Sarwo Prasojo
Sarwo Prasojo Angin-anginan

Suka motret, tulas-tulis dan ini itu. Dan yang pasti suka Raisa

Selanjutnya

Tutup

Humor Pilihan

Humor | Dua Pensiunan

11 Januari 2019   22:07 Diperbarui: 12 Januari 2019   05:05 524 10 2
Humor | Dua Pensiunan
Kaosjowo.blogspot.com

Ketika seni menjaga kewarasan

Tetangga saya seorang pensiunan guru.  Sudah lebih enam tahun masuk masa purna tugas sebagai guru SD.  Tiga puluh tahun lebih masa baktinya. Kini, setelah pensiun yang dilakukannya sebagai kegiatan baru yakni bertani.  Menggarap sawah milik istrinya, sawah warisan.

Hampir setiap pagi, selepas pukul enam, dia  kedatangan seorang tamu setia.  Orang yang satu desa itu.  Sama-sama pensiunan. Lelaki ini bekas tentara. Yang pernah tugas ke Kamboja dalam rangka peace keeping.

Kedua orang ini punya pandangan politik yang berbeda.  Si pensiunan guru setia dengan partai banteng moncong putih.  Sedang si mantan tentara tak goyah untuk berada di bawah naungan kepala burung Garuda.

Tak ubahnya dengan warga negara Indonesia yang lain, orang ini pun terkena imbas pengkutuban politik nasional.  Setiap  ajang kontestasi politik selalu tak sejalan di antara keduanya.  Dari pilkada kabupaten/kota, Pilgub sampai yang klimaks tentu saja pilpres.  Dari sebelum 2014 sampai sekarang, kedua pensiunan ini konsisten dengan pilihan politiknya. Kokoh tak tertandingi, seperti semen tiga roda.

Tentu saja, si mantan guru suka memuji Presiden Jokowi. Sedang si mantan prajurit itu kerap meninggikan capres Prabowo.   Konten percakapan mereka seperti yang ada di televisi berita.  Selalu up-to-date. Tiap hari ada saja topik bahasan baru.  Semua mengikuti naik turunnya suhu politik nasional.

Si pensiunan guru punya sumber informasi dari televisi berita.  Juga, dengan smartphone-nya dia bisa memutar video konten politik lewat YouTube.  Bahkan karena tak mau terputus, ia kerap membawa HP- nya itu ke WC sembari be-ol.  Dan kedua acara itu dinikmati secara bebarengan.

Bagaimana dengan si pensiunan tentara? Tidak terlalu banyak yang saya tahu.  Pastinya rutin nonton tayangan televisi juga. Tapi apakah dia YouTube lover? Nggak tahu, saya.

Seringkali saya mematikan televisi, untuk menguping percakapan mereka dari jauh.  Bukan saja untuk hemat listrik, tapi diskusi mereka tak dipenggal oleh tayangan iklan. Kalau ada jeda, itu sekedar ambil korek api untuk menyalakan rokok. Terus mulutnya nerocos lagi.

Nah, untuk urusan kepulan asap tembakau keduanya sama selera. Penikmat kretek Djarum Super.  Jika salah satu lagi kehabisan atau tak punya, masing-masing menyilakan untuk mengambil.

Tapi tetap saja, untuk urusan politik selalu tidak ada titik temu di antara keduanya.  Polarisasinya amat kuat.  Sebagaimana perdebatan isu-isu politik nasional yang sering tayang di televisi. Selalu mempertahankan logikanya sendiri.

Sebagai tetangga saya pun punya rasa bosan kepada mereka.  Tak bedanya dengan televisi berita, yang  saya hapus dari daftar saluran yang layak ditonton.

Kendati pun begitu, tiap hari mereka bertemu dan bertemu lagi. Kadang sore hari pun keduanya berhadapan  lagi. Di rumah si pensiunan guru itu tentunya.  Tempat yang lebih leluasa bagi si pensiunan tentara yang nggak betah di rumah. Biasanya saat  sore, percakapan mereka ada di ruangan belakang sebelah dapur. Tempat menyimpan perangkat gamelan dan perabot milik RT.

Tidak sedikit pun yang merasa sebal di antara mereka. Agaknya begitu. Atau alergi untuk sekedar mendengar perbedaan pendapat satu sama lain.

Tahukan Anda, kenapa mereka bisa akrab kendati dalam polarisasi politik yang kentara itu?

Jawabannya singkat. Yaitu kesenian.

Kedua pensiunan ini memiliki kemampuan dalam memainkan alat musik gamelan.  Dari kendang, bonang, gender, gambang keduanya menguasai.  Apalagi sekedar saron dan demung, alat gamelan dasar yang biasa diajarkan bagi para pemula.

Sekali waktu mereka bersama-sama mengajari anak-anak SD bermain gamelan.  Tiap sebulan sekali dengan kelompok macapatan melantunkan tembang-tembang Jawa.

Untuk seni kuda lumping, kedua orang ini dedengkot. Di desa ada grup seni bernama Turangga Budaya.  Jangan ditanya berapa honor mereka saat ikut pentas sebagai penabuh gamelan. Paling-paling hanya cukup untuk  beli tiga bungkus rokok.  Tapi semangat keduanya seperti tak punya lelah jika ada yang minta pentas.  Pas hajatan sunatan, hari kemerdekaan RI dan lainnya.

Dan saat berada di habitat kesenian tradisional itu, urusan politik terlupakan dengan sendirinya.  Tak ada yang saling menyinggung.  Tak perlu pula ada yang memulai.  Fokusnya bagaimana bisa tampil bagus, bersinergi dan turut melestarikan seni tradisi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2