Ryo Kusumo
Ryo Kusumo Professional

Membaca, menulis.. ...udah gitu aja www.ryokusumo.com

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Artikel Utama

Krisis Venezuela di Antara Ekonomi, Revolusi, hingga Kopi Bandung

16 September 2018   11:55 Diperbarui: 16 September 2018   19:57 2297 17 12
Krisis Venezuela di Antara Ekonomi, Revolusi, hingga Kopi Bandung
manado.tribunnews.com

"Maduro harus tetap bertahan" ujar kawan saya.

Baru saja saya bertemu dia, dadakan seperti tahu bulat. Di selasar LAPI ITB, namanya Elimar Chaves. Dari nama belakangnya tak asing, dia masih klan keluarga Hugo Chaves, mantan Presiden Venezuela.

Dia ke LAPI dalam rangka studi banding, dana sendiri, studinya keren, tentang kekuatan pangan Indonesia. Fokus di Ilmu Teknologi Hayati. Alasannya?

"Karena Venezuela butuh ketahanan pangan" Ujarnya sambil menyantap batagor di pinggir jalan, kali ini saya yang traktir.

Venezuela, negara yang baru dinyatakan krisis, sangat memprihatinkan kondisinya. Ayam utuh disana bisa seharga 1,5 gram emas, sayuran sekali masak seharga kita masak lebaran di Indonesia.

Antrean mengular 4-5 jam hanya untuk mendapatkan air dan beras. Itu di Caracas, ibukota Venezuela. Inflasi meningkat ratusan ribu persen, bisa melonjak menjadi 1 juta persen.

Elimar bercerita, masalah negaranya timbul akibat sekian banyak konflik. Pertama, soal minyak, Venezuela adalah negara yang sangat-sangat mengandalkan minyak dan tidak men-divestasikan bisnisnya di sektor lain. Ketika harga minyak jatuh, boom..!

Kok gitu, Timur Tengah pun mayoritas dari minyak, tapi ketika harga minyak jatuh, gak gitu-gitu amat? Yup, ini yang kedua, ujarnya. Venezuela menganut sistem sosialis yang saat ini menjadi biang kerok.

"Venezuela kaya minyak? Iya, tapi tidak kaya teknologi."

Maksudnya? Sosialis membuat negaranya menasionalisasikan seluruh aktivitas perminyakan, tanpa memberi ruang sedikitpun bagi investor (asing) untuk melakukan eksploitasi. Bagus sih niatnya, tapi tanpa didukung teknologi yang memadai, minyak di Venezuela hanya menjadi cadangan.

"Tidak ada knowledgetransfer disitu" Sambungnya.

Saya termenung, memandangi kaos Eli bergambar Cubitus warna biru usang. Saya jadi membuka kembali lembaran lama, dimana ketika era awal 2000an, Hugo Chaves begitu dielu-elukan oleh rakyat Venezuela karena sikap revolusionernya, terutama ketika revolusi Bolivarian.

November 2000, Chaves mengeluarkan Undang-Undang Ley Habilitante, dari bahasa Spanyol yang artinya "Memungkinkan bertindak". di mana UU ini memungkinkan Chaves untuk mengeluarkan dekrit, yang mana dari dekrit ini menghasilkan 49 UU yang sangat pro rakyat.

Salah satunya adalah UU reformasi agraria, dimana pemerintah membatasi kepemilikan tanah dari swasta, tuan tanah dan cukong-cukong tanah besar, dan dialokasikan untuk kepentingan petani, dimiliki negara.

Yang lebih gila lagi, UU reformasi minyak. Minyak sebagai pendapatan utama Venezuela di reformasi, di berlakukan pajak tinggi untuk asing, dari 16,6% ke 30%. Tidak tanggung-tanggung, dua kali lipat lebih.

Dari UU ini bisa ditebak, siapa yang kebakaran jenggot? Jelas para oposisi yang perutnya sudah gendut.

Chaves seperti bola liar bagi oposisi kapitalis. Ujungnya adalah percobaan kudeta, April 2002. Tapi gagal, rakyat berpihak pada Chaves, Chaves pun semakin pede dengan konsep Sosialis (tadinya tidak 100% sosialis).

Tapi dari sejarah itu, kita tahu bahwa Sosialis di dunia tidak pernah bobo nyenyak. Venezuela beda dengan China, dimana China sumber ekonominya buanyak. Dari mulai pentol korek sampai Turbine pembangkit listrik. Venezuela? Nol besar.

Seorang bahkan berkata, jika seluruh bangsa dunia dimusnahkan dan tinggal China, maka China pun tetap dapat hidup sendiri.

Venezuela tidak. Tapi Chaves tetap nekat, sayangnya tanpa pondasi ekonomi yang kuat. Minyak menyumbang 90% pendapatan negara.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2