Mohon tunggu...
syarifuddin abdullah
syarifuddin abdullah Mohon Tunggu... Penikmat Seni dan Perjalanan

Ya Allah, anugerahilah kami kesehatan dan niat ikhlas untuk membagi kebaikan

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Menyalakan Lampu Petromaks

22 Oktober 2020   02:17 Diperbarui: 22 Oktober 2020   13:57 51 7 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Menyalakan Lampu Petromaks
Foto oleh Dolledre

Dulu, dulu banget, ketika masih berusia sekitar sepuluh tahunan di kampung yang belum ada listriknya, di rumah setiap hari menjelang magrib, saya mendapatkan tugas rutin membakar (baca: menyalakan) lampu petromaks, yang di kampung saya lebih populer dengan sebuatan "lampu gas".

Saya masih ingat detail cara dan proses menyalakannya:

1. Pelan-pelan mengambil lampu petromaks dari gantungannya, lalu diletakkan di lantai. Harus hati-hati banget, takut rontok bohlam kertasnya (maksudnya bohlamnya mirip kertas) yang ringkih dan sangat rapuh.

2. Mengecek tabungnya (lihat gambar ilustrasi) untuk memastikan bahan bakarnya (dari minyak tanah) masih cukup atau tidak. Kalau kurang, diisi tambahan minyak tanah.

3. Mengambil dan menyediakan tabung kecil, berisi spirtus, yang memiliki belalai mungil. Plus korek api kayu (yang kalau nggak salah bermerek Agogo).

4. Lalu menuangkan spirtus ke dalam wadah (yang berbentuk mirip baskom atau bak mandi) berukuran mini, yang terletak di bagian dalam kaca silinder petromaks, persis di bawah bohlam kertas. Lalu, melalui lobang kecil berdiameter sekitar 5 milimeter, membakar air spirtus itu dengan korek api kayu tadi (waktu itu, warga kampung belum mengenal korek api gas).

5. Ketika cairan spirtus itu hampir habis setelah terbakar sekitar 3 sampai 5 menitan, dan sisi bawah bohlam kertasnya mulai berwarna coklat kemerahan (akibat dipanggang api dari spirtus yang menyala), segera mulai menggenjot alat/gagang pompa berukuran mini, yang posisinya mengarah ke dalam tabung, dengan kemiringan sekitar 45 derajat. Dengan sekitar 15 sampai 20 kali tekanan pompa naik-turun, bohlam kertas itu akan pelan-pelan berubah warna (menjadi mirip lampu pijar) dan terang menerangi ruangan.

Umumnya, lampu petromaks akan mulai meredup kembali setelah menyala sekitar tiga jam. Makanya harus dipompa ulang, atau memutar-mutar alat pengatur tekanannya. Dan si petromaks bisa bertahan terang benderang (sesuai ukurannya) selama 4 sampai 5 jam. Durasi waktu terangnya pas dengan kebiasaan orang di kampung yang sudah mulai tidur sekitar jam 21.00 atau 22.00.

Dan lampu petromaks, pada masanya, adalah salah satu barang mewah di kampung, yang sebagian warga/ rumah tangga masih mengandalkan pelita (atau bahkan obor bambu) sebagai alat penerang.

Ada sebuah cerita mengerikan tentang lampu petromaks itu. Seorang teman (sebut saja namanya Ilyas), sepantaran di sekolah dasar, yang rumahnya berjarak sekitar 100 meter dari rumah saya. Pada suatu petang, seperti saya, Ilyas mulai menyalakan lampu petromaksnya. 

Entah karena apa, tak ada yang pernah tahu penyebab persisnya, mungkin karena tekanannya terlalu tinggi, tiba-tiba tabung petromaksnya meledak, dan menyulut api yang membakar bagian dada dan leher si Ilyas. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN