Mohon tunggu...
Rustan Ibnu Abbas
Rustan Ibnu Abbas Mohon Tunggu... Penulis, Trainer

Suka nulis , Trainer Sales, Cinta Islam, Pembelajar dari nilai kehidupan Silahkan kunjungi Blog saya di www.rustanibnuabbas.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan Artikel Utama

Memahami Kegalauan ASN Pindah ke Ibu Kota Baru

27 Agustus 2019   09:19 Diperbarui: 28 Agustus 2019   18:29 0 10 8 Mohon Tunggu...
Memahami Kegalauan ASN Pindah ke Ibu Kota Baru
(KOMPAS.com/KRISTIAN ERDIANTO)

Saya sudah 5 kali merasakan pindah rumah kontrakan, rasanya pasti tidak enak, capek dan was-was. Namun karena masa kontrakan habis serta segera diminta untuk keluar maka mau tidak mau, suka atau tidak suka saya harus segera berbenah untuk pindah ke rumah kontrakan baru.

Namun masalahnya tidak sesimpel itu rasa was-was juga kerap menghinggapi jangan-jangan rumah kontrakan yang baru ini lingkungannya tidak bagus, jarak dari tempat kerja juga jauh, bagimana dengan anak-anak dan keluarga, gimana dengan listrik, air serta fasilitas umum. 

Karena saya sudah merasa bahwa kontrakan yang lama sangat bagus, stategis, fasilitas lengkap dekat dengan tempat kerja dll. Pokoknya sudah nyaman tinggal disitu.

Mungkin seperti inilah yang dirasakan oleh ASN yang rencana akan dipindahkan ke ibu kota baru. Sebuah kota kecil yang jauh dari keramaian, pusat ekonomi, pusat bisnis, mall, jauh dari pusat belanja. 

Wilayah  yang betul-betul asing bahkan boleh saya perkirakan hampir 99 % belum pernah berkunjung ke ibu kota baru tersebut. 

Penetapan ibu kota baru bukan hanya menjadi kegalauan para pakar atau politisi tapi juga ASN sepertinya lebih galau lagi. 

Pasalnya mereka harus "ikhlas" meninggalkan tempat tinggal sebelumnya yang sudah puluhan tahun mereka tinggali dan sepenuhnya pindah ke Kalimantan Timur di daerah Penajam Paser Utara dan sebagian di Kabupaten Kutai Kartanegara.

Belum lagi kekhawatiran masalah fasilitas pendidikan, kesehatan, belanja, biaya hidup yang pasti sangat berbeda dengan kota Jakarta

Makanya tidak heran jika 94,7 persen ASN menolak ibu kota dan pusat pemerintahan dipindahkan ke Kalimantan, berdasakan survei yang dilakukan Indonesia Development Monitoring (IDM). 

Alasan penolakan mereka  93,7 persen menyatakan khawatir dengan fasilitas kesehatan dan pendidikan anak yang kurang bermutu, 92,6 persen ASN menyatakan gaji dan pendapatan mereka tidak akan mencukupi biaya hidup mereka di ibu kota baru. 

Sebuah alasan yang sangat masuk akal bahkan ketika ditanya apa solusinya 78,3 persen akan mengajukan pensiun dini dari tugasnya, 19,8 persen akan ikut pindah. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x