Mohon tunggu...
Ryo Octaviano
Ryo Octaviano Mohon Tunggu... Tukang Kabel

Orang biasa dan Tukang Kabel

Selanjutnya

Tutup

Media

Era Digital dan Berita Pertelevisian

26 November 2020   19:43 Diperbarui: 26 November 2020   19:45 43 0 0 Mohon Tunggu...

Sejak 1980-an, hidup kita semakin digital, dan dengan kecepatan yang Luar Biasa.

Sebagian besar foto, video, percakapan, penelitian, dan tulisan kami sekarang disimpan sebagai rangkaian satu dan satu di komputer lokal atau di pusat data yang didistribusikan ke seluruh dunia.

Spesialis data EMC memperkirakan bahwa pada tahun 2013 dunia berisi sekitar 4,4 zettabytes (4,4 triliun gigabytes) data. Pada tahun 2020, diharapkan ini telah meningkat sepuluh kali lipat.

Sejarah, dengan kata lain, telah online.

Hal tersebut tentunya menyabkan shifting kultur dari penerimaan informasi dari media cetak ke media Online tentunya

Anggapan 'kematian' televisi ini dibantah oleh Founder and CEO IDN Media Winston Utomo. Menurut Winston, media digital masih jauh dari untuk bisa menggeser atau menggantikan posisi puncak yang saat ini dipegang televisi. 

"Kalau dari saya lihat realita dulu, sekarang ini TV tetap nomor satu. Digital belum melewati TV dari segi audiens atau revenue," kata Winston di The Tribrata, Jakarta, Sabtu (18/1) 

Hadir di panggung yang sama, Managing Director Of Nielsen Indonesia Agus Nurudin sepakat dengan pendapat Winston. Ia memaparkan data bahwa televisi tidak benar-benar ditinggalkan. Hal itu terlihat pada porsi iklan di mana televisi masih mendominasi sekitar 60 persen sedangkan media digital 20 persen.

Bukan (televisi) disalip (media digital) tetapi dua-duanya pakai, ads-nya memang sudah sebagian sudah diambil. Harus diakui bahwa manufacturing saat ini kalau yang global company direction-nya sudah mengarah 20 persen dari media spending-nya ke arah digital, kalau lokal belum tentu yah. Tapi kalau kita bicara average kira-kira 10 sampai 15 sudah masuk ke sana (digital)," kata Agus. 

"Jadi praktis mau sebentar mau lama sebenarnya generasi millennial nonton TV, cuma nontonnya lewat mana. Jadi cuma screen-nya saja yang berubah. Jadi mereka masih crosscheck yang namanya TV," kata Agus 

Lalu bagaimana televisi khususnya di bidang news bisa bertahan di era digital sekarang ini? 

layaknya Mesin Tik yang di tinggalkan tentunya tanpa inovasi semua akan kalah ,obsoeloete. Namun , sesuatu ada karna ada penggunanya, selama akses ke digital itu sendiri belum 100% di miliki seluruh rakyat Indonesia , Orang orang akan menemukan jalanya untuk mengakses suatu berita, dan banyak orang cenderung memilih television news sebagai source yang akurat, reliable. 




VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x