Rus Rusman
Rus Rusman Praktisi Pendidikan, Aktivis SAMBANGPRAMITRA - www.kompasiana.com/rusrusman522 - www.facebook.com/rusman245

"Hidupmu terasa LEBIH INDAH jika kau hiasi dengan BUAH KARYA untuk sesama".

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Rembulan di Atas Bayang Semu Sang Adipati

14 Juni 2018   10:11 Diperbarui: 14 Juni 2018   10:24 724 5 1

OLEH :

RUS RUSMAN

  Adipati Tuban ke-17, Mas Hario Dalem yang bergelar Benteng Surolawe tengah berjuang merebut kembali daerah leluhur. Kadipaten Tuban kini                            dikuasai oleh musuh dari Kerajaan Mataram. Strategi perang gerilya telah diterapkan dan untuk itu Sang Adipati menyembunyikan barak                                          pasukannya di tengah hutan Jenggala.

 "Esok kita harus berani menyerbu Tuban untuk mendapatkan kembali milik kita", berkata Mas Hario Dalem kepada pasukannya. Untuk itu malam                        ini dia bersama Ki Panitis tengah melangkahkan kakinya melihat-lihat keadaan di ibukota kadipaten.

Sepeninggal Mas Hario Dalem, nampak di perkemahan Senggara melangkah maju mendekati Raguna. Mulutnya yang nampak masih mengunyah daging rusa. Dia bertanya "Apakah yang telah kau lakukan Raguna?"

Raguna menundukkan wajahnya. Terasa darahnya seakan-akan mau menggelegak, namun ia tidak berani berbuat apa-apa. Meskipun demikian ia merasakan juga bahwa telah terjadi perubahan sikap pada Benteng Surolawe yang garang itu.

Meskipun Raguna belum menjawab, namun dengan melihat pedang Raguna yang masih melintang di tengah-tengah pintu, segera Senggara dapat menduga apa yang telah terjadi. karena itu maka Senggara berkata: "Hem..., kejadian ini persis yang aku alami kemarin lusa, kebetulan aku masih bisa menyadari karena aku tahu bahwa kau semalaman begadang keluar perkemahan. Tapi kali ini kau ulangi lagi menimpa Benteng Surolawe, maka habislah kau Raguna.."

Kini dalam angan Senggara terbayang perempuan cantik yang sering didatangi si Raguna, maka seperti kepada diri sendiri Senggara bergumam: "Itulah mengapa aku tidak mau berurusan dengan perempuan. Perempuan di mana-mana dapat menimbulkan persoalan. Dunia ini dapat menjadi sangat indah dan menggairahkan karena perempuan. Namun dunia ini dapat pula berubah menjadi neraka juga karena perempuan. Nah Raguna, jangan menyesal. Yang sudah biarlah terjadi, tetapi ingatlah untuk seterusnya, bahwa Benteng Surolawe yang garang itu amat membenci perempuan jalang."

Raguna mengangkat wajahnya. Dilihatnya Senggara masih menggerak-gerakkan mulutnya. Tetapi Raguna tidak berkata apa-apa. dengan langkah yang gontai ia berjalan meninggalkan tempat itu.

"Mau ke mana?" bertanya Senggara.

"Tidak ke mana-mana." sahut Raguna.

"Kau tidak boleh menempati gubug yang hampir roboh itu. Tidurlah di tempatku bersama orang-orangku. Bukankah kau masih ingat kata Mas Hario Dalem ?"

Raguna menggeleng, katanya: "Aku akan tidur bersama orang-orangku sendiri."

Senggara dengan susah payah menelan segumpal daging yang tidak dapat dikunyahnya. Sesaat terasa kerongkongannya tersumbat. Namun setelah gumpalan daging itu melalui lehernya ia berkata: "Terserahlah, tetapi aku akan berbicara kepadamu. Datanglah ke gubugku."

"Tentang apa?" bertanya Raguna.

"Tidak tentang perempuan" sahut Senggara.

"Ah" desah Raguna "Tentang apa?"

Senggara memandang Raguna dengan tajamnya. Ia tidak senang mendengar Raguna berkata tajam kepadanya.

Meskipun demikian ia menjawab: "Tentang kedudukan kita dan kadipaten ini. Pergilah!"

"Apa yang akan kita bicarakan?"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6