Mohon tunggu...
Wahyuni Susilowati
Wahyuni Susilowati Mohon Tunggu... Penulis, Jurnalis Independen

pengembaraan raga, penjelajahan jiwa, perjuangan menggali makna melalui rangkaian kata .... https://web.facebook.com/wahyuni.susilowati

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Polusi Udara Memicu Gangguan Jiwa?

27 September 2019   20:19 Diperbarui: 27 September 2019   20:41 0 1 2 Mohon Tunggu...
Polusi Udara Memicu Gangguan Jiwa?
Polusi udara berpotensi menimbulkan depresi dan kecemasan berlebih (doc. Dunya news/ed.Wahyuni)

Udara yang bersih dan kondusif untuk pernapasan merupakan isu yang cukup krusial di tengah maraknya kasus kabut asap yang merupakan dampak kebakaran hutan-lahan beberapa bulan terakhir ini. Namun selain gangguan pernapasan, polusi udara diperkirakan berpengaruh pula terhadap kesehatan mental.

Sebuah studi terbaru menemukan bahwa anak-anak yang terpapar polusi udara kadar tinggi memiliki resiko yang jauh lebih besar untuk dilarikan ke ruang perawatan gawat darurat akibat masalah kesehatan mental dibanding anak-anak yang terpapar lebih rendah (Environmental Health News, 25 September 2019).

Para peneliti dari Cincinnati Children's Hospital Medical Center dan University of Cincinnati melakukan pengujian terhadap  13,176 kunjungan ke ruang gawat darurat (RGD) yang dilakukan oleh 6,812 anak-anak dalam periode 2011-2015 karena mengidap berbagai gangguan psikiatrik seperti kecemasan, depresi, gangguan bipolar, kecenderungan bunuh diri, gangguan kepribadian dan skizoprenia.

Mereka kemudian melakukan taksiran kadar keterpaparan anak-anak itu terhadap polusi partikel kecil (PM2,5  dari periode tiga hari sebelum mereka masuk ke RGD dan menemukan bahwa  setiap peningkatan paparan PM2.5 sebesar 10 mikrogram per meter kubik akan diikuti dengan kenaikan jumlah kunjungan RGD.

Pada Agustus 2019 lalu, sebuah penelitian besar di Denmark dan Amerika menemukan orang yang terpapar polusi udara tingkat tinggi memiliki peluang lebih besar untuk menderita penyakit kejiwaan seperti depresi, skizofrenia, atau gangguan bipolar.

Hasil penelitian di Denmark menunjukkan bahwa orang dengan paparan polusi udara tertinggi memiliki resiko 148 persen lebih tinggi terkena skizofrenia dan 162 persen lebih tinggi mengalami gangguan kepribadian disbanding mereka yang terpapar polusi lebih rendah.

Dua penelitian dengan subyek penelitian anak-anak di Cincinnati sebelumnya menunjukkan hal serupa. Pada bulan Mei para peneliti melakukan pengukuran terhadap penanda respon neuroinflamasi otak anak-anak dan menemukan polusi udara yang ditimbulkan sistem lalulintas ternyata berkaitan dengan munculnya kecemasan yang lebih tinggi pada anak-anak. Bahkan sebuah studi pendukung menunjukkan bahwa anak-anak melaporkan sendiri kalau polusi udara membuat depresi dan kecemasan mereka meningkat.

"Secara kolektif, penelitian ini memperkuat bukti bahwa paparan polusi udara selama awal kehidupan dan masa kanak-kanak dapat berkontribusi pada depresi, kecemasan, dan masalah kesehatan mental lainnya pada masa remaja," kata Patrick Ryan, seorang profesor dan peneliti di Jurusan Pediatrik University of Cincinnati

Belum sepenuhnya jelas bagaimana polusi udara dapat memicu timbulnya masalah kesehatan mental, namun penelitian sebelumnya pada hewan pengerat menunjukkan paparan polusi dapat mengakibatkan peradangan dan kematian sel di jaringan otak. Hal tersebut berpotensi menyebabkan dan memperburuk gangguan kejiwaan.

 PM2.5 adalah partikel halus berdiameter kurang dari 2,5 mikron yang terdiri dari partikel, gas, logam, dan bahan kimia beracun lainnya. Partikel itu merupakan polutan yang terbentuk dari aktifitas lalulintas, pembangkit listrik, kebakaran, dan sumber lainnya. Ukuran yang super kecil memudahkannya menyusup ke tubuh menyebabkan stres oksidatif dan peradangan, termasuk pada sel-sel yang penting bagi otak dan kesehatan mental.

Para peneliti mengusulkan penelitian lebih lanjut untuk mengkonfirmasi bagaimana dan seberapa besar dampak polusi udara terhadap kesehatan mental.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x