Mohon tunggu...
syarifuddin abdullah
syarifuddin abdullah Mohon Tunggu... Penikmat Seni dan Perjalanan

Ya Allah, anugerahilah kami kesehatan dan niat ikhlas untuk membagi kebaikan

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Takziyah KH Sanusi Baco Lc.

16 Mei 2021   00:22 Diperbarui: 17 Mei 2021   02:06 961 7 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Takziyah KH Sanusi Baco Lc.
Sumber foto: fajar.co.id

Keabadian hanya milik Allah semata. Dan hari ini, hampir seluruh warga Sulawesi Selatan, terutama di kota Makassar dan sekitarnya, menerima berita duka yang mendalam atas wafatnya Anregurutta (dalam ejaan Bahasa Mandar disebut Annanggurutta' yang bermakna tungguru atau tuangguru atau mahaguru) K.H. Sanusi Baco, Lc., yang menghembuskan napas terakhirnya pada Sabtu, 15 Mei 2021/ 03 Syawwal 1442H, sekitar pukul 20.00 WITA, di RS Primaya eks Awal Bros Jl Urip Sumoharjo, Makassar. Beliau wafat di usia sekitar 84 tahun (kelahiran Maros, 04 April 1937).

Pikiran saya secara otomatis mendaur ulang kenangan dengan almarhum ke awal tahun 1980-an, hampir empat puluh tahun silam, lalu jejari saya juga secara otomatis mengetik artikel takziyah ini.

Saya ingin mengawalinya dengan kalimat sederhana: saya memposisikan diri sebagai salah satu murid almarhum K.H. Sanusi Baco, Lc. Dan ini panjang ceritanya.

Pada awal tahun 1980-an, ketika masih duduk di kelas 5 Pesantren IMMIM Makassar (setara kelas 2 SMA), ada sebuah tradisi keilmuan yang bagi kami santri-santri merupakan keistimewaan tersendiri: setiap bulan, pimpinan pondok mengundang dan menghadirkan tokoh dan ulama terkenal di Makassar untuk memberikan semacam "ceramah pencerahan" kepada semua santri di Pesantren IMMIM, dengan memanfaatkan waktu antara magrib dan Isya.

Salah satu ulama yang pernah beberapa kali memberikan ceramah pencerahan tersebut adalah KH Sanusi Baco (yang ketika itu masih lebih akrab disapa Ustadz Sanusi Baco Lc).

Kebetulan juga, almarhum punya anak yang juga mondok di Pesantren IMMIM pada periode itu. Makanya, KH Sanusi Baco relatif sering berkunjung ke kampus Pesantren IMMIM di Tamalanrea. Dan ketika sedang berkunjung ke pondok, pasti beliau akan shalat berjamaah di masjid pondok bersama para santri.

Secara personal, meski tidak secara langsung, saya punya pengalaman unik dengan sosok almarhum KH Sanusi Baco. Ceritanya, pada awal 1980-an itu, atau tepatnya sekitar 1983 (ketika masih berusia sekitar 17-an tahun), saya mulai sesekali mengisi khutbah Jumat di masjid-masjid kecil di pinggiran kota Makassar. Dan sebagai khatib muda, saya sering kehabisan materi khutbah. Dan saya coba menyiasatinya dengan satu trick.

Jika giliran tak ada jadwal khutbah, nyaris setiap minggu, saya meng-hunting lokasi/masjid tempat ulama-ulama besar menjadi khatib Jumat di kota Makassar. Ketika itu, di Makassar ada beberapa penceramah/khatib pavorit, antara lain KH Sanusi Baco, Quraish Shihab, Umar Shihab, Fadeli Luran, Dr. Halide, AR Muhammad.

Jika kebetulan saya mengikuti khutbah Jumat KH Sanusi Baco, saya akan tekun mencatat setiap poin-poin utamanya, dan catatan itu saya olah ulang lalu disimpan, sehingga kapan waktu diperlukan, akan saya jadikan materi khutbah Jumat.

Sering terjadi, begitu selesai menjadi khatib dan jumatan, ada saja jemaah yang menghampiri, mungkin karena penasaran ada khatib yang berusia 17-an tahun, yang menyampaikan materi yang baginya mungkin dianggap berkualitas. Padahal jemaah itu tidak tahu bahwa materi yang saya sampaikan dalam khutbah, sebenarnya adalah saduran dari khutbah Jumat yang disampaikan oleh ulama-ulama besar di Makassar, sekelas KH Sanusi Baco ketika itu.

***

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN