Mohon tunggu...
Wahyuni Susilowati
Wahyuni Susilowati Mohon Tunggu... Penulis, Jurnalis Independen

pengembaraan raga, penjelajahan jiwa, perjuangan menggali makna melalui rangkaian kata .... https://web.facebook.com/wahyuni.susilowati

Selanjutnya

Tutup

Karir Pilihan

Pria Hitam Berotot Masriadi Bernilai Jutaan Dollar

19 Agustus 2019   10:17 Diperbarui: 19 Agustus 2019   10:31 148 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pria Hitam Berotot Masriadi Bernilai Jutaan Dollar
I Nyoman Masriadi dengan latar lukisan 'Untitled Book' (doc. South China Morning Post/ed.Wahyuni)

Pada ajang pameran seni rupa Art Basel Hong Kong 2019 yang telah berlangsung akhir Maret lalu terdapat karya-karya seniman Indonesia yang telah menjadi koleksi galeri-galeri terkemuka dunia yang ikut dipajang di sana. 

Art Basel adalah ajang tahunan yang rutin digelar di tiga tempat Basel (Swiss), Miami Beach (Florida), dan Hong Kong dengan misi mempertemukan karya-karya seni rupa dengan para kolektor yang apresiasi maupun finansialnya tinggi.

Di area pajang galeri Sullivan-Strumpf pengunjung menemukan sebuah lukisan karya seniman Indonesia dengan gaya khas yang sangat kuat setinggi hampir dua meter menggambarkan sosok seorang suhu tua botak berkulit hitam mengkilap di bawah sorotan cahaya menegaskan tubuh yang sangat berotot dengan jenggot putih menyemak di dagu, hanya mengenakan celana pendek, duduk bersila di atas tumpukan buku sembari mengangkat tinggi-tinggi sebuah buku tanpa judul yang merujuk pada judul lukisan itu, 'Untitled Book' (2019).

Bentuk serta fitur wajah dan telinga suhu itu di mata Guy Haydon, wartawan South China Morning Post,  sangat mirip dengan pelukisnya I Nyoman Masriadi (45) yang ditanggapi oleh lelaki jebolan Institut Seni Indonesia Yogyakarta tersebut sambil tersenyum,"Bukan, itu bukan saya.".

Lukisan itu telah laku terjual tanpa harus beredar ke pameran manapun, hanya dengan memperlihatkan fotonya saja seorang kolektor segera mengeluarkan mahar yang pastinya berkisar di jutaan dollar AS untuk memiliki 'Untitled Book'.

Sejuta dollar pertama Masriadi diperolehnya lewat lukisan tahun 2000 'The Man From Bantul (The Final Round)', tetap dengan sosok-sosok pria berotot di kanvas, yang terjual dalam sebuah pelelangan karya seni di Hong Kong tahun 2008 dan pada saat itu tercatat sebagai harga tertinggi untuk karya seni yang senimannya berasal dari Asia Tenggara dan masih hidup.

Masriadi yang ayahnya mencari nafkah sebagai pengukir kayu melanjut kegemaran masa kanak-kanaknya akan buku komik tentang para superhero yang punya kekuatan fantastis plus tubuh kuat ekstra berotot mereka sampai ke masa dewasa sebagai tambahan untuk membuat imajinasinya yang subur menjadi lebih berkilau. Termasuk kegilaannya bermain video games.

"Dulu sepulang sekolah saya pergi ke toko setempat untuk beli buku komik. Sekarang saya lebih menikmati main games di komputer. Jadi begitu malam-malam terbangun, hal pertama yang saya lakukan adalah bermain di komputer dan setelah itu barulah saya mulai melukis."

Hobi yang hampir menjadi obsesi untuk urusan main games inilah yang menginspirasi lukisan potret dirinya 'No More Game' yang menggambarkan sosok yang kelelahan dengan kepala bersandar ke belakang tengah duduk setengah merosot di kursi kerja.

"Sering kali butuh banyak waktu untuk menyatukan semua gagasan yang muncul karena kadang-kadang saya kelewat sibuk mengerjakan yang lain, seperti bermain di komputer." Paparnya.

Lukisan-lukisan figuratif dengan gaya yang sangat khas Masriadi bersentuhan dengan berbagai gagasan yang ada di benaknya saat melukis, termasuk soal kebiasaan, identitas, teknologi, materialism, dan maskulinitas. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN