Mohon tunggu...
Rusdi Mustapa
Rusdi Mustapa Mohon Tunggu... Guru sejarah yang suka literasi, fotografi, dan eksplorasi

Guru sejarah yang menyukai literasi, fotografi dan eksplorasi

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Pembelajaran Kolaboratif di Situs Purbakala Sangiran

22 Mei 2015   21:01 Diperbarui: 17 Juni 2015   06:42 168 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pembelajaran Kolaboratif di Situs Purbakala Sangiran
DSC02068

Pelajaran sejarah yang menyenangkan dan berkesan ? Inilah barangkali dambaan bagi sebagian besar guru sejarah, termasuk saya tentunya. Mengapa demikian ? Bukan rahasia lagi jika pelajaran sejarah merupakan pelajaran yang agak kurang diminati oleh siswa. Banyak faktor yang menyebabkan hal ini, salah satunya adalah metode pembelajaran yang digunakan guru. Metode ceramah adalah salah satu metode yang menjadi andalan seorang guru sejarah. Memang tidak disalahkan juga karena untuk menjelaskan materi sejarah memang dengan ceramah. Tapi yang perlu dipikirkan oleh guru-guru sejarah adalah bagaimana metode ceramah ini di kombinasikan dengan metode yang lain. Banyak memang metode pembelajaran yang telah kita ketahui. Tinggal bagaimana guru memilih dan tentu saja disesuaikan dengan kondisi masing-masing di sekolah.

Sebagai seorang guru sejarah di MAN 1 Surakarta saya tertantang untuk menampilkan pembelajaran sejarah yang “tidak biasa”. Kebetulan tempat saya mengajar dekat dengan tempat-tempat bersejarah, seperti kraton Kasunanan Surakarta, Pura Mangkunegaran, Perpustakaan Radya Pustaka dan yang lainnya. Sayang sekali jika tidak dimanfaatkan untuk pembelajaran sejarah. Nah, berangkat dari pemikiran sederhana ini dan didorongkan oleh keinginan untuk lebih meningkatkan kualitas pembelajaran sejarah, saya mengadakan kegiatan pembelajaran di luar kelas dengan mengunjungi Situs Purbakala Sangiran. Kebetulan letak dari situs purbakala Sangiran tidak begitu jauh dari tempat saya mengajar yaitu di kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen.

Sebelum melaksanakan kegiatan ini saya berdiskusi dengan  Ibu Hikmawati Maria Kusumawardhani, guru geografi di sekolah saya. Karena saya melihat bahwa di situs purbakala Sangiran selain menyimpan peninggalan manusia purba dalam bentuk fosil-fosilnya, juga memiliki keunikan dari segi kondisi geografisnya. Yang pernah saya dengar bahwa daerah Sangiran dan sekitarnya pada masa dulu merupakan lautan. Karena Sangiran pada masanya merupakan tempat berkumpulnya manusia purba dan menjadi sumber mencari makan yang potensial. Dari diskusi kecil akhirnya kita sepakat mengadakan kegiatan pembelajaran di Sangiran dengan fokus mempelajari sejarah manusia purba sekaligus mempelajari kondisi geografisnya. Jadilah kegiatan pembelajaran kolaboratif antara sejarah dan geografi.

Untuk kegiatan ini saya merencanakan membentuk dua kelompok yaitu kelompok sejarah dan kelompok geografi. Kelompok sejarah bertugas meneliti seputar manusia purba yang pernah hidup di Sangiran, hasil kebudayaan, serta Cara hidupnya. Sedangkan kelompok geografi meneliti tentang unsur-unsur tanah yang ada di Sangiran, seperti susunan tanah, pola keruangan serta hal-hal lain yang berhubungan dengan geografi. Setelah menentukan kelompok, tibalah saatnya melemparkan rencana kegiatan kepada siswa. Kebetulan  materi tentang manusia purba adalah materi kelas X semester genap. Siswa kelas X yang saya kerahkan dalam kegiatan ini adalah kelas X 1, X 2, dan X 3. Dari masing-masing kelas dibentuk dua kelompok yaitu kelompok sejarah dan kelompok geografi.  Hal-hal apa yang harus diamati oleh siswa telah saya berikan dan di akhir kegiatan, siswa mempresentasikan hasil pengamatannya.

Tibalah saat yang ditunggu-tunggu. Siswa/siswiku mulai mengadakan persiapan. Sebelumnya diadakan seremonial pelepasan oleh kepala sekolah Drs. H. Agus Hadi Susanto, M.Ag. Dalam sambutannya kepala sekolah berharap dari kegiatan pembelajaran kolaboratif sejarah dan geografi, siswa mendapat manfaat yang besar terutama dalam penguasaan materi sejarah dan geografi. Dengan mengunjungi langsung tempat yang dahulu merupakan pusat perkembangan manusia purba diharapkan pemahaman siswa akan lebih kuat.

Seremonial pelepasan oleh kepala sekolah ( foto : Koleksi Pribadi)

Setelah sambutan selesai maka rombongan “peneliti” dari MAN 1 Surakarta mulai bergerak ke lokasi menggunakan 3 armada bus. Selama perjalanan rombongan disuguhi dengan pemandangan yang sungguh indah. Sawah-sawah serta hutan di kanan kiri jalan membuat perjalanan serasa menyenangkan. Hingga akhirnya setelah menempuh perjalanan selama 1,5 jam akhirnya rombongan tiba di situs purbakala Sangiran. Nampak sebuah gapura yang berbentuk seperti gading gajah menyambut kami. Suasana masa purba langsung terasa. Hal ini membuat semangat rombongan untuk segera mengadakan pengamatan semakin besar.

Gapura Museum Sangiran ( foto : Koleksi Pribadi)

Setelah mengikuti proses administrasi di bagian Humas Museum Purbakala Sangiran, maka kegiatan segera dimulai. Kelompok sejarah dan geografi mulai menyebar di lokasi masing-masing. Untuk kelompok sejarah siswa dipandu oleh petugas museum. Sedangkan kelompok geografi dipandu oleh ibu Hikmawati Maria Kusumawardhani. Masing-masing kelompok mulai mengamati hal-hal yang berkaitan dengan sejarah maupun geografi.

Sangiran merupakan situs prasejarah yang berada di kaki gunung lawu, tepatnya di depresi Solo sekitar 17 km ke arah utara dari kota Surakarta dan secara administratif terletak diwilayah Kabupaten Sragen dan sebagian terletak di kabupaten karanganyar, propinsi Jawa Tengah. Luas wilayah 56 KM yang mencakup tiga kecamatan di kabupaten Sragen. Surat keputusan Menteri Pendidikan & Kebudayaan NO 070/0/1977, Sangiran ditetapkan sebagai cagar budaya dengan luas wilayah 56 KM, dan selanjutnya Sangiran pada tahun 1996 oleh UNESCO ditetapkan sebagaiWorld Heritage dengan nomor 593.

Mau tahu bagaimana hasil pengamatan dari masing-masing kelompok ? Ini dia hasilnya….

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN