Mohon tunggu...
Sabilla Fauzi
Sabilla Fauzi Mohon Tunggu... 21 years old student.

-

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Apakah Kesetaraan Gender Perlu Didukung?

12 Februari 2020   22:19 Diperbarui: 12 Februari 2020   22:30 49 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Apakah Kesetaraan Gender Perlu Didukung?
sumber: socialistalternative.org

Pada dasarnya, laki-laki dan perempuan itu diciptakan berpasangan, dalam artian saling membutuhkan satu sama lain. Entah sebagai kakak-adik, suami-istri, orang tua, pacar, atau teman. 

Meski laki-laki secara fisik lebih kuat daripada perempuan, bukan berarti perempuan itu LEMAH dan tidak dibutuhkan. Begitupun dengan perempuan, meski sering dikatakan lebih mandiri dan bisa berpikir lebih bijak, bukan berarti perempuan tidak membutuhkan sosok laki-laki.

Kesetaraan gender, adalah pandangan bahwa semua orang harus menerima perlakuan yang setara dan gak didiskriminasi berdasarkan identitas gender mereka. Ini merupakan salah satu tujuan dari Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, PBB yang berusaha untuk menciptakan kesetaraan dalam bidang Sosial dan Hukum, seperti dalam aktivitas demokrasi dan memastikan akses pekerjaan yang setara, juga upah yang sama.

Karena, ada kesenjangan upah yang cukup mencolok untuk laki-laki dan perempuan. Data Global Gender Gap Report 2015 menunjukkan bahwa Indonesia menempati urutan ke-92 untuk tingkat kesetaraan gender, dengan gaji rata-rata yang diperoleh laki-laki per tahun sebesar US$ 14.000, namun perempuan hanya memperoleh sekitar $6.000 per tahun.

"Kenapa sih pengen disamain sama laki-laki?"

Nah, setara di sini bukan berarti sama. Memperjuangkan kesetaraan gender juga bukan menuntut perempuan untuk menjadi sama dengan laki-laki, tapi mendukung perempuan dan laki-laki supaya mendapat kesempatan untuk ada di dalam posisi yang sejajar.

Ambil contoh kasus Mahasiswa UGM yang jadi korban pemerkosaan depresi berkelanjutan, dia diperkosa sama temennya sendiri pas lagi KKN di Maluku. Sangat disayangkan, sebelum kabar ini beredar dan akhirnya masyarakat menuntut penuturan korban, UGM gak ngusut kasus ini lebih lanjut sehingga korban gak dapet keadilan.

Berita selanjutnya, kekerasan terhadap perempuan. Menurut Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan yang diluncurkan setiap tahun untuk memperingati Hari Perempuan Internasional pada tangga 8 Maret, Ada 348.446 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan dan ditangani selama tahun 2017, yang terdiri dari 335.062 kasus bersumber pada data kasus/perkara yang ditangani oleh Pengadilan Agama, serta 13.384 kasus yang ditangani oleh 237 lembaga mitra pengadalayanan. 

Kekerasan yang terjadi di ranah privat/personal mencatat kasus paling tinggi. Data Pengadilan Agama (PA) mencatat sejumlah 335.062 adalah kekerasan terhadap istri yang berujung pada perceraian. Di tahun ini, CATAHU juga menemukan bahwa pelaku kekerasan seksual tertinggi di ranah privat/personal adalah pacar sebanyak 1.528 orang, diikuti ayah kandung sebanyak 425 orang, kemudian diperingkat ketiga adalah paman sebanyak 322 orang.

Itu semua adalah kasus di mana perempuan merupakan korban. Kenapa hal ini bisa terjadi? Ketua komnas perempuan Azriana R. Manalu berpendapat bahwa alasan utama mengapa hal ini bisa terjadi adalah faktor budaya. 

Budaya masyarakat kita yang masih menempatkan perempuan lebih rendah posisinya daripada laki-laki. Karena laki-laki yang menentukan akan kemana, mau apa, bagaimana ini mempengaruhi cara pandang yang diskriminatif berfikir bahwa laki-laki bisa melakukan hal apapun kepada parempuan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN