Roesda Leikawa
Roesda Leikawa Staff Konsultan di PSD GSC Maluku

Menghargai Persahabatan dengan siapa saja tanpa melihat latar belakangnya, Aktivis sosial, menulis, dan berpuisi adalah kesenangan yang sangat berharga.

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup highlight headline

Gara-gara Tak Punya Batik, Hampir Saja Batal Ketemu Presiden

3 Oktober 2017   00:44 Diperbarui: 3 Oktober 2017   14:06 3477 8 2
Gara-gara Tak Punya Batik, Hampir Saja Batal Ketemu Presiden
Foto Bersama dengan Bapak Presiden : diantara Kompasianer berbaju Batuk

Seperti yang kita ketahui bahwa tanggal 2 Oktober merupakan Hari Batik Nasional, hal ini berdasarkan keputusan UNESCO yaitu Badan PBB yang membidangi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan, mengakui secara resmi batik Indonesia sebagai warisan budaya.

Tahun ini ucapan Selamat Batik Nasional menjadi trending topic, pantauan saya mulai dari halaman Facebook, twitter, Instagram sampai pada WhatsApp, banyak yang menggunakan tagar #Batik. Bisa dibilang sebagian besar masyarakat Indonesia tidak hanya sekedar memakai batik, tapi benar-benar mengimaninya sebagai bentuk rasa cinta terhadap warisan budaya bangsa.

Nah bicara soal batik, saya jadi ingat dua tahun lalu, saat 100 penulis Kompasiana di undang oleh Presiden RI Bapak Joko Widodo, untuk jamuan makan siang, waktu itu bertepatan dengan ajang bergensi Kompasiana yakni Kopidarat terbesar para Blogger atau Kompasianival tahun 2015. Saya adalah salah satu dari 100 orang tersebut, memang tidak mudah untuk mendapatkan undangan langsung dari Istana, tapi saya bersyukur karena menjadi salah satu pilihan diantara pilihan-pilihan lainnya.

Menerima Undangan Jamuan Makan Siang Dari Istana Negara
Menerima Undangan Jamuan Makan Siang Dari Istana Negara

Namun, semua Kompasianer yang mendapat undangan itu diwajibkan untuk memakai batik, wah.. ini menjadi masalah buat saya, karena saat itu baru tiba di Jakarta dan tidak membawa baju batik dari Ambon, Baca Pertemuan di Istana disini.

Sementara informasi yang saya terima dari mas Nurul Uyuy sudah malam dan besok pagi pukul 09.00 WIB harus hadir dengan menggunakan batik serta bawahanya hitam, bahkan tidak di perbolehkan memakai Jeans. Beruntunglah saat itu saya membawa "Baju Cele" berwarna pink, baju khas Ambon, sehingga diijinkan untuk mengikuti jamuan makan siang di Istana Presiden, ya..hitung-hitung sekalian saja mempromosikan baju khas daerah di Istana Presiden.  Andaikan saat itu, saya tidak membawa baju Ambon, mungkin saja saya dibatalkan.

Mendapat Kesempatan Menyampaikan unek-unek di depan Presiden
Mendapat Kesempatan Menyampaikan unek-unek di depan Presiden

Kenapa Masuk Istana Presiden Harus Memakai Batik?

"Kenapa masuk Istana Presiden harus memakai batik? Padahal waktu itu bapak Presiden sendiri menggunakan baju khasnya yang berwarna putih..!!", Biar tidak penasaran, mestinya saya harus bertanya langsung, pada saat saya diberi kesempatana untuk berbicara dihadapan Pak Jokowi, hehehe...Ach.. sudahlah, ini hanya pertanyaan konyol. 

Diantara Para Kompasianer Berbaju Batik
Diantara Para Kompasianer Berbaju Batik

Sebenarnya saya sangat setuju untuk aturan keharusan memakai batik atau baju khas daerah pada acara-acara resmi, hal ini sebagai bentuk rasa cinta terhadap produk Indonesia serta upaya pelestarian tradisi dan warisan budaya, sebagaimana yang dicatat oleh UNESCO pada tanggal 2 Oktober 2009 lalu, menetapkan budaya batik sebagai "Warisan Kemanusiaan Untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi"  (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity),sejak saat itulah ditetapkanlah tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional.

Selamat Hari Batik

Salam

Roesda Leikawa- Kompasianer Amboina