

Metroseksual adalah istilah yang digunakan abad ini untuk menggambarkan lelaki yang sangat apik memilih busana dan rajin merawat tubuh. Ikon metroseksual yang paling terkenal dalam dekade ini, David Beckham, bahkan mengepang rambut dan mencat kukunya saat tampil di sampul sebuah majalah gay terbesar di Inggris.

Para lelaki di jalanan tentunya tak semua tergerak untuk tampil setotal itu, namun setidaknya mereka gemar belanja dan ingin selalu tampil wangi.

Kita hidup di era akselerasi kecepatan cahaya. Khusus untuk pria percepatan gaya hidup hadir dalam berbagai bentuk dari mulai perawatan diri sampai secara terbuka mengakui rasa sukanya terhadap album baru Ariana Grande, padahal lima tahun lalu tidak banyak pria yang berani melakukannya.

Wajah maskulinitas dan pemahaman apa artinya menjadi seorang pria pun telah mengalami perubahan. Seperti denim yang kini tak lagi populer dalam kehidupan lelaki karena tergusur paradigma baru tentang bagaimana maskulinitas harus ditampilkan.

Celana joging warna peach, korduroy hitam, atau mengenakan sesuatu yang penuh blink-blink tak lagi jadi pantangan bagi seorang lelaki.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x