Mohon tunggu...
Rizka Khaerunnisa
Rizka Khaerunnisa Mohon Tunggu... Jurnalis - Jurnalis

Mengumpulkan ingatan dan pikiran.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Perihal Kita, Pengelana Menuju Rumah atau Sebaliknya

20 Oktober 2020   19:23 Diperbarui: 22 Oktober 2020   04:00 712
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Foto: Copyright 2020 Rizka Khaerunnisa

Selama pengembaraannya ke tanah Nod, seberapa tahan ia dihantui rasa rindu terhadap "rumah"? Bagaimana Kain mengenang "rumah"?

Ah, rumah.

Betapa hidup sebagai pemukim menyebabkan kita lebih banyak memproduksi dan menyimpan artefak--juga sibuk mencatat kenangan dari manusia dan benda mati. Beribu tahun kemudian pasca kutukan Kain, beban jadi semakin berat dan rumit seandainya suatu hari nanti kita dikutuk serupa Kain.

Ilmuwan bilang, revolusi pertanian merupakan lompatan terbesar kemajuan dalam hidup umat Sapiens. Titik itulah yang mendorong wajah peradaban kita hingga jadi seperti sekarang. Titik yang dalam mitologi kuno dan agama samawi telah "dirintis" dan "diwariskan" oleh Kain.

Gambaran sederhananya, revolusi pertanian berarti produksi pangan lebih banyak dan efisien. Lebih banyak pasokan berarti lebih banyak ladang yang harus dijaga, dilindungi, dan dirawat.

Lebih banyak pangan berarti pasangan suami-istri tak perlu khawatir untuk menghidupi anak yang banyak. Maka bisa ditebak, laju perkembang-biakan pun jadi meledak.

Lebih banyak pangan, lebih banyak anak, berarti mengharuskan Sapiens hidup menetap. Keuntungan-keuntungan cara hidup bertani sejatinya adalah rayuan telak untuk meninggalkan kehidupan nomaden.

Maka dibangunnya rumah senyaman mungkin, dibuatnya alat dan teknologi yang punya beragam fungsi. Beribu tahun kemudian, terbentuklah kota yang tersusun dari aneka tata ruang dan letak hingga estetika. Itu sebabnya kaum petani-pemukim acapkali lebih dekat dengan predikat "arsitek perintis"--mereka mencipta ruang beserta kerumitannya.

Tapi, titik transformasi sejarah yang merentang jauh sejak pemburu-peramu menuju petani-pemukim tak sesederhana yang dibayangkan. Batasnya peralihannya sangat kabur. Prosesnya cenderung lambat. Revolusi pertanian tidak terjadi secara ujug-ujug. 

Di masa itu, barangkali ada sebagian pemburu-peramu yang hidup semi-permanen. Mereka menetap dalam waktu yang cukup lama, kemudian melakukan pengembaraan lagi mencari "rumah" baru. Atau, ada sebagian pemburu-peramu yang di masa-masa tertentu yang bertani dan menggembala, kemudian di masa selanjutnya beralih memburu dan mengumpulkan pangan kembali.

Kita tak cukup mampu membaca peta ribuan tahun lalu itu secara rinci dan utuh. Kita hanya coba memecahkan teka-teki lewat pengetahuan arkeologi, telaah mitologi dalam sastra lisan, atau teks-teks kuno penuh metafora beserta lapis-lapis makna.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun