Rizka Khaerunnisa
Rizka Khaerunnisa Buruh serabutan

What and how you write, that's who you are.

Selanjutnya

Tutup

Film Artikel Utama

"Kucumbu Tubuh Indahku": Dialog Maskulinitas dan Feminitas dalam Satu Tubuh

20 April 2019   23:43 Diperbarui: 22 April 2019   08:22 2624 17 4
"Kucumbu Tubuh Indahku": Dialog Maskulinitas dan Feminitas dalam Satu Tubuh
Muhammad Khan sebagai Juno dewasa dalam film "Kucumbu Tubuh Indahku". (Foto: imdb.com/FourcoloursGo-Studio)

"Hidupku ini seperti senja. Ada di antara sore dan malam."

Begitu kira-kira yang dikatakan Rianto di tengah adegan monolognya. Saya lupa bagaimana kalimat persisnya--kalau diperbolehkan untuk di-pause sejenak atau di-replay lagi, pasti akan saya lakukan, hehe. Sayangnya saya hanya bisa menonton sekali itu dan tak semua adegan saya hafal secara runut. Tak apa, setidaknya saya masih sempat menyelamatkan remah demi remah ingatan inti dari keseluruhan adegan.

Dituturkan dengan bahasa Jawa Banyumas-an, monolog dan dialog dalam film Kucumbu Tubuh Indahku (Memories of My Body, 2018) menjadi salah satu daya tarik pada film sekaligus ciri pembeda kelas sosial. Bahasa Jawa yang ngapak ini identik dengan bahasanya para rakyat, bukan bahasanya penguasa di keraton. Meski dijuluki ngapak, bukan berarti ia tak bernilai. 

Dalam film ini justru ada banyak kata-kata sarat makna yang bertebaran di sepanjang jalannya adegan. Dan kalimat alegori perihal senja itu hanyalah sebagian kecil dari semesta makna yang tergelarkan dalam Kucumbu Tubuh Indahku.

Saya menginterpretasikan alegori senja itu sebagai roh dan nafas yang mengisi nyawa film, meskipun kata "senja" di sana hadir hanya sebagai tuturan dan bukan wujud visual "senja". Alegori kehidupan senja hadir di antara sore dan malam; seolah tak ada sekat yang tegas, ada di ambang keraguan, tetapi penuh daya magis. Inilah yang coba dimaknai Juno--tokoh utama--di sepanjang realita hidupnya; ketubuhan Juno berdiri pada ambang dua sisi itu, maskulin dan feminin.

Seperti judulnya, film ini bertutur perihal "tubuh" (awak dalam bahasa Jawa). Secara berulang-ulang, kata "tubuh" diucapkan para tokohnya. Saya tak sempat menghitung berapa kali kata itu diulang (ya kali, saya lebih sibuk menghitung kata ketimbang menyimak alurnya, kalimat ini biar tampak retorik saja, sih, hehe). 

Yang jelas, timbul kesan bahwa ada penekanan yang serius pada kata itu, baik dalam monolog maupun dialog para tokoh--terutama pada bagian monolog di mana Rianto, sang narator yang berperan sebagai Juno dewasa, mengisahkan kembali pengalaman ketubuhan hidupnya dengan daya pikat yang luar biasa.

Kisah dalam Kucumbu Tubuh Indahku ini diilhami dari pengalaman hidup Rianto, penari dan koreografer ternama asal Banyumas. Rianto tampil dalam setiap selingan babak, suatu cara transisi yang sederhana dari satu plot ke plot yang lain. Yang menjadi tak biasa adalah penghayatan peran yang ditampilkan Rianto. 

Monolognya itu adalah bentuk kejujuran intimasinya kepada penonton; ia tak hanya berbicara dengan bibir dan kata-kata, tapi juga dengan tubuh dan gerak tari, serta mata dan pancarannya yang tajam. Seluruh daya hidupnya itu dibangkitkan dalam kepaduan yang indah, baik tuturan, gerakan, maupun penglihatannya bergerak menjelma harmoni yang pas, tak kurang dan tak berlebih.

