Rus Rusman
Rus Rusman Praktisi Pendidikan, Aktivis SAMBANGPRAMITRA - www.kompasiana.com/rusrusman522 - www.facebook.com/rusman245

"Hidupmu terasa LEBIH INDAH jika kau hiasi dengan BUAH KARYA untuk sesama".

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

"Reward and Punishment" dalam Pendidikan Anak

8 Juni 2018   21:33 Diperbarui: 6 Juli 2018   01:21 729 2 0
"Reward and Punishment" dalam Pendidikan Anak
img-20160916-090525-5b3e641316835f038d605ac3.jpg

Hadiah bagi anak walaupun sering dipandang permasalahan yang ringan, namun sebenarnya memiliki dampak yang tidak kecil bagi kejiwaan mereka. Pada umumnya orang tua mempunyai prinsip yang agak berbeda satu sama lain dalam menanggapi permasalahan ini. Hal itu tergantung dari kepekaan mereka terhadap pendidikan anaknya serta kondisi tingkat ekonomi ayah dan ibu, terutama  jika hadiah selalu dipandang berupa benda.

Ada yang menarik, kadang-kadang ada orang tua yang menganggap uang jajan sekolah termasuk dalam unsur "hadiah" bagi anak-anaknya. Jadi kalau anak mendapat nilai bagus, maka besoknya uang jajan ditambah. Sebaliknya jika nilainya rendah besok bahkan tidak diberi uang jajan. Dalam hal ini kita harus berhati-hati, sebab bisa saja kalau salah dalam penerapan justru akan menjadi bumerang bagi kejiwaan anak.

Coba kita berangkat dari pertanyaan ini dulu, apa hubungannya sih antara pendidikan dan hadiah itu?  Terutama bagi anak-anak kita. Apakah hadiah bisa digunakan untuk memicu daya tarik belajar anak? Atau untuk alat pendobrak rasa malas bersekolah? Jangan-jangan justru menjadi bumerang, anak yang semula tidak terlalu berpikir tentang hadiah justru menjadi tergantung pada benda bagus atau uang untuk mau berangkat ke sekolah.

Mengenai factor hadiah dalam ranah pendidikan ini bukanlah sesuatu yang baru. Dalam teori "Clasical Conditioning" yang ditemukan oleh Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936), peranan hadiah ini sengaja dijadikan sebagai faktor penentu utama. Dalam teori ini percobaan sengaja menggunakan subyek "anjing". Petama anjing dibiarkan lepar terlebih dahulu. Kemudian kepada anjing yang sedang lapar tadi ditunjukkan makanan berupa daging, sambil diperdengarkan bunyi bel.

Tentu saja binatang tersebut segera mengeluarkan air liur. Demikian seterusnya setiap mempertunjukkan daging selalu diperdengarkan bunyi bel, dan saat itu juga air liur anjing segera keluar. Sampai pada akhirnya daging tidak usah ditunjukkan tapi suara bel diperdengarkan. Ternyata yang terjadi adalah bahwa anjing tetap mengeluarkan air liur walaupun tidak melihat makanan daging. Kondisi itu terus berlangsung sampai saat tertentu ketika yang muncul hanya suara bel saja, air liurpun tidak terlihat lagi. Di sini daging berperan sebagai hadiah utama (stimulus) sedangkan air liur sebagai perilaku yang diharapkan (respon).

Pada kesempatan ini penulis sengaja tidak membahas terlalu detail tentang teori Clasical Condioning ini, tetapi perlu diketahui bahwa teori ini akhirnya mendapatkan perbaikan dari beberapa pakar-pakar psikologi pendidikan yang lain. Namun demikian pada initinya sama, yaitu mendasarkan keyakinan bahwa factor hadiah memiliki peranan nyata untuk membangun motivasi belajar anak.

