Mohon tunggu...
Ryo Kusumo
Ryo Kusumo Mohon Tunggu... Penulis - Profil Saya

Menulis dan Membaca http://ryokusumo.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Memaknai Filosofi Didi Kempot dalam Menghadapi DPR "New Era"

6 Oktober 2019   11:09 Diperbarui: 6 Oktober 2019   11:35 216
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber foto: idntimes.com

DPR "new era" yang di harapkan lebih baik dari DPR sebelumnya justru viral karena salah satu anggotanya berfoto dengan tiga istrinya lalu tertidur di dalam sidang, dengan alasan yang justru jadi lelucon; kecapekan, memang capek atau "capek"?

Lantas anggota DPR viral lagi karena ketidakhadiran 50,4% anggota di sidang perdana.

Gimana tidak ambyar hati rakyat?

Anggota DPR yang cidro, tega membohongi rakyat padahal masih di awal-awal masa jabatan. Bagaimana untuk 2-3 tahun mendatang?

Disinilah Didi Kempot hadir sebagai manifestasi paripurna kesedihan rakyat, keputusasaan rakyat kepada para wakilnya di DPR, seperti lirik dalam tembang Aku Dudu Rojo..

"Pupus godhong gedhang
Ajang pincuk saiki wis ra kelingan
Biting pringe garing
Mbok apusi awakku yo nganti gering"

Intinya, pupus sudah harapan, sudah tidak ada ingatan lagi (pada rakyat), kalian (Wakil Rakyat) bohongi aku sampai sakit.

Betapa mendalamnya nestapa yang ditunjukkan lirik lagu itu, apalagi ketika kita melihat anggota DPR membuang-buang waktu hanya untuk memilih ketua MPR, tidak peka terhadap kondisi bangsa, termasuk kondisi tanah Wamena yang sedang tercabik-cabik.

Bahkan beberapa dari anggota dewan yang terhormat justru tertawa ketika seorang anggota DPR perwakilan Papua menangis karena prihatin terhadap sense of crisis rekannya sendiri terhadap masalah Papua.

Ah, semakin ambyar hati ini sobat, ibu pertiwi seakan ikut bersenandung bersama seorang Didi Kempot sambil terisak menyiksa zaman.

Ya, bukan keramaian mas Anang atau idealisme ala bro Jerix yang menjembatani antara seni dan politik, tapi cukup kesederhanaan dari seuntai lagu sang Bapak Patah Hati Nasional.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun