Mohon tunggu...
Sabrina Ainnur Hidayat
Sabrina Ainnur Hidayat Mohon Tunggu... Mahasiswa - Akun human

Heyo

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Pengamat Komplek

2 Desember 2022   14:07 Diperbarui: 2 Desember 2022   14:12 130
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Inilah jalan hidupku yang hanya ditakdirkan sebagai pemerhati yang baik. Segala kejadian aku lihat tanpa harus berkutik apapun, terkadang aku tiba-tiba dibutakan dengan segala cara. Apakah aku ini tidak pantas untuk diciptakan dan hidup?

Aku tinggal di rumah tuanku yang berada di suatu perumahan, tepatnya di rumah bercat biru muda dengan dua lantai. Hari-hariku hanya dihabiskan dengan menatap jalanan yang dilewati berbagai macam orang. Pagi hari aku selalu melihat anak-anak sekolah dengan mengenakan seragam khas mereka yang dikombinasi dengan warna putih, seperti putih-merah, putih-biru, putih-hijau, dan lain sebagainya. Tampak dari raut wajah mereka yang masih terlihat segar karena nampaknya belum ada sedikitpun keringat yang mengalir di wajah mereka.

Aku sangat menikmati pemandangan pagiku yang cukup cerah hari ini. Selain anak-anak sekolah yang diceritakan sebelumnya, aku juga melihat betapa manisnya seorang suami yang akan berpamitan untuk kerja kepada istrinya dengan pelukan hangat dan kecupan kecil yang mendarat di kening sang istri. Mungkin mereka adalah pasangan yang baru menikah, karena dilihat dari wajahnya masih terlihat sangat muda sekitar usia 20 sampai 25 tahun.

Sebelumnya aku lupa bercerita bahwa aku adalah sebuah kamera pengintai atau biasa disebut sebagai CCTV yang baru menempati rumah ini kurang lebih dua minggu. Aku masih perlu beradaptasi dengan kebiasaan orang-orang di komplek ini dengan cara menyaksikan kebiasaan mereka di siang dan malam hari. Aku ditempatkan di salah satu sudut luar lantai dua oleh tuanku. Ia berkata bahwa aku pantas ditempatkan disini.

Kembali ke kegiatanku, hari sudah mulai cukup lebih terang dari sebelumnya. Aku melihat kumpulan ibu-ibu yang tengah berbincang sambil memilih berbagai jenis sayuran di sebuah gerobak tukang sayur yang selalu mampir ke komplek ini setiap harinya. Berbagai jenis obrolan yang dibahas setiap harinya dan terkadang membahas hal yang serupa pun dianggap tidak bosan bagi mereka karena aku tidak melihat raut wajah yang menunjukkan rasa bosan saat membahas hal serupa pada wajah mereka. Sekitar hampir satu jam, ibu-ibu pun mulai berpencar ke rumahnya masing-masing sembari membawa beberapa kantong yang berisi belanjaan mereka.

Jalanan pun kembali sepi, aku selalu menunggu hari jika sudah sore karena selalu ramai oleh anak-anak yang bermain di komplek ini dengan berbagai tingkah lucunya. Andaikan aku menjadi seorang manusia seperti mereka, sepertinya aku sudah ikut bermain disana setiap sore.

Sembari menunggu waktu sore, aku ingin bercerita sedikit tentang apa yang aku lihat selama dua minggu kebelakang sebagai sebuah kamera pengintai. Yaitu tentang sebuah kehidupan malam hari yang bagiku cukup bertolakbelakang dengan kejadian pagi hingga sore hari.

Aku melihat sebuah kecurigaan setiap aku melihat seorang bapak-bapak yang selalu lewat dan hendak mendekati rumah tuanku namun selalu kembali lagi. Sayangnya aku tidak bisa memberitahu tuanku setiap aku melihat sosok mencurigakan itu bahkan untuk mengeluarkan suara pun aku tidak bisa. Aku selalu menunggu saat dimana tuanku memeriksa hasil pantauanku melalui temanku yaitu sebuah monitor yang disimpan di sebuah ruangan tertutup dirumah. Namun sayang, tuanku mungkin belum ingin melihat hasil pantauanku selama ini.

Selain bapak-bapak itu, aku juga kadang melihat segerombolan remaja yang berjalan membawa botol-botol kaca dengan berbagai macam warna airnya. Aku juga cukup takut setiap melihat mereka melewati rumah tuanku dan aku memang tetap tidak bisa mengutarakan rasa takut ini pada tuanku. Ingin rasanya aku hidup seperti manusia yang kebanyakan memakai waktu malamnya untuk beristirahat. Mungkin hanya itulah yang bisa ku ceritakan saat ini.

Sore hari pun tiba. Seperti yang sudah ku bilang, anak-anak asik bermain di depan rumah tuanku yang mungkin karena hadirnya aku yang membuat mereka terhibur dan berseru "lihat, ada CCTV!" sambil menunjukkan gaya terbaik mereka didepanku padahal aku hanya bisa diam melihat mereka tanpa bisa memotret layaknya kamera pada umumnya. Adapun ditengah asiknya mereka bermain, ada salah satu anak yang berseru "hei, ayo kita lambaikan tangan ke CCTV!" yang membuat teman-temannya mengikuti arahan tersebut dengan melambaikan tangan ke arahku. Itulah alasanku mengapa aku menyukai sore hari, karena disitulah aku selalu dianggap ada oleh manusia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun