syarifuddin abdullah
syarifuddin abdullah Pegawai dan dagang

Ya Allah, anugerahilah kami kesehatan dan niat ikhlas untuk membagi kebaikan

Selanjutnya

Tutup

Transportasi Artikel Utama

Wahai Pemudik, Sadari dan Apresiasilah Banyak Orang yang Bekerja untuk Anda

9 Juni 2018   19:15 Diperbarui: 11 Juni 2018   13:40 2532 0 0
Wahai Pemudik, Sadari dan Apresiasilah Banyak Orang yang Bekerja untuk Anda
Sumber foto: Dilihat dari udara, sejumlah kendaraan mengalami kemacetan sepanjang 1 Km saat memasuki gerbang tol Palimanan, Jawa Barat, Sabtu 9 Juni 2018. TEMPO/Subekti.

Terhitung mulai Jumat sore, 08 Juni 2018 (23 Ramadhan 1439H), yang merupakan hari terakhir kerja nasional, arus mudik darat dari Ibu Kota Jakarta akan mulai mengalir ke berbagai daerah, terutama ke wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat dan arus penyeberangan Merak-Bakauheni.

Kita berharap, mudik tahun 2018 akan sedikit lebih lancar, karena interval waktu antara awal mudik sampai hari lebaran berjarak sekitar satu pekan. Penumpukan kendaraan akan sedikit terurai. Namun karena mudik adalah gawean nasional, yang melibatkan banyak pihak, kemacetan tetap saja diasumsikan akan terjadi di berbagai titik.

Untuk mengantisipasi kemacetan, melalui artikel ini, saya ingin menyampaikan imbaun terbuka kepada semua pemudik agar menyadari bahwa banyak sekali pihak yang bekerja untuk pemudik guna melancarkan arus mudik. 

Terutama pihak kepolisian dan LLAJR, yang biasanya juga melibatkan para pandu, pamong praja, bahkan berbagai komunitas peduli mudik di daerah yang dilewati arus mudik. Mereka ini bekerja siang malam, dengan pengaturan ship yang ketat. Sebagian dari mereka mungkin bahkan rela tidak merayakan Idul Fitri bersama keluarganya demi bekerja untuk kelancaran arus mudik.

Imbauan sederhana ini mengacu pada beberapa asumsi dasar tentang mudik, sebagai berikut:

Pertama, karena arus kendaraan bergerak dalam jumlah masif, pada periode tertentu, maka sulit membayangkan arus lalu lintas akan selancar seperti di luar musim mudik.

Kedua, selalu ada faktor X yang dapat memicu kemacetan parah. Satu kendaraan mobil mogok di jalan, atau beberapa kendaraan parkir dengan mengambil sebagian bahu jalan bisa mengakibatkan kamacetan berkilo-kilo meter di belakangnya. Para pemudik diharapkan "menggunakan perasaan" ketika beristirahat dan memarkir kendaraannya di jalan arus mudik.

Ketiga, dalam musim mudik tahun 2018 ini, beberapa ruas jalan tol dioperasikan secara fungsional (dioperasikan sebelum waktunya dan gratis). Jalur arteri Pantura ruas Brebes-Tegal-Pemalang-Pekalongan-Batang-Kendal-Semarang diperkirakan akan lancar, dengan dibukanya ruas Tol Brexit-Semarang. Namun jangan juga dibayangkan bahwa pembukaan ruas tol akan menyelesaikan kepadatan seratus persen. Sebab, pada saat yang sama, jumlah pemudik meningkat dan pengguna kendaraan pribadi juga meningkat dari tahun ke tahun.

Selain itu, jalur selatan mulai dari Pejagan yang melintasi kawasan Cilacap, Kebumen, Purwokerto hingga Magelang dan Yogyakarta diperkirakan akan tetap padat. Di jalur ini tidak ada jalan tol. Perkiraan saya, jalur yang berpotensi mengalami kepadatan parah adalah ruas antara Bawen-Magelang-Yogyakarta.

Keempat, perkiraan jumlah pemudik 2018 mestinya diposisikan sebagai perkiraan kasar saja. Angka riilnya tetap berpotensi jauh lebih besar. 

Seperti diketahui, pada 2 Juni 2018, pihak Perhubungan Darat Kemenhub sudah merilis perkiraan untuk musim mudik 2018: bus naik 1,76 persen atau sekitar 8 juta orang menggunakan bus; pengguna sepeda motor 8,5 juta pemudik; mobil penumpang (pribadi) 3,72 juta; angkutan udara dan kereta naik sekitar 5 persen; dan kapal laut 5,2 persen.

Kelima, jumlah petugas selalu lebih sedikit dari jumlah pemudik. Jadi jangan juga berharap akan ada petugas di setiap titik. Dan jika terjadi kemaceten secara berbarengan di beberapa titik, pasti akan ada titik kamacetan yang tak tertangani.

Keenam, rekayasa lalu lintas melalui pengalihkan arus ke jalan alternatif, tak selamanya membantu kelancaran arus mudik. Fungsinya lebih hanya memecah atau mengurai kemacetan pada satu titik dan sering berakibat hanya mengalihkan kepadatan ke titik yang lain.

Ketujuh, saya berasumsi bahwa melarang pemudik motor tidak akan efektif. Penyebab utamanya karena kemungkinan besar kendaraan yang mereka miliki memang hanya motor. Dan membawa kendaran ke kampung ketika mudik boleh disebut sebagai sebuah keharusan. Sebab di kampung diperlukan pergerakan (silaturahim dengan keluarga dan kenalan serta berwisata) yang sama pentingnya dengan gerakan mudik itu sendiri.

Kedelapan, saya punya dua pengalaman pahit pada musim mudik: pada 2012, saya menempuh jarak Jakarta-Semarang selama 40 jam. Lalu tahun 2016, jarak Jakarta-Semarang saya tempuh selama 45 jam (rekor terlama).

Dan ketika itu, ternyata penyebabnya sangat sederhana: ada sebuah pom bensin di wilayah Pamanukan dan Indramayu yang ramai disinggahi pemotor, dan sebagian pemudik memarkir kendaraannya dengan mengambil sebagian bahu jalan.

Kesembilan, bila arus mudik diperkirakan sedikit lebih lancar, sebaliknya dengan arus balik, diperkirakan akan lebih padat dan bahkan berpotensi parah. Sebab jika hari lebaran pada 15 Juni 2018, berarti periode arus balik hanya punya waktu selama empat hari (16, 17, 18, 20). Karena sesuai edaran resmi pemerintah, kantor mulai aktif sejak 21 Juni 2018.

Kesepuluh, mudik lebaran Idul Fitri adalah hari raya keagamaan, yang telah ditempeli "kesakralan ritual sosial". Ke depan, mungkin perlu juga diupayakan untuk menempelinya "kesakralan ritual pariwisata". 

Tujuannya, biar para pemudik enjoy dalam mengantisipasi dan mengalami kemungkinan macet, dan sekali lagi, tetap menyadari penuh dan mengapresiasi berbagai pihak yang tetap bekerja untuk pemudik guna melancarkan arus mudik.

Syarifuddin Abdullah | 09 Juni 2018 / 24 Ramadhan 1439H