Kembali pada uang jajan sebagai hadiah untuk anak, di sini orang tua perlu berhati-hati. Ketika itu diterapkan maka pengamatan terhadap perubahan perilaku anak perlu secara cermat dilakukan. Pendapat (Afifudin, 1988) mengatakan bahwa "Reaksi mengadat anak (temper tantrums) serta tingkah laku agresif dapat timbul sebagai hasil penguat yang keliru di mana tingkah laku yang konstruktif tidak diberi hadiah, dan hanya tingkah laku nakal yang mendapat perhatian dari orang tua dan gurunya".

Artinya ayah dan ibu harus bisa memilih, bahwa hadiah diberikan dalam kondisi anak menunjukkan perilaku yang baik, berprestasi, terampil melakukan suatu tindakan tertentu, dsb.  Dalam konteks ini pemberian reward (hadiah) harus diseimbangkan dengan penerapan punishmen (sangsi) jika anak nyata-nyata melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan harapan. Misalnya jika prestasinya sangat menurun, berlaku ceroboh, melanggar aturan rumah/sekolah, dsb.

Ada hal lain yang juga penting dipegang sebagai prinsip jika teori reward and punishment diterapkan dalam pendidikan anak. Bahwa "pemberian pengakuan yang tidak konsisten dapat membuat anak menjadi cemas terutama bila ia tidak lagi bisa memastikan apakah ia akan mendapatkan hukuman atau hadiah. Anak itu berada dalam keadaan ketidaktentuan (ambiguity) di mana proses didik untuk membedakan tidak dapat berlangsung secara wajar bahkan mmbingungkan.

Dalam hal ini anak seolah-olah berada dalam situasi samar, apakah tindakannya nanti masuk ketegori memperoleh hadiah atau justru mendapatkan hukuman/teguran. Dalam konteks ini orang tua harus mampu berlaku konsisten terhadap perilaku mana yang pantas diberikan hadiah dan tindakan mana pula yang harus diberikan sangsi atau hukuman. Jangan sampai tingkah laku baik tidak akan mendapatkan perlakuan atau hadiah primernya atau sebaliknya perilaku yang buruk anak tidak memperoleh sangsi sehingga anak merasa asyik terhadap kenakalannya itu. Keadaan seperti ini akan menyebabkan reaksi emosional yang berlebihan dalam diri anak.

Seringkali pula orang tua harus menyadari bahwa kondisi jiwa yang ideal itu kadang bisa dipenuhi oleh anak, tetapi sering pula sulit dicapai mengingat anak merupakan pihak yang umumnya kondisi jiwanya masih lemah. Tidak mengherankan jika anak-anak mudah tersugesti oleh situasi dan kondisi yang ada di sekelilingnya, terutama oleh sesuatu yang dipandang menarik bagi dirinya.

Sebagaimana dijelaskan oleh Gerungan (1978)  mengenai arti sugesti sebagai berikut: "Sugesti dalam ilmu jiwa sosial dapat kita rumuskan sebagai suatu proses di mana seorang individu menerima suatu cara penglihatan, atau pedoman-pedoman dalam tingkah laku dari orang lain tanpa kritik terlebih dahulu".

Jadi intinya adalah jika orang tua menerapkan prinsip reward and punishment dalam pendidikan anaknya maka buatlah criteria yang jelas tentang perilaku mana yang dipandang sebagai perilaku salah yang akan menerima teguran (hukuman) dan tindakan mana yang dipandang sebagai tindakan baik yang akan menerima hadiah (pujian). Di samping itu anakpun juga harus menyadari betul bahwa yang namanya hadiah tidak selalu berupa benda atau uang melainkan bisa berupa pengakuan, pujian, atau mungkin bisa berupa buku, majalah, dan kegiatan rekreasi ke tempat-tempat  yang bermanfaat. Demikian semoga bermanfaat.***

Daftar Bacaan :

Afifudin, 1988, Psikologi Pendidikan untuk Anak-Anak, Harapan Massa Solo.

Gerungan, 1978, "Psikologi Sosial", Eresco, Jakarta.

Keterangan:

Penulis adalah praktisi pendidikan di Kabupaten Tuban.