Penari Rianto sebagai narator Juno dewasa dalam film
Penari Rianto sebagai narator Juno dewasa dalam film "Kucumbu Tubuh Indahku" (Foto: imdb.com/FourcoloursGo-Studio)

Kucumbu Tubuh Indahku resmi beredar di bioskop konvensional pada 18 April lalu setelah setahun sebelumnya mampir di berbagai festival film internasional, mendapat beberapa penghargaan seperti Bisato D'oro Award Venice Independent Film Critic (Italia, 2108), Best Film pada Festiva; Des 3 Continents (Perancis, 2018), dan Cultural Diversity Award under The Patronage of UNESCO pada Asia Pacific Screen Awards (Australia, 2018) (tirto.id).

Pada akhir 2018 lalu, Kucumbu Tubuh Indahku didaulat sebagai Film Pilhan Tempo. Garin Nugroho juga didaulat sebagai Sutradara Pilihan Tempo. Seperti dikutip dari Tempo edisi 16 Desember 2018, Garin mengakui bahwa penghargaan untuk kategori sutradara terbaik di dalam negeri ini baru pertama kali diperolehnya setelah hampir 27 tahun bergulat di dunia perfilman. Ini menjadi catatan penting, tentu saja. 

Garin bukanlah sosok anyar dalam kancah perfilman Indonesia. Hampir seluruh film besutannya memiliki kualitas dan warna yang khas, yang acapkali menyentuh pada lingkup tema sosial-politik. Menurut Tempo, dalam Kucumbu Tubuh Indahku ini, Garin menunjukkan puncak kematangannya sebagai seorang sutradara. Itulah sebabnya ia didapuk menjadi sutradara pilihan tahun 2018.

Dalam Kucumbu Tubuh Indahku, Garin berani menampilkan isu sensitif dan terpinggirkan di tengah kegerahan dan ketegangan sosial yang berujung pada tindak diskriminatif. Sebetulnya wacana LGBTIQ dalam narasi kesenian dan kebudayaan kita bukanlah sesuatu yang baru, hanya saja dalam situasi yang sekarang ini, hal tersebut menjadi sesuatu yang tampak luar biasa.

Menjadi tantangan tersendiri bagi Kucumbu Tubuh Indahku agar diterima dalam setiap lapisan masyarakat, terutama sebagai pendingin dari tensi kekerasan dan intoleransi atas nama agama dan politik yang kerap terjadi. Juga alangkah bijaknya jika kita tak mempersempit makna film ini sebagai film yang bermuatan tema sensitif semata dan sengaja mengundang kontroversi. 

Lebih dari itu, Kucumbu Tubuh Indahku berbicara perihal manusia dan kemanusiaan yang wajar. Memang, film ini bukanlah film komersil, tapi lahir atas semangat independensi dan kemerdekaan berpikir. Sebab itu, mari kita telusuri makna demi maknanya.

Kekerasan sebagai Wajah Inheren Maskulinitas
Juno kecil (Raditya Evandra) telah melihat dan mengalami rupa serta bentuk kekerasan. Ia melihat bagaimana guru tari lengger-nya (Sudjiwo Tedjo) membunuh seorang anak buah karena kedapatan bersenggama dengan istri sang guru dengan cara yang sadis. 

Ia juga mengalami bentuk kekerasan yang dilakukan oleh bibinya sendiri (Endah Laras) karena Juno lebih gemar memeriksa pantat ayam dengan jari-jarinya, apakah si ayam hendak bertelur atau tidak, ketimbang menekuni pelajaran sekolah. 

Sang Bibi menghukum Juno, menusuk jari-jari kecil Juno satu per satu dengan jarum, berharap Juno bisa kapok. Akibatnya jemari Juno diperban, ia tak bisa memeriksa pantat ayam lagi bahkan merasa tak percaya diri lagi ketika belajar menari. Jemarinya yang lentik itu mendadak seperti tak berdaya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4