Mohon tunggu...
Raden Yongky Hendrawan
Raden Yongky Hendrawan Mohon Tunggu... Sukses=Belajar Dari Kegagalan

Menjalani Hidup Apa Adanya dan Mencari Kesuksesan Untuk Dapat Bermanfaat Bagi Banyak Orang

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Sejarah Gelar "Adipati Tjitrasoma"

8 April 2021   14:39 Diperbarui: 8 April 2021   14:41 577 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Sejarah Gelar "Adipati Tjitrasoma"
 Gambar Ilustrasi Penyerbuan Mataram ke VOC di BATAVIA (Sumber: ceknricek.com)

          

         

          Pada Zaman Dulu,terutama Kakek Moyang Jawa sering melalukan Meditasi atau bertapa untuk berbagai hal seperti hal nya mencari kesaktian,mecari wangsit,mencari ketenangan batin dll.

Mas Ngabei Loring Pasar menjalankan "Tapa" di Pantai Selatan Mataram berhasil menemui Nyai Ratu Kidul dengan Patihnya Nyai Ratu Kidul.

mereka berwawansabda mempersolakan kerajaan.tidak antara lama Mas Ngabei Loring Pasar, dapat menduduki kerajaan Mataram dengan gelar Panembahan Senopati komumikasi serupa di lakukan juga oleh Mas Rangsang Sultan Agung Hanjakrokusumo bersama Pengawal Pribadi Raden Garbo atau Raden Karboso, beliaulah kelak yang menurunkan Bupati-bupati di Pesisir Utara Yang bergelar Tjitrasoma.

         Sultan tidak menerima tawaran untuk menetap di Keraton " SAMODRA SELATAN " sebagai suami Nyai Ratu Kidul sekalipun di jamin apa yang di katakan "kebahagiaan abadi".hanya di dalam membalas kecintaan Sultan memerintahkan pada Tumenggung Wiroguno agar menyerahkan Pusaka Keris Sengkelat kehadapan Nyai Ratu Kidul dengan jalan melarung benda tersebut di tengah-tengah laut Selatan. Dua masalah besar yang dihadapi Pemerintahan Sultan Agung, pertama memadamkan pemberontakan didaerah-daerah mancanegara Mataram dan kedua menghalau orang-orang yang bersenjata yang melindungi VOC mencari kekayaan di Jakarta / Batavia. Mas Jolang, Ayah Sultan Agung mendapat sebutan Susuhunan Sedo Krapyak karena sekembalinya dari Medan Laga wafat di Krapyak.

Memang perang masih terus berkecamuk didaerah-daerah,usaha menentramkan daerah Sultan dapat bantuan sepenuhnya dari Ayah Raden Grabo / Raden Karboso,Bupati Sendang Sedayu barat daya Surabaya bernama Panembahan Ronggo Yudonegoro ke II. Bupati Surabaya Adipati Pekik meyerah,kemudian diambil menantudi kawinkan dengan Ratu Wandansari, untuk seluruh Madura diangkat Adipati Cakraningrat,selanjutnya berangsur-ansur dikuasai kembali Pati Lasem,Tuban dan Pasuruhan. Tiba Saatnya barisan Mataram menyerbu Batavia dimana benteng VOC berdiri tegak mengamankan Usahanya menyedot Rezeki penduduk.

Menurut Cerita Leluhur,sekalipun Barisan Mataram  mengalami kegagalan, namun berhasil juga menangkap Jan Pieters Zoon Coen yang selanjutnya di bawa ke Mataram untuk dilaporkan kehadapan Raja. Kematiannya dalam pertempuran tidak pernah di tulis dalam sejarah, dirahasiakan sama halnya dengan matinya Jendral Mallaby pada Tanggal 27 Oktober 1945 dalam Pertempuran Surabaya. Raden Garbo atau Raden Karboso, Putera Panembahan Ronggo Yudonegoro dari Ibu Kiageng Lumut Mataram dikala peperangan.tidak sedikit Jasanya jika dilihat dari nama gelarnya yang baru.

Beliau mendapat pangkat dan sebutan Kyai Adipati Reksodjiwo, perkawinannya dengan Putri Nyai Ageng Tanon dari Sukawati cucu Kyai Ageng Selo mendapat enam Putera, yang bungsu bernama Raden Wuragil atau Djiwosuto dan bergelar R. Adipati Tjitrasoma I Bupati Jepara ,sedangkan putra dari Ibu lain dinamakan Ki Sutodjiwo atau warga Jepara pantai Bondo Menyebutnya Ki Sutobondo yang sampai kini terus bertugas di Alam halus.

           Pada Awal Tahun 1700 meletuslah perang perebutan Mahkota I dibawah pemerintahan Sunan Mas, Pangeran Puger yang Hijrah ke Semarang setelah mendapatkan pengakuan dari VOC sebagai Raja Jawa termasuk para Adipati di Madura  Adipati Cakraningrat , di Surabaya Adipati Jangrono dan di Semarang Adipati Surohadimenggolo, berhasil menduduki Tahta Kerajaan Kartosuro di nobatkan pada Tahun 1705 dengan gelar Susuhunan Pakubuwono Senopati Ngalogo Ngabdul Rokhman Saijidin Panatagama pertama.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x