Fajrin Al Khomsa
Fajrin Al Khomsa

Seorang Indonesia yang menolak dijajah dalam bentuk apapun

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup

Prabowo Memang Marah, Kami Rakyatpun Juga Marah Saat Media Menjadi Antek Penghancur NKRI

6 Desember 2018   15:22 Diperbarui: 6 Desember 2018   15:35 997 2 0
Prabowo Memang Marah, Kami Rakyatpun Juga Marah Saat Media Menjadi Antek Penghancur NKRI
https://orangindonesiabahagia.blogspot.com/2018/12/prabowo-memang-marah-kami-rakyatpun.html

Bagaimana tidak, upaya mengghancurkan bisa dilakukan juga oleh media saat menanggalkan jati diri sebagai penerangan dan sumber-sumber kebenaran bagi rakyat. Dulu saat sebelum rezim ini akhirnya mengambil alih, sekelompok orang menebar ketakutan bahwa bila bukan mereka yang berkuasa, akan datang kembali masa dimana media, jurnalis, dan segala bentuk informasi akan dikendalikan kekuasan. 

Sehingga rakyat tak lagi dapat melepas dahaga informasi dan kebenaran. Kenyataannya, semua ketakutan akan pengekangan media yang lantas menjadi alat corong kekuasaan dan menyembunyikan potongan-potongan kebenaran benar terwujud hingga detik ini.

Sebuah bukti bahwa kekuasaan lantas mengekang kebebasan media untuk menjadi objektif ialah saat sekelompok orang berseragam partai menggeruduk kantor berita yang memberitakan kenikmatan pemimpin mereka saat menerima uang rakyat tanpa berbuat apa-apa bagi negara. Masa datang dengan memaki dan mengancam. 

Soal 112 juta dan ongkang-ongkang kaki, masa PDIP mengguncang dunia jurnalstik dengan gaya membela Megawati. Begitukah itu cara dalam menjamin kemerdekaan berpendapat yang mereka maksud. Aksi itu tak ubahnya bagai teror untuk menakut nakuti media atau jurnalis lain yang ingin tetap meyuarakan nurani dan tidak menjilat demi makan.

Lain lagi dengan Ahok, dirinya juga komplain saat merasa dirinya disudutkan dan dianggap tidak jujur oleh awak media. Saat merasa pribadinya diserang lantas Ahok dengan jelas mengatakan untuk wartawan tersebut  lain kali tidak usah masuk lagi kekawasan kerjanya saat itu. Dengan gaya khas dan mimik wajahnya yang pasti hampir semua dari kita paham betul bentuknya, ya, marah-marah ala Ahok yang sangat khas serta tipikal sekali. 

Dengan mengibaratkan adagium cahaya fajar yang lantas saat ia berbalik direspon dengan cengiran awak media yang ada disana kala itu.

Kemudian kemarin ramai-ramai media partisan yang sudah dicap oleh rakyat sebagai corong kekuasaan rezim yang kerap bahkan menjadi musuh masyarakat mencoba menyajikan lagi kreasi komersil mereka yang buat rakyat geleng-geleng kepala. Prabowo Marahlah, menghina wartawan lah, bla bla bla dengan narasi yang seperti biasa, dipenggal-penggal dan dipelintir. 

Memang Prabowo marah. Tentu saja berbeda kelasnya dengan Ahok, pak Prabowo marah bukan karena pribadinya disudutkan, sudah biasa bagi beliau, dari beliau masih muda hingga perjuangannya kini pak Prabowo santai saja dan selalu mengguyoni ulah-ulah para antek bertopeng media itu. Marahhnya seorang Prabowo yang beliau sampaikan kemarin adalah karena media sudah mengorbankan hak rakyat, sudah jauh meninggalkan pesta pora media pasca reformasi, kini media seakan menenggelamkan diri mereka dalam jalan yang jauh dari rakyat.

Dibeberapa kesempatan pak Prabowo selalu mengguyoni awak media yang sedang meliput kegiatannya dengan meledek wartawan-wartawan itu sedang nunggu bapak salah bicara, sedang nunggu bahan untuk dipelintir. Bagi saya ini adalah satire dari seorang yang teramat cerdas seperti pak Prabowo, beliau paham betul, anak-anak bangsa yang sedang ditugaskan untuk menunggu celah demi menjelekkan beliau adalah anak bangsa yang juga sedang beliau perjuangkan.

