Mohon tunggu...
Rizka Khaerunnisa
Rizka Khaerunnisa Mohon Tunggu... Freelancer

What and how you write, that's who you are.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Buku dan Televisi, Dua Tembok Pembatas Antara Saya dan Ibu

21 Mei 2019   05:54 Diperbarui: 21 Mei 2019   12:16 0 12 5 Mohon Tunggu...
Buku dan Televisi, Dua Tembok Pembatas Antara Saya dan Ibu
Ilustrasi: lithub.com

Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kau makan buahnya. (Kejadian 2: 16-17).

"Kamu membaca Alkitab?" Tanya seorang dosen ketika membuka lembar persembahan skripsi saya. Di situ saya menuliskan potongan ayat dari Kitab Kejadian.

Saya hanya bisa menjawabnya dengan senyum. Bingung harus memberi penjelasan seperti apa. Tapi saya percaya, dia tak akan mengecap saya sebagai "kafir" lantaran kutipan itu dicantumkan oleh saya yang berasal dari kalangan muslim.

Tapi benar, saya tidak membaca Alkitab sepenuhnya. Tidak pula memperdalamnya. Saya sudah so-soan mencantumkan kutipan itu hanya karena terkagum-kagum dengan rangkaian kalimatnya. Jangan-jangan saya sudah sembrono menafsirkan ayat itu?

Saya tahu ayat ini dari paper yang ditulis Ayu Utami. Saya mengunduhnya di blog Ayu Utami sewaktu saya masih kinyis-kinyis di bangku kuliah. Dalam tulisannya, Ayu Utami tak menafsirkan ayat ini secara hitam-putih, yang acapkali membawa kita pada pengertian moralitas yang sempit.

Potongan ayat itu merupakan bagian dari kisah Adam dan Hawa. Ayu Utami mengandaikan kisah keterusiran Adam dan Hawa dari Surga sebagai alegori dari "ketelanjangan" manusia atas kesadarannya terhadap pengetahuan. Buah pengetahuan yang dimakan Adam dan Hawa membuat mereka bisa mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, sekaligus membuatnya terusir dari Surga, terusir dari pengertian dunia pra-rasio.

Pengetahuan itu sejatinya memisahkan antara subjek yang mengetahui sekaligus menempatkan objek yang diketahui. Keterpisahan ini membuat manusia malu karena menimbulkan objektivikasi, bukan hanya terhadap liyan tetapi juga terhadap dirinya sendiri. Pengetahuan membuat relasi manusia dengan realitasnya menjadi subjek-objek, bukan subjek-subjek.

Kalau boleh saya sederhanakan, demikianlah. Kisah Adam dan Hawa telah meletakkan problem pengetahuan manusia yang tak mudah.

Terhadap kisah ini, sejak kecil saya hanya memiliki penafsiran tentang dosa manusia yang diakibatkan oleh laku menentang larangan-larangan Tuhan. Seperti itulah pesan moralnya. Itu saja. Dan hingga kini saya masih berada dalam perjalanan mencari makna kisah Adam dan Hawa juga "buah khuldi" yang tersemat dalam perspektif Islam. Tentu perkara semacam ini tak bisa disamakan dengan membaca kamus umum yang berbahasa eksplisit nan bermakna harfiah.

Kiranya makna akan "pengetahuan" itulah yang menumbuhkan magnet dalam diri saya. Makna ini seolah menggenapi pergelutan diri saya selama ini: perihal pengetahuan yang saya cintai dengan bahagia dan sedih.

Begini.

Saya tak tumbuh dalam keluarga yang melek literasi. Kesukaan saya terhadap aktivitas baca-membaca jadi semacam anomali. Apalagi terhadap obsesi saya yang diam-diam mengoleksi buku, yang bisa berujung pada pertengkaran kecil: "Ngapain sih beliin buku terus? Itu sudah numpuk di kamar," protes Ibu saya.

Sejak saya mengenyam pendidikan tinggi dan memperoleh banyak asupan pengetahuan, saya merasa tercerahkan. Ibarat manusia-manusia yang pernah mengarungi hidup dalam zaman Renaisans. Pengetahuan itu seperti oase, membayar dahaga saya atas pemahaman realitas. Dengan bahagia dan takjub, saya mencintai pengetahuan.

Sejak itu pula saya jadi benci televisi. Benda itu tiba-tiba saja berubah menjijikan. Suaranya yang ngak-ngik-ngok kerap membuat saya jengkel. Manusia-manusia yang terkurung di dalamnya membuat saya muak. Saya tak lagi terhibur ketika menontonnya, tidak seperti dulu saat saya masih kecil dan remaja.

Bagi para intelektual atau orang-orang yang merasa tercerahkan, berdebat secara kritis sepanjang hari tentang kebodohan-kebodohan yang selalu dijejalkan kepada masyarakat melalui televisi--yang biang keroknya tak lain tak bukan para oligark media--adalah suatu keniscayaan. Dan dorongan untuk melawan pembodohan itu pun menjangkit pada diri saya.

Dalam kapasitas seorang macam saya yang waktu itu baru tercerahkan, saya tak henti-hentinya memaki televisi. Di perantauan, saya merasa terbebaskan karena tak ada yang namanya televisi. Tetapi di rumah? Bagaimana mungkin bisa saya melarang Ibu menonton televisi begitu saja dan memberi penghakiman bahwa apa yang dikonsumsi Ibu sehari-hari cuma omong kosong?

Saya ingat betul waktu itu, saya menegur Ibu karena televisi di ruang tengah tak pernah dimatikan hingga subuh. Saya tak pernah nyaman ketika pulang ke rumah mendapati keadaan demikian. Ibu kerap menyalakan televisinya kembali ketika saya matikan, padahal ia sudah setengah terlelap dalam tidur.

Ibu hanya berdalih seperti ini kepada saya, "Abisnya di rumah sepi." Saya tertegun mendengarnya. Sekonyong-konyong saya tertampar. Ah, selama ini Ibu memang kesepian di rumah semenjak saya dan adik pergi merantau ke luar kota. Tak ada yang meramaikan kekosongan rumah selain suara-suara dari televisi.

"Kamu sudah berubah. Sekarang sukanya baca buku. Ngga suka nonton tv lagi," ujar Ibu dengan datar, tanpa memandang ke arah saya. Saya merasa yakin kalau ucapannya itu bukanlah pujian melainkan bentuk protesnya secara halus kenapa-kamu-sudah-berubah.

Benar, sejak kuliah saya banyak berubah. Dan perubahan ini bukan sesuatu yang disenangi Ibu. Saya mulai menyadari, pengetahuan telah memisahkan hubungan kami, yang semula subjek-subjek menjadi subjek-objek. Pengetahuan itu telah membikin jarak antara saya dan ibu, antara buku dan televisi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2