syarifuddin abdullah
syarifuddin abdullah Pegawai dan dagang

Ya Allah, anugerahilah kami kesehatan dan niat ikhlas untuk membagi kebaikan

Selanjutnya

Tutup

Regional Artikel Utama

Jerusalem dan Kekeliruan "Trump Declaration"

7 Desember 2017   14:54 Diperbarui: 8 Desember 2017   10:08 2510 3 1
Jerusalem dan Kekeliruan "Trump Declaration"
sumber: internasional.kompas.com

Ada dialog klasik yang diawali dengan pertanyaan "Sebesar apa sih nilai Quds (Jerusalem)?" Lalu muncul jawaban "Quds tak berarti apa-apa, namun Quds adalah segalanya".

Quds atau Jerusalem sepanjang sejarahnya adalah catatan pertumpahan darah. Tak pernah terjadi penguasa Jerusalem menyerahkan Jerusalam secara sukarela kepada siapapun. Kecuali hanya dalam satu momen sejarah ketika penguasa Jerusalem (Patriach Sophronius) menyerahkan kunci kota langsung kepada Umar bin Khattab pada tahun 637M. Fakta ini seakan memberi pesan bahwa, Jerusalem lebih sering dikuasai dengan merebutnya. Bukan dihadiahkan.

Keputusan Trump (yang mungkin kelak dicatat sebagai "Trump Declaration") pada 06 Desember 2017, hanya berselisih beberapa hari dari tanggal "Balfour Declaration" buatan Inggris pada 02 Nopember 1917, berisi hak bagi Yahudi untuk mendirikan Negara Israel. Dan 30 tahun kemudian, tepatnya tahun 1947, Negara Israel lahir. Tambah ironis, karena Inggris bersama Perancis justru menjadi negara pertama secara terbuka menolak "Trump Declaration".

"Quds tak berarti apa-apa, namun Quds adalah segalanya."

Secara alami, kontur tanah Jerusalem memang tak memiliki keistimewaan spesifik dari segi lokasi maupun tingkat kesuburannya. Quds hanya sebuah bukit yang awalnya adalah tanah tandus tak menarik ketika dibuka pertama kali dan diolah oleh Nabi Ibrahim sekitar 2.200 tahun sebelum masehi. Tapi secara spiritual, Jerusalem adalah segalanya bagi penganut tiga agama Samawi: Yahudi, Kristen, dan Islam.

Ketika salah satu penganut tiga agama itu menguasai Jerusalem, konflik pun terjadi. Dan itu sekali lagi terjadi sepanjang sejarah Jerusalem. Artinya, Jerusalem adalah kota suci yang ditakdirkan menjadi ajang konflik tanpa jeda.

Tentu bagi Israel dan warga Yahudi saat ini dan di manapun, "Trump Declaration" akan dicatat sebagai sebuah loncatan strategis dalam kronologi sejarah Yahudi. Namun "Trump Declaration" tak beda jauh dengan "Balfour Declaration (1917)" atau bahkan dengan pembentukan Gerakan Zionis oleh Theodor Hertzel (1860).

Dan ada fakta kasat mata bahwa "Trump Declaration" adalah pentas kedigdayaan. Sebaliknya, protes Palestina, negara di jazirah Arab, dan umat Islam adalah pentas ketidak berdayaan. Tapi toh dunia belum kiamat. Perlawanan itu tak akan padam dan terlalu kuat untuk dipadamkan oleh sebuah deklarasi.

Ratusan, ribuan bahkan jutaan warga muda Palestina di tanah pendudukan sudah-sedang-dan akan tetap berteriak lantang "Wahai Arab dan umat Islam, kami tidak butuh petarung karena kami memiliki banyak petarung. Kami pun tidak terlalu memerlukan dana, karena kami punya cukup uang. Yang kami perlukan adalah komitmen dan dukungan kebijakan politik". Sebagian gererasi muda perlawanan melafalkan kalimat-kalimat itu ketika sudah terjatuh dan mengerang nyawa akibat peluru tentara pendudukan.

Jika ada sisi positif dari "Trump Declaration" adalah karena dia sukses - mungkin tanpa sadar - menegakkan kesadaran yang selama bertahun-tahun tidur nyenyak, tak peduli.


Syarifuddin Abdullah | 07 Desember 2017 / 19 Rabiul-awal 1439H