Mohon tunggu...
Rusdi Mustapa
Rusdi Mustapa Mohon Tunggu... Guru sejarah yang suka literasi, fotografi, dan eksplorasi

Guru sejarah yang menyukai literasi, fotografi dan eksplorasi

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Mengulik Fakta dan Mitos Pagebluk di Jawa

29 Juni 2020   09:11 Diperbarui: 29 Juni 2020   09:30 153 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mengulik Fakta dan Mitos Pagebluk di Jawa
Masyarakat Jawa masa lampau (sumber: presentasi Dani Saptoni / Foto ilustrasi karya fotografer H. Salzwedel)

Melihat kondisi saat ini, wabah virus Corona (Covid-19) yang menjadi artis baru yang tengah naik daun sejak awal tahun 2020, bukan hanya di Indonesia namun juga secara global. Hal ini memberikan dampak yang cukup buruk terhadap produktifitas dari banyak komunitas yang ada di Indonesia. 

Akan, tetapi, situasi ini sejatinya dapat pula digunakan sebagai peluang untuk terus mengembangkan diri, bukan hanya berdiam diri menunggu sampai keadaan membaik. Oleh karena itu, peluang ini bisa dimanfaatkan untuk berbagi ilmu dan pengetahuan baru terutama perihal sejarah dan kebudayaan Indonesia kepada masyarakat luas. 

Inilah yang memantik Association for Scientific Computing Electronics and Engineering (ASCEE) Student Branch Tiongkok bersama Solo Societeit (Komunitas Sejarah di Solo), mengadakan webinar nasional bertema "Tradisi Lisan dan Mitos Pagebluk di Jawa"

Kegiatan yang mendapatkan dukungan Imasfek UNSRI (Ikatan Mahasiswa Seni Fakultas Ekonomi), dan Indonesia Students and Youth Forum (ISYF) ini diselenggarakan secara online pada 28 Juni 2020. 

Tampil sebagai pembicara adalah Heri Priyatmoko, dosen sejarah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan Dani Saptoni selaku ketua Solo Societeit. Webinar ini diadakan karena selama ini jarang sekali akademisi memberi panggung pada mitos atau gugon tuhon untuk dibedah. Seolah mitos yang hidup dalam memori masyarakat Jawa itu bukan fakta berharga. 

Webinar Nasional Tradisi Lisan dan Mitos Pagebluk di Jawa (sumber: panitia)
Webinar Nasional Tradisi Lisan dan Mitos Pagebluk di Jawa (sumber: panitia)

Pagebluk dalam sudut pandang kawuruh Jawa bukan hanya dari sisi kesehatan, tetapi dalam laku kehidupan manusia. Dani Saptoni menyebut, konsep Kawruh Jawa terbangun dari lima unsur yaitu reaksi terhadap fenomena sekitar, mendefinisikan fenomena yang terjadi, upaya mempertahankan keseimbangan, menciptakan kesadaran terhadap ilmu pengetahuan, dan meleburkan diri dalam keseimbangan. 

Bentuk pagebluk menurut Dani Saptoni berupa memala (penyakit), sukerta/sukreta (suatu keadaan spiritual yang buruk), lara pataka, dan rajapati yang bisa disebarkan melalui teluh, sawan dan lelembut. Hal ini timbul karena dua faktor yaitu internal dan eksternal. Faktor internal berupa kesalahan etik dan etika manusia, pola hidup tidak sehat, dan ketidakseimbangan makro dan mikro kosmos. Sedangkan faktor eksternal berupa takdir (ginaris/pepesthi) dan siklus alam. 

Masyarakat Jawa memaknai pagebluk sebagai sarana kontemplasi (renungan) dan alarm  ketika harmoni mengalami ketidakseimbangan. Solusi terhadap pagebluk yang dilakukan masyarakat Jawa antara lain Ngelmu Titen (melihat hubungan antara suatu peristiwa dengan peristiwa lainnya dengan berbasis tradisi). 

Ngelmu Titen merupakan kearifan lokal yang dapat dipelajari secara tradisional dan turun temurun dari nenek moyang bangsa kita. Selanjutnya adalah berupaya menyeimbangkan kembali harmoni dengan upaya internal berupa menanggalkan kebiasaan lama yang keliru (eling lan waspada) serta upaya eksternal berupa melakukan ritual labuhan, ruwatan, kirab dan barikan. Hal ini agar tercipta kembali keseimbangan antara makro dan mikro kosmos sebagai akibat dari munculnya kesadaran atas Sangkan Paraning Dumadi (cara manusia menyikapi kehidupan ).

Korban Pageblug di Jawa (sumber: presentasi Heri Priyatmoko)
Korban Pageblug di Jawa (sumber: presentasi Heri Priyatmoko)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x