Mohon tunggu...
Rustan Ibnu Abbas
Rustan Ibnu Abbas Mohon Tunggu... Penulis, Trainer

Suka nulis , Trainer Sales, Cinta Islam, Pembelajar dari nilai kehidupan Silahkan kunjungi Blog saya di www.rustanibnuabbas.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Hijrah Diri untuk Kemajuan Bangsa

10 September 2018   11:18 Diperbarui: 10 September 2018   12:21 362 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Hijrah Diri untuk Kemajuan Bangsa
hijrah-5b95ff59c112fe7f553bcdf2.png

Memperingati  tahun baru islam 1 Muharram 1440 H maka tidak lepas dari pemaknaan nilai-nilai hijrah untuk kehidupan pribadi dan juga kehidupan berbangsa. Secarah umum hijrah dimaknai sebagai proses perpindahan dari kondisi kurang baik ke tempat yang lebih baik. 

Hijrah sebagai salah satu prinsip hidup, harus senantiasa kita maknai dengan benar. Meninggalkan segala hal yang buruk, negatif, maksiat, kondisi yang tidak kondisif, menuju keadaan yang lebih yang lebih baik, positif.

Hijrah bisa merefleksikan dan meniscayakan titik balik kebangkitan, perubahan mindset, transformasi sosial politik, dan kemajuan peradaban. Melihat kondisi  sekarang yang masih banyak diantara kita belum berhijrah sepenuhnya menjadi lebih baik.

Perubahan pertama yang mesti dilakukan adalah perubahan mindset. Seseorang tidak akan berubah kalau bukan dia sendiri yang merubahnya. Semuanya bermula dari perubahan pola pikir, dan pola sikap. 

Masih banyak yang senang melihat orang lain susah dan susah melihat orang lain senang. Seseorang yang hanya memikirikan keuntungan pribadi akan bekerja mendapatkan harta sebanyak-banyaknya untuk memperkaya diri sendiri apa pun caranya.

Maka tidak heran mengapa korupsi masih tumbuh subur di negeri ini. Selain karena mind set yang masih bermasalah. Penerapan hukum juga masih sangat kurang memberi efek jera terhadap korupsi. Keadilan dirasakan semakin menipis, bayangkan saja pelaku korupsi yang merampok milyaran rupiah hukumannya sama dengan pencuri sandal yang mereka melakukan perbuatan tersebut karena kebutuhan perut.

Dari sisi transformasi sosial politik, perilaku politik mulai dari elit sampai kalangan akar rumput masih perlu berbenah. Menjelang pemilihan presiden tahun 2019 hampir setiap hari suasan batin politik semakin mamanas. Sama-sama mencari kelemahan lawan untuk dijadikan bahan kampanye untuk menjatuhkan. Semua cara-cara licik halus sampai yang terang-terangan dipakai untuk membunuh karakter lawan politiknya dan itu dengan mudah kita temui di media sosial.

Proses pendewasaan politik belum berjalan baik. Keserakahan berkuasa rupanya mematikan nurani sebagian politisi dengan bertindak menghalalkan segala cara. Kekhawatiran saya memang beralasan, pilpres yang akan berlangsung 7 bulan mendatang bila tidak di tangani dengan baik bukan tidak mungkin menanamkan bibit-bibit perpecahan.

Momen hijrah sebagai pengingat untuk kita agar bisa melihat  diri sendiri sebagai unit terkecil bangsa ini. Konstribusi apa yang bisa dilakukan untuk kemajuan bangsa. Kalau pun belum bisa berkonstribusi maka jadilah manusia yang tidak menimbulkan persoalan baru ditengan persoalan berat yang dihadapi oleh bangsa ini. Kenaikan nilai tukar rupiah terhadap dollar, masalah pengguran, tindakan criminal, pergaulan bebas sampai ancaman disintegrasi bangsa.

Hijrah merupakan titik balik perubahan untuk lebih baik. Potensi yang dimiliki Indonesia begitu besarnya. Sumber daya Alam dan Sumber daya manusianya besar dan berlimpah. 

Saya yakin bila pengelolaan baik kita menjadi bangsa yang besar dan disegani. Namun bila dikelola oleh orang yang tidak berkompeten maka negeri ini susah bersaing dengan negara lain dan semuanya itu dimulai dari sendiri untuk berubah menjadi lebih baik.

VIDEO PILIHAN