Humaniora Artikel Utama

Wahai "Pengojol", Jadilah Agen Disiplin Berlalu Lintas

13 Maret 2018   00:05 Diperbarui: 13 Maret 2018   11:11 524 3 3
Wahai "Pengojol", Jadilah Agen Disiplin Berlalu Lintas
Sejumlah pengojol naik trotoar, pelanggan sepertinya asyik-asyik aja (kredit: IG Koalisi Pejalan Kaki)

Baru sekali naik ojek online (ojol), saya sudah bikin sang pengojol (driver ojol) pucat pasi. Bukan karena saya todong. Tapi alih-alih saya menyuruh dia melanggar lalu lintas (lalin) biar cepat sampai, saya malah menjawil-jawil pundaknya sambil teriak (untuk mengalahkan suara bising lalin dan kupingnya yang ketutup helm) agar dia tertib saja.

Waktu itu, laju kami tersumbat karena ada kereta api mau lewat. Tanpa sedikit pun merasa bahwa itu salah --seakan kalo pakai motor lalu melanggar lalin itu sudah mengalir dalam darahnya-- dia main ambil jalur yang melawan arus aja.

"Saya malu tauk!!" seru saya di samping kuping kirinya.

"Biar cepat Bu!"

"Saya gak butuh cepat-cepat!"

Dia diam.

Seorang pengojol "membuntuti" dua pedestrian. Sudah naik ke trotoar, melawan arus juga (kredit: IG Koalisi Pejalan Kaki)
Seorang pengojol "membuntuti" dua pedestrian. Sudah naik ke trotoar, melawan arus juga (kredit: IG Koalisi Pejalan Kaki)
Kenapa saya malu? Di pintu kereta api yang sama, jika sedang menggunakan kendaraan roda empat, angkot maksudnya, saya sering menyumpahi (di dalam hati) motor-motor yang memenuhi lajur yang melawan arah. Kadang saking berjibunnya jumlah mereka, biasanya saat jam-jam pergi dan pulang kantor, mereka sudah mirip hama saja, hama penggerek jalan.

Sesampainya di tujuan, saya kembali menegur dia agar tertib saja. Reaksinya agak di luar dugaan. Dengan wajah menunduk, tengok sana tengok sini, pokoknya tak mau menatap saya, dia memberi diskon atas ongkos yang telah disepakati. Tadinya saya heran. Saya cuma menegur biasa saja, bak seorang guru pada muridnya, kok dia seperti syok begitu.

Setelah dia pergi, saya menyadari, kelihatannya dia takut diberi rating jelek. Padahal akhirnya teman saya yang memesankan ojol buat saya, tetap memberi rating "good". Ya sudahlah, setidaknya dengan mencoba memberi diskon, dia berarti sudah mengaku salah.

Begitulah, saya baru sekali naik ojol, dipesankan pula, eeh sudah melanggar. Bagaimana kalau sering dan butuh cepat? Mungkin lama-lama kompromis juga pada kelakukan ojol dan pemotor pada umumnya, apalagi kalau butuh cepat.

Sekilas membaca satu tulisan mengenai ojol, ternyata banyak pelanggan kompromis pada pelanggaran yang dilakukan ojol, bahkan pelanggannya juga yang menyarankan pelanggaran itu dilakukan.

Kalau naik motor sama-sama terdampak jalanan yang macet, apa bedanya dengan naik mobil. Begitulah tampaknya bunyi pembenaran para ojol (atau pemotor umumnya) dan para pelanggannya.

Alhasil, ojol naik ke trotoar, pelanggan diam. Melawan arus, pelanggan juga diam. Naik ke trotoar dan melawan arus, diam juga. Seakan-akan, motor di negeri ini memang terlahir untuk melanggar. Kalau tak melanggar, jadi aneh sendiri.

Mekanisme sanksi dari operator ojol sebenarnya ada. Buktinya, ojol yang saya tumpangi sampai galau begitu. Tapi saya tak yakin penumpang ojol yang rese macam saya terhadap pelanggaran lalin, jumlahnya banyak (kabari saya kalau banyak). Level kedisiplinan warga negeri ini memang bikin frustrasi. Tak hanya soal lalin, tapi juga sampah misalnya.

"Manual suspend"

Jika melihat aturan tertulis dari satu situs perusahaan ojol, daftar sanksi atas pelanggaran yang dilakukan driver (termasuk untuk taksi online) disusun cukup detil. Misalnya untuk kasus saya, dalam daftar yang diberi judul "manual suspend" tersebut, masuk ke poin ke-4, yakni "tidak menaati aturan lalin". Sanksinya: suspend satu hari kerja. Jika terakumulasi suspend ditambah jadi tiga hari kerja.

Saya cukup memahami kenapa pengojol yang menjemput saya tampak cemas. Kita tahu, banyak pengojol yang tidak memiliki pekerjaan lain. Bahkan seorang yang sudah menduduki posisi manajer di perusahaan pun ada yang rela resign dan fokus menjadi pengojol. Maka suspend satu hari kerja mungkin akan berdampak pada setoran kepada istri yang macet. Trus, jadi gak berani pulang.

Pada daftar "manual suspend" itu, sanksi terberat adalah putus mitra dan sisa deposit akan diberikan. Ini antara lain untuk kasus pengojol yang terlibat tindak kriminal.

Sanksi tersebut belum termasuk aturan terkait rating. Rating, sebut situs ojol tersebut, adalah penilaian yang diberikan pelanggan atas layanan dan performa yang diberikan pengojol.

"Namun, tahukah Anda kegunaan dari rating? Kegunaan rating adalah untuk menentukan tingkat performa Anda, dan apabila rating Anda di bawah 4,3 maka Anda akan mendapatkan sanksi yaitu putus mitra sesuai yang tercantum dalam 'Jenis-jenis Pelanggaran'," tulis situs perusahaan ojol tersebut yang ditujukan bagi mitranya, seraya menunjukkan bahwa rating rata-rata pengojolnya adalah 4,8.

Jika sanksi tersebut tegas diterapkan oleh perusahaan ojol, akan menjadi tak mengherankan jika banyak pengojol menjadi galau, lalu menebar diskon kepada pelanggan; semacam suap.

Nah mekanisme sanksi sudah ada untuk mendisiplinkan pengojol, tapi jadi sulit kalau pelanggan juga permisif pada pelanggaran lalin yang dilakukan mereka. Kalau seperti ini terus, entah kapan lalin negeri ini bisa lebih beradab, sedikiit saja.

Padahal idealnya, dengan adanya mekanisme sanksi itu, seharusnya para pengojol malah bisa sekaligus merangkap sebagai para agen disiplin lalin. Hhhh... mimpi yang sulit terbeli***