Marahnya pak Prabowo adalah marah akan ketidakberesan raksasa dari dunia media tanah air. Saya ada disana saat itu, saya juga sedang menghadiri peringatan Hari Disabilitas Internasional ke-26 kemarin saat pak Prabowo mengungkapkan hal yang saya tangkap dengan artian betapa memalukannya kita sebagai bangsa besar yang menganut demokrasi tapi media dan jurnalisme sudah menjual diri kepada kekuasaan. 

Berada ditengah saudara-saudara kita penyandang disabilitas yang tengah berjuang untuk kehidupan yang lebih baik, saya berpikir dan paham betul agaknya bagaimana perasaan pak Prabwo saat itu. Dihadapan pejuang-pejuang keadilan dan kesetaraan kemarin, saya saja dapat merasakan bahwa masih banyak ketidak adilaan dan ketidakberpihakan pada banyak saudara-saudara kita. Kemudian hal itu disampaikan pak Prabowo juga dalam ketidakadilan dan ketidak berpihakan media dan jurnalisme tanah air pada rakyat.

Saat banyak orang yang terakhir dikabarkan sebanyak 14jutaan orang menghadiri sebuah gerakan kemanusiaan tidak dikabarkan sedikitpun oleh media-media yang harusnya memberikan kebutuhan informasi yang dapat dijangkau oleh rakyat Indonesia yang tinggal di bentangan ribuan gugusan pulau, malah nurut saja dibungkam yang ketakutan kehilangan kekuasaan. Media menutup mata, menejanlangi diri sendiri, dan berkhianat pada jiwa dan roh dari fungsi media itu.

Lalu apakah dengan keadaan begini kita hanya harus pasrah saja? Bukan perkara main-main saat pernyataan media sudah menjadi antek-antek orang yang ingin menghancurkan Republik Indonesia akhirnya keluar. Sudah banyak kasusnya didunia, dan bahaya laten dari media yang menjadi alat dan corong kekuasaan dzolim dan dengan bebas menebar kebohongan dan menutupi banyak hal baik. Ini kenapa diawal tadi saya sebut sejumlah media partisan sudah benar-benar dimusuhi dan nyata diboikot oleh rakyat. Karena mereka hanya menjual banyak kebohongan dan fitnah yang membuat eneg rakyat berakal sehat.

Kemudian bila kita bicara nurani, mengingat keprihatinan akan kesejahteraan para pewarta yang pernah diungkapkan pak Prabowo saya jadi berpikir dan mencoba menempatkan diri bila saya adalah rekan-rekan jurnalis yang sedang bekerja di media partisan yang hanya punya satu kode etik, UANG. Mungkin bila para awak media itu bisa curhat langsung ke pak Prabowo, banyak sekali keluh kesah yang akan mereka sampaikan. Layaknya beberapa perkumpulan profesi yang menjumpai pak Prabowo untuk melakukan diskusi terkait perkembangan, permasalahan dan kemajuan bidang yang mereka geluti. Besar kemungkinan rekan-rekan wartawan ini akan curhat atas tekanan yang bagi saya bisa dikatakan tidak manusiawi dalam pekerjaan mereka. Saya masih yakin tidak semua dari wartawan-wartawan itu menikmati proses mereka menebar ketakutan, kebohongan dan fiitnah. Masih ada nurani-nurani yang tersandra kepentingan bos-bos mereka.

Yang memang mencintai jurnalistik sebagai jalan hidupnya pasti sadar betul kebobrokan media direzim ini. Jurnalis yang paham betul etika pekerjaan dan bidang mereka pasti resah dan ingin berontak setiap kali harus melupakan akal, meninggalkan nurani hingga menggadai kebenaran. Bisa karena tuntutan ekonomi, bisa karena tekanan lain yang kita orang diluar jurnalistik tidak ketahui. Untuk waratawan yang akhirnya masuk kehidupan media karena tidak ada pilihan lain dan hanya itu kesempatan yang ia punya untuk mencari nafkah pasti juga kan gelissah saat sudah bertentangan dengan hati, nurani dan akal pikirannya. Dengan itu kita semua setuju bahwa memang sulitnya memperbaiki kehidupan karena perekonomian dan lapangan pekerjan yang hanya secuil adalah kenyataan yang tidak terbantahkan dari lemahnya rezim ini yang hanya memiliki kemampuan menipu lewat antek-antek penghancur NKRI. Prabowo cinta negerinya, dia marah, saya juga marah, semua yang benar mencintai dan tidak akan pernah ikhlas negeri ini dihancurkan demi kepuasan segelintir orang dan pengkhianat pasti akan marah.

Marah karena tidak mau membiarkan Indonesia yang kita amat cintai ini jadi tanah dan air yang nanti tidak ramah lagi bagi generasi selanjutnya.