Mohon tunggu...
Rut sw
Rut sw Mohon Tunggu... Ibu Rumah Tangga, Penulis, Pengamat Sosial Budaya
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Berusaha melejitkan potensi dan minat menulis untuk meraih pahala jariyah dan mengubah dunia dengan aksara

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan

Akses Vaksin, Beruntung atau Buntung?

19 Januari 2021   22:53 Diperbarui: 19 Januari 2021   22:57 53 2 0 Mohon Tunggu...

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan Indonesia termasuk negara yang beruntung lantaran bisa mendapatkan akses vaksin dari berbagai perusahaan farmasi di dunia. Sebab banyak negara miskin yang tidak bisa mendapatkan akses vaksin lantaran keterbatasan dana.

"Banyak negara miskin bahkan belum bisa mengumumkan (jumlah vaksin) karena kemungkinan dapat akses vaksin sangat sulid karena keterbatasan dana," ujar Sri Mulyani ketika rapat dengan Komite IV DPD RI, Selasa (kompas.com, 19/1/2021).

Benarkah kita beruntung, atau justru buntung? Vaksin adalah salah satu ikhtiar guna lepas dari pandemi Covid-19. Dalam Islam hukumnya Sunnah dan bahkan sejarah mencatat ilmuwan Islamlah yang pertama kali menemukan vaksin. 

Ar-Razi atau yang terkenal dengan nama Rhazez adalah salah satu ilmuwan kedokteran muslim yang pertama kalinya menemukan konsep dasar vaksin smallpox (cacar) yang digunakan hingga saat ini. Klaim bahwa baratlah penemu vaksin pertama sangatlah menyesatkan. Karyanya dijadikan buku dengan judul al-jadari wa al-hasba (manuskrip asli kini masih disimpan rapi di Leiden University).

Dengan sistem yang shahih, yaitu syariat. Islam maju sebagai peradaban cemerlang, dari sisi ilmu pengetahuan menyumbangkan banyak ilmuwan yang kontribusinya terhadap dunia tak diragukan lagi. Di bidang kesehatan bahkan menjadi landasan ilmu kedokteran modern, termasuk penemuan vaksin di atas.

Lantas mengapa kini negeri-negeri kaum Muslim justru sangat bergantung kepada vaksin buatan luar negeri bahkan dari negara kafir? Tak hanya itu, masalah kesehatan pun Muslim tak berdaya mengatur sesuai syariat . Akibatnya baik pelayanan kesehatan, SDM, obat-obatan, penelitian, pengembangan teknologi kesehatan dan pengetahuan obat dan terapi medis semua berasal dari barat. 

Padahal secara Syara' kebutuhan kesehatan adalah salah satu dari enam kebutuhan pokok yang harus dijamin penyediaannya oleh negara. Haram hukumnya menggantungkan harapan kepada kafir, sebab Allah pun sudah menegaskan setiap urusan yang pemenuhannya menyangkut masyarakat haruslah adil dan tidak opportunis. 

Maka tak layak jika Menkeu mengatakan sebagai keberuntungan. Sudahkah optimal pelayanan negara Kepada rakyat? Bisa dibilang kita sedang buntung, karena sama seperti sebuah negara tanpa kekuatan militer, dia akan sangat bergantung pada negara yang lebih kuat. Inilah jalan untuk menguasai , mana mungkin negara lain ingin berjualan tanpa mengharap imbalan?

Sebagai salah satu kebutuhan pokok, maka negara wajib menyelenggaran kesehatan hingga menyentuh kebutuhan kesehatan masyarakat individu per individu. Mendorong para ahli untuk terus meneliti vaksin yang berguna bagi kemaslahatan umat, tanpa melibatkan pihak ke-3 yaitu asing.

Parahnya, hari ini tidak semua negara mendapatkan vaksin, semua karena kita sekarang dibatasi Nasion State hingga hilang Ukhuwah Islamiyah hilang, sehingga urusan bersama malah jadi urusan pribadi, individualis. Semua diurus oleh korporasi yang hanya menangguh keuntungan semata. 

Jika saja para penguasa tersebut menerapkan syariat, yaitu aturan yang berasal dari Allah SWT, tentulah keberadaan tak akan semakin sempit seperti hari ini. Bahkan hingga umat Islam lupa dengan Misinya hidup di dunia .Wallahu a' lam bish showab.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x