Mohon tunggu...
Wahyuni Susilowati
Wahyuni Susilowati Mohon Tunggu... Penulis, Jurnalis Independen

pengembaraan raga, penjelajahan jiwa, perjuangan menggali makna melalui rangkaian kata .... https://web.facebook.com/wahyuni.susilowati

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Kamala Harris dan Bayang-bayang Barack Obama

27 Juli 2019   14:13 Diperbarui: 27 Juli 2019   14:20 0 1 0 Mohon Tunggu...
Kamala Harris dan Bayang-bayang Barack Obama
Kamala Harris melakukan debut di pilpres AS (doc. LA Magazine/ed.Wahyuni)

Publik Amerika Serikat (AS) kini sedang berada dalam kehangatan rangkaian debat publik antar para kandidat presiden yang akan bertarung di ajang pemilihan umum tahun 2020 mendatang. Debat ronde pertama  antara dua kandidat dari Partai Demokrat Kamala Devi Harris (54) dengan Joseph Robinette 'Joe' Biden Jr (77), mantan wakil presiden AS periode 2009-2017, tercatat paling banyak menyedot perhatian massa.

Pada momen yang diselenggarakan tanggal 27 Juni 2019 di Miami tersebut, Kamala berhasil menyudutkan Biden dengan mengangkat topik seputar posisi politikus kawakan itu dalam kebijakan busing (praktik mengangkut para pelajar ke sekolah-sekolah di dalam atau di luar distrik sekolah lokal mereka dengan tujuan membaiki segregasi sosial, -pen.) dan isu-isu rasial lainnya. Keunggulan itu sukses menempatkan Kamala di posisi atas berbagai poling pemilihan presiden (Washington Post, 18 Juli 2019). Kini Kamala dan Biden tengah bersiap-siap untuk beradu argumen dalam debat ronde kedua yang direncanakan berlangsung akhir bulan ini di Detroit.

Kamala adalah seorang pengacara yang pernah menduduki posisi Jaksa Distrik di San Fransisco (2004-2011) dan Jaksa Agung California (2011-2017). Kemampuan politiknya dinilai lebih natural ketimbang para kandidat presiden lain di Partai Demokrat. Selain itu fakta bahwa dirinya merupakan sosok perempuan berdarah campuran Afrika-Amerika yang merepresentasikan keberagaman ras bisa menjadi kekuatan tersendiri dalam partai yang acapkali terobsesi dengan identitas politik (Vanity Fair, 25 Juli 2019)

Kamala pun bukan berasal dari kalangan politik Washington yang telah menjadi anggota kongres selama kurang dari tiga tahun. Berbeda dengan Biden, Kamala tidak terperangkap selama puluhan tahun di Capitol Hill membuat pilihan-pilihan yang sulit atau terpaksa menyetujui berbagai kompromi yang dipaksakan.

Kesemua kualifikasi di atas mengingatkan orang pada kandidat Demokrat lain yang telah sukses menjadi presiden, yaitu Barack Obama. Itulah sebabnya sejumlah pendukung Partai Republik, yang dulu punya kesan baik tentang Obama, mengusulkan untuk mengundang Kamala sebagai tamu kehormatan saat partai tersebut mengumumkan nominasi kandidat presiden pilihan mereka di Milwaukee kurang setahun dari sekarang. Mungkinkah justru Kamala yang dipilih ?

Keunggulan saat debat ditambah kegagapan lawannya, Biden, saat dimintai tanggapan soal hal-hal yang telah dikerjakannya untuk mengendalikan para segregasionis dan keplinplanan politikus senior itu ketika membahas Hyde Amendment telah membuat seorang penggalang dana kampanye memutuskan berpindah ke kubu Kamala.

Tom McInerney, seorang pengacara kawakan San Fransisco, menyatakan bahwa dia tidak akan lagi membantu penggalangan dana kampanye bagi Biden dan memutuskan untuk mendukung Kamala (CNBC.com, 27 Juli 2019). Dia sangat terkesan dengan penampilan Kamala dalam debat pertamanya lalu.

"Kampanyenya terasa begitu kuat dan dia memiliki kemampuan untuk menarik sekaligus menyatukan semua elemen dalam Partai Demokrat,"Papar Tom, salah satu pemimpin pengumpulan dana kampanye presiden Barack Obama, tentang Kamala.

Bukan hanya Tom, tapi kalangan Wall Street juga menangkap gelombang antusiasme para donor potensial yang ingin bertemu langsung dengan Kamala dan berharap bisa menghadiri kegiatan kampanye kandidat Partai Demokrat itu selanjutnya.

Kita lihat apakah Kamala memang benar-benar mampu menjadi mimpi buruk bagi Donald Trump, kandidat terkuat Partai Republik, di tahun 2020 mendatang.